Peer Gynts di Larantuka: Permainan Kontras dan Pilihan Menjadi Tegang atau Tidak

Proses kolaborasi seniman inter-Asia yang ujungnya tersaji lewat pertunjukan Peer Gynts di Larantuka (Kisah Para Pengelana dari Asia) baru saja usai.

Pemilihan medium di ruang publik, Taman Kota Felix Fernandez Larantuka, Flores Timur, Sabtu, 7 Juli 2019, memungkinkan keterbukaan akses bagi khalayak luas dalam menikmati tontonan.

Itu sekaligus sodorkan alternatif untuk tak sekadar dihibur, tapi juga terpancing dalam laku tindak ataupun berpikirnya. 

Panggung – desainnya seperti bangkai kapal menghadap ke Selat Gonsalu – dibuka dengan masuknya sekelompok orang; laki-laki dan perempuan, tua dan muda, berbusana adat Lamaholot.

Mereka mengitari batu hitam di area tengah, menyimbolkan Nuba Nara atau kediaman Wujud Tertinggi.

iklan

Aktris Magdalena Oa Eda Tukan (Nara Teater) duduk di depan batu itu, sementara aktor Dominikus Dei (Sanggar Mura Lewo) melafalkan senandung adat.

Anggota kelompok lainnya ikut menyanyi dan menari. Kaki mereka makin cepat terhentak, suara mereka terus memekik.

Adegan pembuka pertunjukan Peer Gynts di Larantuka. Foto: Engki Rebon

Namun, tak berapa lama, semuanya keluar dari panggung. Menyisakan gadis yang duduk di tengah tadi dan Dominikus Dei bersama aktris Lidvina Lito Kellen (Sanggar Sasong Lureng) bersimpuh di kiri depannya.

Jika lantunan sebelumnya tunjukkan irama kegembiraan, kali ini Dominikus dan Lidvina menyelaraskan kesedihan.

Seolah-olah memberikan kontras, yang mendapatkan respons dari pemain gambus, Rusmin Kopong Hoda, dari panggung bagian belakang.

Lidvina meneruskan itu, sementara Dominikus naik ke atas “anjungan kapal” bersama Pastor Inno Koten.

Di antara paduan itu, muncullah para pemeran lain berjalan merunduk, diselubungi jaring/kain putih.

Aktris Arsita Iswardhani (Teater Garasi) di depan, Micari Fukui (Jepang) di tengah dan Veronika Ratumakin (Sanggar Sina Riang) merangkam ujungnya.

Micari Fukui inilah yang jadi ibu Peer Gynt; seorang anak yang gemar membual, ogah-ogahan, berperilaku malas dan hidup seturut kehendaknya. Tanpa mau diatur, bahkan diperhatikan.

Barangkali karena latar itulah, Micari ditinggalkan sendirian di tengah panggung. Hanya ditemani Veronika yang bicara laiknya narator sedang di suluk.

Ibu Peer Gynt itu menanggapi kata-kata Veronika dengan mimik yang sukar ditebak. Kelihatannya, dia hendak menangis tapi tak jadi. Atau mau bersuka ria tapi tak sempat.

Maklumat wajah yang jumpalitan itu boleh jadi menunjukkan kegelisahan atas perilaku hidup anaknya.

Pasalnya, si Peer sendiri, berdasarkan sinopsis lakon Henrik Ibsen yang membingkai repertoar pertunjukan ini, sempat mencemoohi ibunya yang kesal terhadapnya karena tak mau bekerja.

Peer menganggap diri hebat dan putuskan berkelana. Mirip seorang pengandai yang sebetulnya tak punya energi apa-apa.

Masih dalam ruang adegan yang sama, Micari Fukui bangun dan menari dan tiba-tiba membahanakan “Indonesia…Indonesia…Indonesia….” Bercengkokkan kesedihan dan dia terlihat putus asa.

Aktris Micari Fukui merespons narasi yang disampaikan Veronika Ratumakin. Foto: Engki Rebon

Namun, kata-kata Veronika Ratumakin semakin meriung. Membikin adegan terhenti dan keduanya rebah seketika.

Setelah itu, barulah Peer Gynt, diperankan aktor Takao Kawaguchi (Jepang), memunculkan moncongnya.

Bersama kawanannya, dia lari-lari, menari dan berlaku sesuka hati.

Dia bebas naik ke atas pohon, makan daun, membalurkan wajah ke pasir, juga bermain-main menarik perhatian penonton.

Beberapa penonton merespons dengan tertawa, beberapa lainnya berekspresi datar dan ada juga yang berbisik kecil-kecil karena kaget menyaksikan sang aktor memamah daun dan mendebum tanah.

Tapi, keriangan rupanya tak bertahan lama.

Peer Gynt yang gagah itu, perlahan-lahan tumbang. Dia yang mulanya muncul bak pemuda dari wangsa kesenangan akhirnya tersungkur juga.

Menariknya, transisi itu diisi dengan tarian oleh aktris Venuri Perera (Sri Lanka) sambil menutup wajahnya. Seperti menggambarkan perasaan tersekat meski itu dipacakkan lincah.

Adegan terakhir ditandai dengan masuknya Micari ke atas panggung dari tengah-tengah penonton.

Dia merangkul anaknya yang hilang, diiringi berbagai macam bunyi juga suara yang saling berkelindan satu sama lain.

“Jangan jadi nabi palsu!” demikian salah satu retorika yang sempat dilontarkan Pastor Inno Koten.

Pementasan ini sesungguhnya menjadi tantangan tersendiri bagi sutradara Yudi Ahmad Tajudin dari Teater Garasi.

Musababnya, ia mesti menggabungkan ragam pertunjukan lokal/tradisional dan gaya kesenian kontemporer. Yang dalam konteks lainnya, berasal dari referensi kehidupan para aktor/aktris yang berbeda-beda pula.

Meskipun begitu, “ketegangan” ini berusaha diatasi. Bukan dengan memecah porsi peranan secara kuantitatif, melainkan lewat pemaduan-pemaduan yang dapat ditatap sebagai sesuatu yang utuh.

Sensibilitas “ketegangan” inilah tampak pula pada rangkaian laku yang dipertontonkan para pemeran.

Arsiran ini menegaskan, “ketegangan” pertunjukan an sich tidak lagi soal siapa datang dari mana atau siapa punya gaya kesenian apa. Tetapi merupakan suatu kegelisahan kolektif yang kemudian dilemparkan kepada penonton.

Meniliki adegan-adegan awal, wedaran “ketegangan”, atau katakanlah “permainan-permainan kontras”, mulai terlihat tatkala orang-orang yang sebelumnya merancak, tiba-tiba pergi dari panggung dan meninggalkan beberapa aktris/aktor yang tampilkan situasi trenyuh.

“Permainan kontras” juga dimunculkan aktris Micari Fukui dengan cara yang sangat halus, bahkan tipis.

Seandainya penonton kelilipan mata atau tak fokus memerhatikan dia, terutama saat merespons juru kisah Veronika Ratumakin, poin tersebut tentu tak dapat ditemukan.

Micari tak menari secara ligat seperti kelompok lainnya. Dia awalnya malah berbaring dan betul-betul memberi fokus pada olah tubuh.

Apakah ibu Peer Gynt ini mesem-mesem, bersedih, terkial-kial, berpikir keras, atau alami gangguan jiwa, sungguh sulit terurai.

Akan tetapi, aspek penajaman “ketegangan” atau “permainan kontras” itu sebetulnya menemukan titik muncrat dalam sosok Peer Gynt.

Kita tahu, dia yang mulanya hidup bersenang-senang, membongak dan penuh bualan akhirnya mengalami pelempeman. Seperti kisah Saulus dalam Kitab Suci Perjanjian Baru atau narasi hitam putih dongeng klasik mengenai keapesan mendadak kaum foya-foya.

Artinya, ada pergulatan antara tindakan berleha-leha dan perkara rengsa, hura-hura dan sikap masygul, kebahagiaan dan laku pilu, ataupun jembatan pertentangan apa saja yang di dalamnya peristiwa kehidupan saling tarik-menarik.

“Permainan kontras tersebut” tampak pula dalam potongan-potongan adegan keseluruhan. Misalnya, transformasi nyanyian, tarian dan narasi yang gembira ke kondisi penuh kegetiran.

Kita lihat bagaimana aktor Silvester Hurit yang pada bagian akhir berbicara penuh emosional dalam bahasa adat. Juga Pastor Inno Koten, yang selama pertunjukan lebih banyak diam di menara gading “anjungan kapal”, akhirnya harus berdiri dan berkata macam-macam.

Termasuk kata-kata “Jangan Jadi Nabi Palsu!” tadi yang dapat dibaca sebagai kritik serentak otokritik atas eksistensi para pemimpin agama di muka bumi ini.

Selain itu, Venuri Perera dalam permunculannya merupakan Venuri dari dua pribadi berbeda.

Aktris Venuri Perera sedang menari sembari menutup wajahnya. Foto: Engki Rebon

Venuri “pertama” adalah Venuri yang menari riang sembari menutup muka, sementara Venuri “kedua” adalah Venuri yang meskipun telah berani menampilkan wajahnya, tapi malah berdisposisi batin traumatik.

Sampai di titik ini, hasutan lain mungkin bisa ditonjolkan. Terutama mengenai imaji realitas yang dibicarakan panggung tersebut.

Jika berangkat dari koridor yang dielaborasi sedari tadi, Peer Gynts di Larantuka boleh jadi mengejawantahkan manusia-manusia yang hidup dalam bangunan modernitas-postmodernitas dengan beragam batu bata persoalan ruwet di dalamnya.

Ini menjadi sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari dan akan terus diinterpretasikan terus-menerus.

Bahwasanya (identitas) manusia tidak terbentuk juga hidup dalam satu evidensi tunggal, atau satu gema perspektif, tapi pada pemancaran lain dapat berubah-ubah kapan saja.

Konsekuensi logisnya sudah barang tentu berjuntrung pada ketegangan-ketegangan itu sendiri. Baik bersifat personal, maupun sosial-politis.

Peer Gynts di Larantuka juga menerabasi batas-batas antara yang lokal, yang global; yang di sini, yang di sana; yang punyaku, yang punyamu; ataupun pertanyaan; siapakah aku, siapakah kamu.

Deskripsi ini akan lebih panjang apabila kita menganalisis kenyataan-kenyataan sosial yang ada.

Seperti lalu lintas teknologi yang sangat terbuka, gelombang populisme kanan (atas nama agama, kepentingan kelompok mayoritas ataupun kesenangan orang banyak), gerakan kaum muda “menentang” kemapanan di samping lunturnya pengamalan terhadap tradisi, ataupun isu-isu seputar lingkungan hidup yang dialami-dibicarakan di mana saja.

Menariknya, pada satu sisi, manusia diperhadapkan dengan persoalan-persoalan itu, sementara sisi lainnya, ia bergelut untuk senantiasa mempertanyakan ke-“aku”-annya di tengah keterhubungannya pada dunia luas.

Mungkin kita dapat mengajukan sebuah anggapan konyol, tapi secara malu-malu kita akui. Bahwasanya tinggal di tengah modernitas adalah tinggal dengan segumpal persoalan.

Entah berbentuk identitas diri ataupun identitas sebagai kelompok, bangsa atau negara.

Peer Gynts di Larantuka telah memberi awasan itu.

Sekarang saatnya, apakah kita ingin larut dalam “ketegangan” atau menghindarinya?

Atau, kita memutuskan pilihan yang lebih lain.

Sebagaimana para penonton memilih area duduk di Lapangan Taman Kota Felix Fernandez, Kota Larantuka. Dan tersontak atas aksi si Peer.

TERKINI
BACA JUGA