Senja Menyapa Oesapa

Bocah perempuan itu sedang sibuk bermain bersama kawan-kawannya. Di tepi pantai Oesapa yang lagi ramai-ramainya dikerumuni ratusan manusia.

Dia berlari-lari, menceburkan diri ke laut dan melakukan peristiwa apa saja seturut kehendaknya. Seperti tak peduli pada segenap pengunjung yang datang bertandang.

Saya memerhatikan dia. Raut wajahnya ceria. Sepintas kilas, dia, juga rekan-rekan bermainnya, seolah-olah menciptakan dunia mereka sendiri dan memekurkan diri di dalamnya.

Dengan lautan, dengan angin sepoi-sepoi dan tentu dengan rona kekuning-kuningan menghiasi langit. Toh itu adalah sore hari, hari pertama dalam bulan ketiga tahun 2019 dalam penanggalan kalenderium Masehi.

Anak-anak itu, saya kira,  merupakan warga Oesapa sehingga mereka memang tahu baik dan kuasai betul situasi di situ.

iklan

Gerak-gerik mereka mirip para juru silat yang sudah hafal medan pertarungan ataupun penabuh gendang berpengalaman dari salah satu daerah pedalaman di Timor.

Barangkali karena itulah, para orang tua membiarkan mereka bermain dengan bebas. Ataupun hanya mengawasi dari jauh yang mana saya sendiri tak berniat mencari informasinya.  

Kita tahu, anak-anak dan kehidupannya sudah barang tentu berbeda dengan lalu-lintas pergerakan orang dewasa.

Menurut filsuf John Locke, sosok yang pernah saya pelajari sedikit saja ketika duduk di bangku perkuliahan, anak-anak adalah makhluk polos seperti lembaran kertas putih yang belum dinodai.

Mereka akan membiarkan dirinya menerima apa saja yang masuk ke dalam pikiran ataupun ingatan.

Di situlah konsep tabula rasa tertangkupkan. Sebuah pandangan yang merujuk pada diri manusia yang lahir tanpa mental bawaan, atau kosong, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia luar.

Tapi, untuk apa membicarakan anak-anak, sebab saya sendiri telah melewati fase itu dan sekarang saya adalah seorang pemuda dua puluh tahunan yang hidup dengan berbagai gejolak.

Salah seorang kawan baik pernah bilang kepada saya bahwa ketika seseorang memasuki usia dua puluhan tahun menuju tiga puluh, ia akan terjerembab pada drama “quarter life crisis”. Yakni masa di mana kita akan mempertanyakan kembali nilai-nilai yang teranuti selama ini.

Bila Anda baru lulus kuliah, bersiaplah dengan pertanyaan, nanti kerja apa dan di mana?

Bila Anda belum menikah, bersiaplah dengan pertanyaan, kapan menikah?

Bila Anda belum punya pacar, itu mungkin urusan Anda sendiri, tapi Anda mesti siap dihakimi sebagai makhluk tak laku di planet ini serentak dianjurkan berpelesir ke planet lain guna mencari pasangan hidup.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah perkara wajar dan kita tak patut menyalahkan mereka yang bertanya, kawan saya tadi melanjutkan.

Dia kemudian menganjurkan agar orang-orang yang lagi kena “quarter life crisis” itu sebaiknya tak gegabah mengambil keputusan, tapi mengusahakan pikiran jernih sedemikian rupa.

Di hadapan pantai Oesapa ini, saya berpikir ulang soal fase “mengerikan” yang baru saya ketahui itu.

Namun, pada hal lain, saya kira orang yang terlalu kaku pada teori seperti kawan saya tadi bisa saja hidup terlampau cemas sampai lupa pada hal-hal kecil di depan mata.

Kawan saya yang lainnya,  yang sekarang telah menjadi pengajar agama, bilang bahwa hidup harus dinikmati dan dijalankan sesuai isi tempurung kepala kita.

Tak boleh terlalu larut pada banyolan-banyolan orang lain karena itu bisa jadi malapetaka bagi pengembangan diri manusia.

Dua kawan saya itu tentu punya kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Mereka juga boleh jadi mendapatkan pengaruh nilai-nilai yang beragam pula.

Kehidupan, pada takaran tertentu, akan selalu punya tuntutan. Sekecil apa pun itu. Dan kita manusia, makhluk kecil di kolong langit ini, tak bisa lari darinya.

Ratusan pengunjung di pantai ini pun pastinya datang dengan memangku kegelisahan mereka masing-masing.

Motif berwisata mereka juga berbeda-beda. Sama seperti saya atau Anda sekalian atau dua kawan saya tadi atau siapa pun itu.

Sekali lagi, saya memerhatikan bocah perempuan tadi. Dia masih larut dengan keriangan-kegirangan yang sama.

Saya terkaget. Tujuan awal saya untuk mengambil potret mentari tenggelam sepertinya terbengkalai oleh perkara-perkara yang menyelinap di kepala saya sedari tadi. 

Dan saya pun menyesal telah membubuhi judul tulisan ini dengan “Senja Menyapa Oesapa” sebab tak memberikan deskripsi apa-apa tentang senja itu sendiri.

Mungkin judul yang tepat adalah “Seorang Anak Kecil Menghantui Kepala Anda”, atau “Datang ke Pantai Tak Selamanya Harus Memburu Matahari Tenggelam”.

TERKINI
BACA JUGA