Ruteng, Ekorantt.com – Sejumlah siswa tampak duduk di sekitar meja dan bangku terbuat dari kayu sederhana.
Sesekali mereka berdiri. Beberapa meja disusun memanjang serta sejajar menghadap ke arah papan tulis.
Di bawah bentangan terpal putih, mereka tengah mengikuti pembelajaran. Seorang guru sambil berdiri mendampingi mereka dari depan kelas.
Mereka adalah guru dan siswa Sekolah Dasar Katolik Sante, berlokasi di Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
“Kami sudah satu bulan satu minggu belajar di tenda darurat,” kata Simon Obianus O. Mado, salah seorang guru kepada Ekora NTT pada Sabtu pagi, 3 Oktober 2026.
Ia berkata, pembelajaran di tenda darurat dimulai setelah terjadinya gempa utama pada Agustus lalu. Beberapa gedung di sekolah rusak.
Sekolah ini memiliki 80 siswa yang terbagi dalam dua rombongan belajar. Namun banyaknya siswa dan rombongan kelas tidak sesuai dengan jumlah tenda yang sudah tersedia.
“Hanya dua tenda darurat, bantuan PMI (Palang Merah Indonesia),” sebutnya.
Para guru kemudian membagikan satu tenda dibagi menjadi dua ruang kelas. Karena itu, sekolah menerapkan sistem bergantian berdasarkan kelas dan hari.
Setiap kelas mendapatkan kesempatan belajar di tenda darurat dua kali dalam seminggu, katanya.
Kata Simon, “kami membutuhkan empat ruang belajar lagi.”
Ia bilang, keterbatasan jumlah tenda membuat jam belajar siswa di sekolah berkurang.
Sekolah juga belum mengajukan penambahan tenda darurat kepada pemerintah. “Kami butuh enam tenda dan satunya untuk posko,” harapnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai pada Sabtu, 26 September, mencatat sebanyak 380 fasilitas pendidikan rusak akibat gempa, baik rusak ringan, sedang hingga rusak berat.
Kini pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih fokus pada verifikasi faktual terhadap fasilitas umum, kesehatan, rumah dan fasilitas pendidikan.
Data kerusakan tersebut masih bersifat sementara mengingat gempa susulan yang masih terjadi sampai saat ini.
Jangan Sampai Kehilangan Kesempatan Belajar
Siswa tidak boleh kehilangan kesempatan belajar pascagempa, kata Robert Na Endi Jaweng, anggota Ombudsman RI.
Dalam pemantauannya di lokasi bencana, masih terdapat banyak sekolah yang masih kekurangan tenda untuk digunakan kelas darurat.
“Tenda itu ukurannya tidak terlalu panjang,” ungkapnya.
Dengan kondisi tenda yang ada, Endi Jaweng khawatir bila terjadinya hujan dan angin kencang. Tendanya pasti roboh.
Ia mengatakan, perhatian di pendidikan sangat penting, tidak boleh mengorbankan masa depan anak-anak.
“Perhatian itu tetap harus diberikan agar mereka tidak terjadi learning loss itu, kehilangan fase pembelajaran yang membuat kemudian mereka ke depan tidak pasti dalam soal mutu dan sebagainya.”
Sejauh pengamatannya, tenaga pendidik dan guru masih dalam posisi semangat menjalani proses belajar dan mengajar, namun fasilitasnya harus ditambah.
Beberapa temuannya, ketersediaan tenda tidak sesuai jumlah siswa di sekolah. Sekolah terpaksa menerapkan sistem bergantian berdasarkan kelas dan hari.
Karena itu, ia meminta pemerintah untuk penambahan tenda di sekolah-sekolah.
“Jadi, dalam satu jam yang sama itu secara umum ada tiga kelas yang kemudian mendapatkan proses belajar dan mengajar. Satu sama lain pasti saling kedengaran karena dekat, dan tendanya kan tidak ada sekat,” kata Endi.
Menanggapi itu, Andi Eviana, Deputi Bidang Logistik dan Peralatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkata, negara memang hadir harus betul-betul untuk masyarakatnya.
“Jadi hasil monitoring dan evaluasi Ombudsman dengan tim ini, memberikan gambaran kepada kita, bahwa memang penanganan darurat bencana tidak boleh dilaksanakan hanya untuk satu orang saja, tetapi terlibat dengan seluruh,” tuturnya.













