Makassar, Ekorantt.com – Puluhan tahun lamanya Hercules meninggalkan kampung halamannya di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, untuk merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu, ia membangun hidup dari nol hingga akhirnya dikenal sebagai pedagang buah.
Setiap hari, Hercules menjajakan Alpukat Mentega khas Maumere menggunakan sebuah mobil pikap berwarna putih yang diparkir di pinggir jalan.
Kendaraan sederhana itu menjadi saksi perjalanan usahanya yang tumbuh dari kerja keras dan ketekunan.
Di balik ramainya lapak dagangannya, tersimpan kisah perjuangan panjang menghadapi keterbatasan modal sebelum usahanya berkembang seperti sekarang.
Kisah Hercules menjadi salah satu potret perjuangan pelaku usaha mikro yang berhasil bangkit berkat akses permodalan. Cerita tersebut dibagikan melalui akun Facebook KSP Kopdit Pintu Air.

Sebagai perantau asal Maumere yang telah menetap di Makassar selama puluhan tahun, Hercules sempat menghadapi persoalan yang lazim dialami pelaku usaha kecil, yakni keterbatasan modal untuk mengembangkan bisnis.
Kesempatan itu datang setelah ia bergabung sebagai anggota KSP Kopdit Pintu Air. Melalui koperasi tersebut, Hercules memperoleh akses pembiayaan yang digunakan untuk mengembangkan usaha penjualan buah, terutama Alpukat Mentega khas Maumere.
Perlahan, usahanya terus bertumbuh. Buah yang dipasarkannya semakin dikenal masyarakat. Pada musim penjualan yang ramai, seperti bulan Ramadan, omzet yang diraihnya bahkan mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per hari.
Kopdit Pintu Air menyebut kisah Hercules menjadi bukti bahwa kerja keras yang didukung kesempatan dan akses permodalan dapat membuka jalan bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Melalui berbagai layanan pembiayaan dan pendampingan, KSP Kopdit Pintu Air menyatakan terus berkomitmen mendukung anggotanya agar mampu mengembangkan usaha serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.
