Bekasi, Ekorantt.com – Avanti Fontana,
hadir sebagai salah satu pemateri dalam dialog ‘peluang dan tantangan Kopdit Pintu Air’ yang diselenggarakan dalam rangka peresmian Kopdit Pintu Air Cabang Kampung Sawah, Bekasi pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Avanti Fontana sendiri adalah dosen, trainer, dan konsultan manajemen inovasi serta kewirausahaan.
Dalam materinya, Avanti berkata, kewirausahaan koperasi perlu dipandang sebagai proses bertahap, bukan ekspansi yang dilakukan secara terburu-buru.
Tahap pertama adalah mengidentifikasi peluang berdasarkan kebutuhan anggota dan kondisi pasar.
Tahap kedua adalah menyiapkan sumber daya, termasuk modal yang layak, sumber daya manusia, teknologi, mitra, dan tata kelola.
Tahap ketiga adalah merancang dan menguji inovasi melalui rencana bisnis, proyek percontohan, pembelajaran, dan perbaikan.
“Pada tahap ini, koperasi perlu membuktikan adanya permintaan pasar sekaligus kemampuan menjalankan usaha secara efisien,” kata Avanti.
Tahap keempat adalah membangun keunggulan bersaing, antara lain melalui kualitas, efisiensi biaya, akses pasar, jaringan, serta kepercayaan.
Tahap kelima adalah memastikan bahwa nilai yang tercipta kembali memberi manfaat kepada anggota, baik dalam bentuk peningkatan pendapatan, penciptaan pekerjaan, pertumbuhan usaha, maupun dampak sosial.
Dengan demikian, kata Avanti, keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari jumlah usaha baru yang dibentuk, melainkan dari manfaat nyata dan berkelanjutan yang dihasilkan bagi anggota.
Avanti juga mengangkat mengangkat pengalaman Mondragon di Spanyol sebagai pembelajaran mengenai hubungan antara koperasi, pembiayaan, dan pengembangan usaha produktif.
Pelajaran yang ditekankan, menurut dia, bukanlah meniru struktur kelembagaan Mondragon secara langsung, tetapi memahami proses pengembangan usaha, mengenali peluang, menyediakan sumber daya, mengembangkan inovasi, serta membangun usaha yang mampu berdiri secara berkelanjutan.
Bagi koperasi kredit, kata dia, contoh tersebut menunjukkan pentingnya memilih bentuk usaha yang sesuai, menguji pasar, dan memastikan bahwa manfaat ekonomi maupun sosial dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Menurut Avanti, di tengah peluang inovasi dan pengembangan usaha, perlindungan kepentingan anggota tetap menjadi prinsip utama.
“Transparansi, kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan, pemisahan risiko usaha, audit, dan pengawasan perlu menjadi bagian dari setiap keputusan pengembangan bisnis,” ujar Avanti.
Penggunaan dana anggota tidak dapat secara otomatis diarahkan untuk investasi sektor riil. Sumber modal, mekanisme persetujuan, transaksi afiliasi, pengawasan, dan pelaporan perlu dikaji secara cermat. Demikian pula, rencana pembentukan spin-off membutuhkan penilaian hukum dan regulasi yang spesifik.
Setiap eksperimen bisnis juga perlu memiliki indikator keberhasilan dan batas risiko yang jelas sehingga koperasi dapat memperbaiki atau menghentikan kegiatan apabila hasilnya tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut Avanti mengatakan, pengembangan bisnis yang berkelanjutan memerlukan ukuran keberhasilan yang lebih luas daripada pertumbuhan pendapatan semata.
Indikator dapat mencakup empat bidang utama, yakni anggota, dampak ekonomi, kesehatan organisasi, serta risiko dan pembelajaran.
Partisipasi, retensi, kepuasan, penggunaan layanan, dan peningkatan literasi dapat menggambarkan kualitas hubungan koperasi dengan anggota.
Sementara itu, pertumbuhan usaha anggota, kesejahteraan, dan stabilitas pendapatan dapat menjadi bagian dari pengukuran dampak ekonomi.
Dari sisi organisasi, efisiensi, kualitas portofolio, kompetensi, dan kepercayaan perlu terus diperhatikan, bersamaan dengan kepatuhan, eksposur risiko, keluhan, serta hasil eksperimen.
Menurut Avanti, inovasi model bisnis Kopdit Pintu Air harus diarahkan untuk memperluas manfaat ekonomi dan sosial bagi anggota melalui peluang yang layak, tata kelola yang bertanggung jawab, dan proses pengembangan yang terukur.
“Koperasi yang inovatif tidak harus meninggalkan jati dirinya. Sebaliknya, koperasi dapat memperbarui cara menciptakan nilai, menjaga kepercayaan, serta membangun kesejahteraan bersama dengan tetap menempatkan kepentingan anggota sebagai prioritas,” pungkasnya.
