Piter Yanto sedang memberi makan ikan patin yang ia budidaya di Woloweku KM 5 Kota Ende

Ende, Ekorantt.com – Piter Yanto (44 tahun), warga Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende memiliki usaha budidaya ikan patin. Ia memulainya tiga tahun lalu.

Yanto, begitu ia disapa, membudidayakan ikan patin pada 16 kolam permanen berukuran 5 x 7 meter di Woloweku KM 5 Kota Ende. Usaha budidaya ikan patin miliknya adalah satu-satunya di Kabupeten Ende. Walau belum terkenal di kalangan masyarakat umum, Yanto sangat telaten menekuni usaha budidaya ikan patin.

Kini, Yanto memiliki ribuan ikan patin siap panen. Jumlahnya mencapai tiga ton.

“Memang pemasarannya agak sulit, karena banyak yang datang pesan ikan lele. Itu karena ikan lele lebih murah. Kalau ikan patin belum banyak yang berminat,”katanya.

Yanto mengakui, keputusan budidaya ikan patin adalah semata-mata untuk melayani kebutuhan warga Kabupaten Ende. Pelan-pelan masyarakat Kabupaten Ende, khususnya warga Kota Ende mulai menggemari ikan patin.

“Ikan patin ini ikan paling enak untuk jenis ikan air tawar selain ikan jerami. Saya masih jual secara lokal. Itu juga belum banyak yang tahu. Kalau soal persediaan sekarang bisa 3 ton yang siap panen. Mungkin karena harganya agak mahal sehingga belum banyak yang beli,”akuinya.

Untuk harga, lanjut Yanto, sejauh ini satu kilogram ikan patin dibanderolnya dengan harga 50 ribu rupiah. Dalam satu kilogram terdapat 2 hingga 3 ekor ikan patin. Hal ini dikarenakan ikan patin memiliki berat 400 hingga 600 gram setiap ekornya.

“Ikan ini agak lebih mahal karena memang selain lebih enak juga banyak kegunaan untuk protein dan penyembuhan kesehatan. Kalau ikan lele lebih banyak yang beli karena memang dalam satu kilogram bisa 6 hingga 8 ekor,” jelasnya.

Walau belum banyak pembeli, Yanto tetap optimis. Ia yakin usaha budidaya ikan patin miliknya bakal menguasai pasar pada masa mendatang.

“Saya tetap jalani usaha ini. Investasinya sudah besar dan tidak bisa mundur lagi,”ujarnya.

Budidaya ikan patin memang membutuhkan ketekunan dan keuletan. Selain modal, butuh perhatian khusus dalam pengelolahannya. Untuk bibit ikan, Yanto membelinya dari Siduarjo, Provinsi Jawa Timur. Demikian juga dengan persediaan makanan ikan, ia datangkan dari Jawa.

“Itu bibit dan makanan ikan saya pesan langsung dari Sidoarjo. Sekarang hanya fokus pada pemasarannya. Saya terima kasih, om mereka bisa datang ke sini dan sudah bantu promosi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here