Manchester City Juara, Sepak Bola Memang Tak Ramah

Manchester City akhirnya keluar sebagai juara Liga Inggris 2018/2019 usai menekuk Brighton, 4-1, pada Minggu, 12 Mei 2019.

Tim asuhan Pep Guardiola ini meraup 98 poin dan meninggalkan pesaing terdekatnya, Liverpool, yang mendapatkan 97 poin.

Perbedaan angka yang tipis memang membuat kedua tim harus bertarung sampai fase akhir dalam liga yang paling bergengsi sejagad tersebut.

The Reds gigit jari, lantas The Citizens sukses mempertahankan gelar.

Namun, saling sikut kedua tim sebetulnya sudah terjadi kala turnamen memasuki putaran kedua musim ini.

iklan

Liverpool yang sebelumnya duduk sebagai juara paruh musim pada Desember 2018 lalu, perlahan-lahan keropos dalam beberapa pertandingan.

Padahal, klub yang berdiri pada tahun 1982 ini malah sudah unggul 7 poin atas City yang hanya duduk di peringkat ketiga.

Liverpool digadang-gadang bakal keluar sebagai sang juara.

“Hal terpenting bagi Liverpool adalah tetap bermain bagus,” tutur manajer mereka Juergen Klopp.

Tapi, sepak bola bukanlah umbaran kata-kata Klopp. Toh yang terjadi selanjutnya adalah permainan anak asuhnya tergelincir dan itu seperti jadi petaka buruk.

Memasuki awal tahun baru 2019, perkara tergelincir itu mulai terjadi sebab mereka langsung menderita kekalahan dari tim yang rupanya jadi juara pada akhir musim.

Kamis, 3 Januari 2019, Manchester City berhasil mengalahkan Liverpool, 2-1, pada partai yang digelar di Stadion Etihad. Lantas jarak kedunya pun jadi 4 poin.

City kemudian terus konsisten- meski sempat kalah dari Newcastle United, ditambah lagi penampilan Totenham yang tak stabil, dan Liverpool beberapa kali memperoleh hasil imbang.

Ia imbang lawan Leicester City, West Ham dan Manchester United.

Dan, peralihan puncak klasemen baru betul-betul terjadi pada pekan ke-29, yakni awal Maret lalu.

Liverpool kembali dapatkan hasil imbang waktu bertandang ke markas rival sepanjang masanya, Everton, dan Manchester City menghajar tim kelas menengah lainnya, Bournemouth.

Sejak partai pekan itu, Manchester City pun resmi memuncaki klasemen dengan nilai 71, unggul satu poin dari Liverpool.

Tentu saja City belajar dari kesalahan Liverpool. Pertandingan-pertandingan setelah itu disapu bersih dengan kemenangan, walaupun sang pesaing juga melakukan hal yang sama.

Hanya saja, waktu tak pernah lagi kembali. Waktu tampil sebagai pembunuh yang kejam dan siapa pun bisa dikorbankan karenanya. Termasuk Liverpool.

Tim ini boleh punya trio Mohamed Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino.

Para pendukungnya mungkin saja berdoa ataupun tak henti-hentinya mengumandangkan anthem “You Will Never Walk Alone”.

Tapi, seberapa banyak pun gol yang mereka buat, seberapa nyaringnya lagu yang diteriakkan, semuanya akan tetap nihil bila tabel klasemen tak kunjung berubah. Dari unggul 7 poin, hingga berbalik minus 1 poin.

Dari jadi raja di pertengahan musim, hingga mengakhiri liga dengan tangan hampa.

Kerinduan akan gelar juara sejak tahun 1990 pupus sudah.

Sepak bola di satu sisi merupakan tontonan menarik, namun di sisi lainnya, ia hadirkan air mata dan segumpal kekecewaan yang tak dapat ditebak.

Anda boleh saja memprediksi, hanya saja hasil akhirlah yang menentukan. Tim mana pun bisa saja memiliki banyak bintang, tapi kerja keras dan keberuntunganlah yang tampil sebagai primadona.

Liga Inggris musim ini menyuguhkan kegembiraan bagi Sergio Aguero cs dan para suporter mereka. Sementara itu, di sudut kota Liverpool ia barangkali dibenci dan dicaci lantaran trofi tak kunjung singgah.

Para pemain juga pelatih barangkali disalahkan dalam kasus ini. Akan tetapi, bila Anda adalah penikmat setia permainan Liverpool, memberikan penghakiman semacam itu tampak egoistis.

Moh. Salah dkk sudah berjuang sekuat upaya sampai perhelatan selesai. Permainan mereka pun selalu menarik lantaran dihuni para darah muda yang punya teknik bermain tingkat tinggi.

Akan tetapi, hasilnya tetap saja. City tak pernah kalah dan memang benar, sekali Liverpool tergelincir, risiko apa pun patut ditanggungnya.

Anda tahu, untuk perhelatan seprestisius Liga Inggris, sepak bola bukanlah matematika yang mana 2 x 2 sama dengan 4.

Dia selalu saja misteri dan penentuannya ada pada titik akhir. Suksesnya Manchester City memberikan makna bahwa gelar kadangkala sukar dijinakkan.

Dan mungkin bagi Liverpool, sepak bola sungguh tak berlaku ramah.

Meskipun pada tanggal 2 Juni nanti, mereka akan kembali beradu nasib dalam partai final Liga Champions melawan Totenham Spurs, tim yang pada paruh musim lalu menghuni posisi dua dalam tabel klasemen.

TERKINI
BACA JUGA