Larantuka, Ekorantt.com – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sandamai di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terpilih menjadi salah satu dari dua lembaga pendidikan non formal di Indonesia Timur sebagai sekolah model nasional.
Prestasi yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menambah semangat PKBM Sandamai di Desa Kobasoma, Kecamatan Titehena. Ada sembilan guru atau tutor dengan 130 anak didik jenjang paket A, B, dan C.
“Ini kebanggaan yang luar dan menjadi harga diri bagi PKBM Sandamai. Lembaga ini bukan kelas dua, di sini sudah diakui sebagai sekolah model nasional,” kata Simon Makin, Sekretaris Dinas (Sekdis) Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Flores Timur pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Simon berkata, sekolah swasta PKBM Sandamai yang terakreditasi B terus dipantau pemerintah pusat karena kinerjanya menonjol dalam proses pembelajaran. Secara nasional, terdapat 29 sekolah kesetaraan yang terpilih dari puluhan ribu sekolah.
“Perkembangan yang begitu bagus, di sini mandiri penuh, kenapa jadi model? Karena tata kelolanya dilaksanakan secara penuh di lembaga ini. Pusat melihat dan menentukan, dia (PKBM Sandamai) punya sesuatu,” kata Simon.
Simon mengatakan, PKBM Sandamai juga mendapat alokasi dana revitalisasi untuk pembangunan sembilan kelas belajar mengajar dilengkapi fasilitas pendukung.
Ia mengapresiasi kepala sekolah, delapan tenaga guru dan tutor, serta memotivasi 130 peserta didik agar meningkatkan semangat belajar.
“Jadi sekolah model, maka tahun ini pemerintah pusat memberikan ‘kue’ berupa revitalisasi, yaitu akan dibangun ruang kelas beserta kelengkapannya,” ucapnya.
Simon menambahkan, Dinas PKO Flores Timur selalu berdiri bersama PKBM Sandamai untuk memberikan pendampingan agar pada saatnya memperoleh akreditasi A.
Kepala PKBM Sandamai, Romanus Nuho Wato, mengatakan pihaknya tidak menyangka bakal terpilih menjadi sekolah model nasional.
Romanus mengaku prestasi itu menjadi kado terbaik selama sekolah itu didirikan 11 tahun silam, yakni 20 Mei 2015 melalui SK Pendirian Nomor: PPO.420/346/PLS.1/2015.
“Kami tidak pernah membayangkan apalagi berharap bahwa akan menjadi salah satu dari 29 sekolah di Indonesia. Tiba-tiba saja kami diberi surat dari kementerian, bahwa PKBM Sandamai terpilih,” katanya.
Romanus memaparkan syarat atau kriteria sekolah model, yakni minimal terakreditasi B, menyelenggarakan pendidikan kesetaraan dari paket A, B, dan C, pernah mengikuti kegiatan pembelajaran mendalam (PM).
“Saat kami di Larantuka, BGTK (Balai Guru dan Tenaga Kependidikan) Provinsi NTT bilang kalau satu-satunya sekolah non formal dari NTT itu ada di sini, PKBM Sandamai,” katanya.
Dalam pelaksanaan program sekolah model, PKBM Sandamai menggelar showcasing dan diseminisasi dengan menghadirkan sejumlah pihak, yakni kepala sekolah dan guru di Flores Timur, pemerintah desa, dan para tokoh masyarakat.
Dalam showcasing, peserta didik menggelar beragam karya seni hasil praktik baik mereka selama belajar di sekolah tersebut. Ada rak besi untuk atribut dekorasi, tas berbahan sarung, dan bunga plastik.
Guru PKBM Sandamai, Yeremias Lake Hodo, mengatakan praktik baik itu merupakan aplikasi dari pembelajaran kewirausahaan. Pihaknya menangkap peluang di lingkungan sekitar, salah satunya kebiasaan pesta orang Flores.
“Di pesta orang butuh dekorasi, jadi kami di sini coba membuat perlengkapan dekorasi dan ini bisa jadi peluang usaha yang bagus,” katanya.
Mengikis Stigma Sekolah Paket
Yeremias menepis anggapan banyak pihak yang menaruh stigma negatif terhadap sekolah paket. Ia berkata, PKBM Sandamai sebagai sekolah kesetaraan menjalankan fungsi pendidikan secara terstruktur hingga bisa berdaya saing dengan sekolah formal.
“Kami di sini bukan mendidik yang gagal di sekolah formal. Proses pembelajaran kami secara profesional, mulai dari tatap muka di sekolah sampai kepada tugas dan kunjungan rumah,” jelasnya.
Seorang guru, Adrianus Yoyan Kroit Mehan, menceritakan pengalaman saat melakukan home visit atau kunjungan rumah. Ada banyak pihak melabeli sekolah paket sama halnya membeli ijazah.
Stigma tersebut berdampak kepada calon peserta didik. Adrianus pernah menerima pesan permintaan menjadi peserta didik namun enggan berproses di PKBM Sandamai.
“Kami menolak hal itu, saya kemudian bilang ke yang bersangkutan, kalau kami pakai cara seperti itu, maka kami sudah kaya dari dulu. Tetapi untuk apa berbuat begitu,” kisahnya.
Leonardus Kedang, 57 tahun, peserta didik, mengaku sekolah kesetaraan menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Selain berteori sesuai kurikulum, siswa juga dibekali praktik baik.
“Di sini kami dididik menjadi siswa yang punya keterampilan, kami yakin bahwa kami juga bisa bersaing,” katanya. Ia adalah siswa tertua di PKBM Sandamai.
Leonardus menjadi salah satu siswa teladan dan paling rajin datang ke sekolah. Ia juga tidak meninggalkan tugas dan arahan guru, meski usia sejumlah tenaga pendidik di sana setara dengan anak kandungnya.
“Saya juga selalu ajak anak-anak yang putus sekolah di kampung saya untuk daftar dan sekolah di sini. Saat saya ke sekolah, saya muat mereka dengan pickup tanpa dibayar,” tuturnya.
Penulis: Paul Kabelen













