Terminal di Maumere Memprihatinkan

Maumere, Ekorantt.com – Kondisi Terminal Lokaria dan Terminal Madawat sangat memprihatinkan. Fasilitas penunjang di sana sangat tidak layak.

Kursi-kursi dan rambu-rambu petunjuk sudah dimakan usia. Tak jarang kuris-kursi yang terbuat dari beton semen itu dialihfungsikan menjadi tempat tidur-tiduran masyarakat bahkan sebagai tempat penampung sampah.

Pantauan Ekora NTT, Senin (14/1), kondisi ini nyaris luput dari perhatian otoritas pengelola terminal, yakni Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka.

Menurut pengakuan beberapa masyarakat yang ditemui Ekora NTT belum lama ini, baik terminal Lokaria maupun Terminal Madawat sudah tidak difungsikan sebagaimana layaknya sebuah terminal.

Seringkali lokasi terminal dijadikan sebagai arena perjudian oleh sekelompok orang.

iklan

Bukan hanya itu saja, di dalam lokasi terminal, jarang terlihat kendaraan-kendaraan yang menunggu calon penumpang karena semua kendaraan di parkir di luar terminal, tepatnya di badan jalan negara Ende-Maumere dan badan jalan Maumere-Larantuka.

Mirisnya lagi, para petugas dari Dinas Perhubungan tidak sedikit pun menggubris hal itu. Terkesan mereka membiarkan pemandangan itu sebagai hal yang biasa saja.

Padahal, keberadaan kendaraan yang diparkir di jalanan sangat mengganggu lalu lintas.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan dari dinas terkait. Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan Kabupaten Sikka, Sirilus Wilhelmus terkesan cuek bahkan enggan untuk bertemu dengan wartawan yang mau mengonfirmasi hal ini.

Pesan Whatsapp yang dikirimkan Ekora NTT, Selasa (15/1) hanya dibaca oleh “sang” Kadis tanpa ada balasan.

Salah seorang sopir jurusan Larantuka-Maumere yang namanya tidak mau dikorankan mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung lama.

Menurutnya, hal ini dipicu oleh ketidasktegasan para petugas yang membiarkan mobil-mobil dan para penumpang “berserakan” di luar terminal.

“Kami mau parkir di dalam terminal, tetapi kebanyakan penumpang lebih senang tunggu di luar terminal. Jadi, kami ikut penumpang saja,” ungkapnya.

Mungkin mereka lihat fasilitas di dalam terminal tidak baik. Itu Pak lihat saja. Sampah bertebaran di mana-mana. Bagaimana orang mau nyaman?” tambahnya.

Selain dua terminal itu, masih ada dua terminal bayangan yang ada di dalam Kota Maumere, yakni di area pertokoan Maumere tepatnya di di depan Monumen Tsunami maumere dan di Jalan Gajah Mada tepatnya di depan kantor Indovision.

Terminal bayangan ini seolah menjadi pemandangan yang biasa saja. Tidak ada upaya dari dinas terkait untuk menangani hal ini.

Buntutnya, jalur pertokoan selalu macet dipadati Angkutan Kota Dan Pedesaan (AKDP) tujuan Maumere-Boru-Larantuka. Sama halnya terminal bayangan bagi mobil travel tujuan Maumere-Ende di Jalan Gajah Mada.

Seringkali calon penumpang dibuat sengsara karena belum sempat turun dari motor atau mobil barang bawaan sudah ditarik-tarik oleh sopir atau kondekturnya.

“Kami mau parkir di mana lagi kalau bukan di sini. Kalau parkir di tempat travel yang ada di belakang Gelora Samador, kami mau duduk di mana? Di sana, tidak ada tempat duduk atau bernaung dari sinar matahari. Ya, mau tidak mau harus parkir di sini saja,” ungkap salah seorang sopir travel.

Pernah ada petugas yang datang jaga di sini dan suruh kami jangan parkir di sini. Saat mereka ada, kami menghindar. Tapi, kalau mereka sudah tidak ada, ya, kami kembali lagi,” tambahnya.

Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Faustinus Vasco

Buat Perbup

Anggota DPRD Sikka, Faustinus Vasco yang dimintai keterangannya, Selasa (15/1) mengungkapkan, kesemrawutan pengelolaan terminal di Kabupaten Sikka bisa diminimalisasi apabila Bupati Sikka membuat Peraturan Bupati (Perbup).

Perbup ini nantinya mengatur tentang jalur tetap angkutan dalam kota (Angkot) seperti pernah dibuat pada beberapa tahun sebelumnya.

Perbup yang dibuat itu, lanjutnya, mesti memperhatikan kebutuhan dan melihat keseimbangan wilayah dalam kota sehingga bisa melayani masyarakat secara merata.

Vasco menekankan, Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka mesti secara cermat memperhatikan semua fasilitas dan tata ruang di dalam dua terminal AKDP sehingga kendaraan-kendaraan yang ada tidak berseliweran di badan jalan negara.

“Kadis Perhubungan serta Dinas Pol PP dan Damkar hendaknya membangun koordinasi guna melakukan patroli dan pengawasan rutin supaya AKDP dan angkot bisa lebih tertib dan mau masuk terminal,” tegas politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini.

Lebih lanjut, Vasco mengharapkan, Dinas Perhubungan harus mampu mengorganisasi segala hal yang berhubungan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi terminal.

Ia mengatakan, Dinas Perhubungan dapat membenahi terminal travel yang terletak di belakang Gelora Samador sehingga retribusi travel dapat ditarik yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah.

“Jangan hanya atur di pasar pagi terbatas saja. Lihat semua terminal kita. Buat kajian sehingga membawa dampak bagi pembangunan daerah,” tegas Vasco.

Semuanya bisa dibuat asalkan tidak bertentangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Maumere,” tambah jebolan Fisip Undana ini.

TERKINI
BACA JUGA