Larantuka, Ekorantt.com – Warga Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, semakin sulit mendapatkan minyak tanah dengan harga terjangkau yang sesuai harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp5.000 per liter.
Di tangan pengecer, harga minyak tanah dibanderol melampaui HET bahkan tembus Rp9.000 per liter. Padahal, kondisi ekonomi sedang lesu, terlebih lagi bagi warga yang berpenghasilan rendah.
“Kalau beli dari pangkalan itu murah, tetapi kita harus cepat antre karena biasanya minyak tanah langsung habis di sana,” kata Krensesius Ladjar, penyintas Lewotobi yang mengungsi di Huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena, Selasa, 5 Mei 2026.
Ladjar mengatakan, tak ada pilihan selain membeli minyak tanah di pengecer dengan risiko harga yang jauh lebih mahal dari pangkalan resmi. Dengan kuota lima liter untuk bertahan selama satu minggu, stok minyak dari pengecer pun selalu habis lebih cepat.
“Makin sulit dapat minyak tanah, apa lagi dengan harga yang murah. Yang Rp9.000 saja sering habis, apa lagi yang Rp5.000,” kata Ladjar.
Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong, mengakui kesulitan warga mendapatkan minyak tanah.
Salah satu penyebabnya, jelas Tarsisius, Pemerintah Pusat melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah mengunci sistem sehingga menyulitkan Pemkab Flores Timur dalam membuka pangkalan baru demi menjangkau warga hingga ke pelosok desa.
“Di dinas penanaman modal juga belum keluar, dia punya aplikasi OSS (Online Single Submission) belum dibuka,” ujarnya.
Ia mengatakan, terdapat 600-an pangkalan resmi di bawah agen PT Florasol dan Asotim. Dari 19 kecamatan dengan 250 desa dan kelurahan, kuota minyak tanah belum terdistribusi merata ke semua wilayah.
Bahkan, jelas Tarsisius, masih banyak desa yang padat penduduk belum memiliki pangkalan minyak tanah. Warga akhirnya tak kebagian jatah sesuai HET.
“Kita mau buka ke sana tetapi masih terkendala dengan itu (sistem),” tuturnya.
Tarsisius mengingatkan pemilik pangkalan untuk jangan menjual minyak tanah di atas HET. Untuk wilayah daratan Flores Timur dan Solor Barat harga minyak tanah Rp 5.000 per liter, sementara Adonara dan Solor Timur Rp5.500 per liter.
“Kalau pangkalan yang jual di atas harga itu artinya melakukan pelanggaran,” tandasnya.
Penulis: Paul Kabelen













