Sapi Si Yusi dan Sapi Si Tani di Flores

Setelah membaca novel dongeng “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” (Yusi Avianto Pareanom, 2016), saya dan seorang tani di Soa, Flores menggembalakan sapi di padang Mala Mara, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT, pada awal tahun 2019 lalu. Wala, kan tahun baru?

Ya, memerhatikan riuh rendah aktivitas masyarakat tani di Soa, agaknya bisa dibenarkan opini, mereka tidak terlalu ambil pusing dengan sorak sorai dunia luar.

Jangankan hingar bingar pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif  (Pileg) 2019, euforia tahun baru 2019 pun terbatas pada malam tutup tahun dan tanggal sulung tahun baru itu sendiri. Maklum, Januari adalah bulan padat kerja di mana sebagian besar masyarakat tani mulai menggarap sawah dan kebun.

Aktivitas menggarap sawah itu meliputi luku (membajak), weta wini (menyemai benih), gari (menghaluskan lahan), rosi bale (membersihkan pematang), zali bale (melapisi pematang dengan lumpur), suli (menanam), sempro (menyemprot), hozo wini (mencabut ilalang), rewi (memanen dengan arit), dan ronto (merontok).

Akan tetapi, aktivitas menggarap sawah di bulan Januari terbatas sekurang-kurangnya pada 7 aktivitas pertama. Aktivitas selebihnya terjadi pada bulan-bulan berikutnya hingga panen pada sekitar bulan April.

iklan

Pada bulan Januari, aktivitas menggarap kebun terbatas pada rau uma (membersihkan ilalang di kebun) karena biasanya mereka sudah tanam jagung di kebun pada bulan Desember, saat hujan pertama membasahi bumi Soa.

Jangan heran, pagi-pagi buta, di awal tahun baru, bunyi traktor tangan akan membelah angkasa. Mama-mama tani memikul ripe (keranjang) di kepala.

Bapak-bapak lenggang kangkung penuh semangat dengan sodi (parang Bajawa) di pinggang. Anak-anak gadis dan remaja lelaki berbondong-bondong mengikuti dari belakang. Mereka bersiap loa (pergi bekerja di sawah atau kebun).

Loa bisa dibedakan atas dua macam yakni loa di sawah sendiri dan loa di sawah orang lain.

Jika loa di sawah sendiri adalah bekerja untuk kepentingan produksi keluarga, maka loa di sawah orang lain adalah untuk pertama, bapo (gotong royong kerja di sawah dan di kebun) dan kedua, sambu sai (kerja di sawah dan di kebun untuk mendapatkan upah).

Setiap buruh tani, termasuk anak-anak, yang bekerja sambu sai diupah Rp50.000,00 per/hari. Dua macam loa ini sekaligus menyiratkan perbedaan kelas tani di So’a.

Seperti diferensiasi kelas tani Lenin dalam “Sosialisme, Petani, dan Kaum Miskin Desa”, tani di So’a dapat dibedakan atas tuan tanah, tani kaya, tani menengah, tani miskin, dan buruh tani.

Tuan tanah, tani kaya, dan tani menengah memiliki lahan tanah yang luas, sedangkan tani miskin memiliki lahan tanah yang sempit dan buruh tani tidak memiliki lahan sama sekali.

Buruh tani mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menggarap lahan tanah para tuan tanah, tani kaya, tani menengah, dan tani miskin melalui sistem fara dan gade yang akan dibahas Penulis pada kesempatan lain.

Dalam sekali produksi, tuan tanah, tani kaya, dan tani menengah dapat memanen di atas 100 karung padi, sedangkan tani miskin dan buruh tani memanen di bawah 50 karung padi. 1 karung padi biasanya mengandung 50 Kg beras setelah digiling.

Maka, jika panen 100 karung padi, tuan tanah, tani kaya, dan tani menengah menghasilkan 5000 Kg beras. Harga 1 Kg beras berkisar Rp10.000,00. Maka, sekali panen, mereka meraup Rp50.000.000,00.

Atau keuntungan netto sekitar Rp40.000.000,00 setelah dikurangi dengan biaya produksi. Sementara itu, tani miskin maksimal sanggup hasilkan 2500 Kg beras. Atau keuntungan netto sekitar Rp15.000.000,00 setelah dikurangi biaya produksi.

Hitungan hasil produksi buruh tani mesti dibuat tersendiri karena sistem fara dan gade memiliki hitungan produksi yang khas.

Doa, sa tarik diri dari sekolah dan memilih jadi petani karena penghasilan petani di So’a bisa mencapai Rp50.000.000,00 sekali panen,” ungkap seorang teman yang menamatkan kuliah pada salah satu sekolah filsafat di Flores.

Tentu teman saya ini masuk kelas tani menengah.    

Nah, 2019 adalah tahun politik. Jargon itu benar hanya untuk kalangan menengah ke atas yang sudah terbebas dari beban “hari ini saya mau makan apa.”

Untuk kalangan kelas bawah seperti tani sedang, tani miskin, dan buruh tani, pertanyaan “hari ini saya mau makan apa” jauh lebih penting ketimbang pertanyaan “hari ini saya omong siapa dan apa.”

Prediksi ilmuwan politik bahwa Jokowi kemungkinan akan kalah dalam Pilpres 2019 karena gagal meraup suara dari golongan putih (Golput) akibat ingkar janjinya terhadap beberapa janji politik pada kampanye 2014 lalu antara lain keadilan bagi para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan perlindungan terhadap minoritas sama sekali bukan bahan obrolan yang enak.

Mereka juga tidak ambil pusing dengan dan mungkin pula sama sekali tidak tahu menahu tentang Bolsonaro, seorang Capres Brazil yang sangat anti lesbi, gay, bisexual, and transgender (LGBT), rasis, dan militeristik, tetapi mampu menang dalam Pilpres di Brazil beberapa waktu lalu.

Tak terbayangkan di benak mereka, seperti Mantan Presiden Brazil, Luis Inacio Lula da Silva yang dibui karena korupsi, Jokowi mungkin akan kalah karena “the guy who did a lot of good and could have done much more but didn’t” (seseorang yang melakukan banyak hal baik tetapi gagal melaksanakannya lebih banyak lagi) (Benjamin Junge dalam wawancara bersama dengan Jean Kirby, “Corruption, Fake News, and WhatsApp: How Bolsonaro Won Brazil” dalam https://www.vox.com, diakses Jumat, 1 Januari 2019).

Juga tidak terlalu perduli apabila Prabowo, Capres yang copy paste dan contek gaya kampanye Trump di Amerika Serikat dan mungkin juga Bolsonaro di Brazil, lenggang kangkung ke istana.

Tetapi, sudahlah. Ngalor ngidul tentang tahun politik di hadapan masyarakat yang apolitis sangat tidak nyaman.

Maka, ada bijaknya kalau kita balik lagi ke sapinya si Yusi Avianto dan sapinya si tani di So’a, Flores. Mungkin sapi-sapi inilah yang akan beri kita semacam inspirasi tentang pemimpin ideal di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Imajinasi Yusi Avianto Sang Penulis memang luar biasa, tetapi agak berlebihan untuk tani dan peternak sapi sungguhan.

Yusi menggarap “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” sebagai selingan di tengah kesibukan menulis novel “Anak-Anak Gerhana”, pengalaman generasinya tumbuh di bawah rezim Orde Baru.

“Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” terdiri atas 13 judul bab, mulai dari “Malam Celaka”, malam Sungu Lembu dan Raden Mandasia dihajar habis-habisan oleh prajurit Gilingwesi karena kedapatan mencuri daging sapi, hingga “Banjaran Waru”, kampung halaman Sungu Lembu tempatnya bertemu kembali dan hidup bahagia bersama dengan Melur, gadis desa kepada siapa ia pertama kali mengeluarkan peju sperma.

Bab “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” diletakkan pada bab 2, ruang Yusi Avianto menumpahkan imajinasi tentang cara Raden Mandasia dan Sungu Lembu mencuri daging sapi di padang:

“Ia mencari seekor sapi yang diinginkannya, memilih waktu yang tepat, dan memotong sapi dengan pisau lengkung besar dari baja yang nyaris menyerupai golok tepat di kandang atau tempat penggembalaan. Memotong, ya, memotong-motong, bukan menyembelih karena darah sapi korban nyaris tak menetes sedikit pun, dengan kecepatan pedang yang sulit diikuti mata. Sapi korban pun mungkin tak sadar nyawanya sudah melayang. Pertama-tama, ia akan menggetok bagian atas kepala sapi dengan gagang pisaunya. Setelah sapi semaput, ia akan melepaskan daging dari kulit dengan pisau kembar tipis yang sangat tajam dan meloloskan daging dari tulang-tulang dengan lancar atau pisau berbentuk bulu ayam dari Pulau Garam. Kulit sapi kemudian dipakainya sebagai alas potongan-potongan daging yang seratnya terjaga. Asal kautahu, bagus tidaknya potongan sangat mempengaruhi rasa daging…” (p. 18). 

Pertama, sapi si Yusi adalah sapi korban tempat Raden Mandasia menumpahkan hobi dan obsesi mencuri daging sapi.

Raden Mandasia mungkin saja menderita kleptomania, yaitu gangguan mental yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri. Penderita kleptomania mencuri tidak untuk mendapatkan keuntungan finansial, melainkan untuk mereguk kenikmatan dari proses mencuri.

Jika menuruti tafsiran ini, maka sapi si Yusi sesungguhnya mewakili antara lain rakyat kelas pekerja tempat para penguasa politik (penjabat publik) dan penguasa ekonomi (kapitalis) menumpahkan hobi dan obsesi mencuri peluh keringat mereka.

Para politisi dan penjabat publik korup mencuri keringat rakyat dengan cara menggarong APBDes, APBD I, APBD II, dan APBN, sedangkan para kapitalis memeras keringat kelas pekerja dengan cara mengisap nilai lebih dari proses produksi. Mereka memeras dan mencuri, selain untuk mendapatkan akumulasi kapital, tetapi juga mereguk kenikmatan dari proses korupsi itu.

Maka, tak usahlah heran, jika para aparatur sipil negara (ASN) di NTT yang diberi sanksi mengenakan rompi oranye karena tidak disiplin bekerja masih bisa ber-selfi ria (Kompas.com, 7/1). Mereka menikmati proses korupsi itu.

Kedua, sapi si Yusi adalah simbol konsumerisme dan hedonisme manusia-manusia post-modern pada abad ke-21 ini. Dalam analisis Jean Baudrillard, masyarakat post-modern tidak mengkonsumsi barang karena nilai guna (use value), melainkan karena nilai tanda (sign value).

Suatu barang dikonsumsi bukan karena dibutuhkan, tetapi karena diinginkan. Raden Mandasia mencuri sapi bukan karena nilai pakai daging sapi, melainkan nilai tanda sapi yang dapat memuaskan obsesi kleptomaniaknya.

Setelah mencuri dan memotong-motong daging sapi, Raden Mandasia akan meninggalkan kepingan uang emas seharga atau bahkan tiga kali harga seekor sapi curian.

Sama seperti oknum R memesan VA dengan tarif Rp80 juta bukan terutama karena membutuhkan layanan seks, tetapi karena VA memiliki semacam simbol atau tanda yang mesti ditaklukkan kapitalis. Perhatikan imajinasi Yusi di bawah ini:

“Daging-daging yang cukup ditaburi sedikit garam, bubuk merica biasa atau hitam – terserah selera, tanpa perlu bawang putih atau bumbu lain; daging-daging yang cukup bakar dua sisi sebentar saja sampai setengah matang supaya keempukannya terjaga sehingga lumer saat digigit; daging-daging yang bakal membuat penikmatnya merasai kedamaian yang sampai tahap tertentu adikodrati antara ia dan penciptanya atau setidaknya sangat bersyukur bahwa dirinya bukanlah orang-orang salah arah yang berpantang daging…” (p. 20). 

Akan tetapi, walau berisi kritik sosial, sapi si Yusi ahistoris karena tidak memiliki asal-usul.

Tiba-tiba, si sapi sudah berada di tengah padang, menunggu dagingnya dicuri Sungu Lembu dan Raden Mandasia. Yah, namanya dongeng.

Nah, induk sapi yang saya dan si tani gembalakan adalah bantuan Pemerintah Kabupaten Ngada di bawah kemudi Bupati Ngada, Marianus Sae, seorang kepala daerah yang heboh karena aksi memblokir Bandara Turelelo, So’a pada 2013 dan terkena operasi tangkap tangan (OTT) lembaga antirasuah pada 2018, melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (Perak).

Perak merupakan salah satu dari beberapa program unggulan duet Bupati Marianus Sae dan Wakil Bupati Paulus Soliwoa pada periode pertama (2009-2014).

Program lainnya adalah percepatan pelayanan infrastruktur desa (Pelangi Desa), jaminan kesehatan masyarakat Ngada (JKMN), penguatan koperasi, dan bantuan operasional sekolah daerah (Bosda).

Program Perak terdiri atas Perak ternak, perikanan, kelautan, kehutanan dan hortikultura. Perak ternak diwujudkan dengan cara memberikan bantuan bibit ternak sapi, babi, dan kambing kepada rakyat miskin.

Program yang mulai diluncurkan pada tahun 2011 dan menelan anggaran Rp29 Miliar ini bertujuan membawa keluar 18 ribu kepala keluarga (KK) dari total 29 ribu KK di Ngada pada 2010 dari garis kemiskinan.

Dalam imajinasi Marianus saat itu, Perak akan membantu mengurangi jumlah KK miskin sebanyak 4000 KK hingga 5000 KK per/tahun. Sampai tahun 2014, sebanyak 5915 KK sudah menikmati program Perak.

Agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, ia menerbitkan peraturan daerah (Perda) tentang Perak dan meminta polisi dan Kejaksaan Negeri Bajawa melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program tersebut.

Sesungguhnya, Perak sudah mulai dilakukan Marianus pada tahun 2007 saat masih menjadi wirausahawan di Zeu, Ngada. Saat itu, ia memberikan bantuan 400 ekor babi dan 50 ekor sapi bagi KK miskin.

Mekanismenya adalah anak sapi pertama untuk Marianus, anak sapi kedua untuk KK miskin, anak sapi ketiga untuk Marianus, dan anak sapi keempat dan seterusnya untuk KK miskin.

Sapi-sapi itu diberi cap MS, inisial nama Marianus Sae (diolah dari berbagai sumber seperti Pos Kupang, NTTsatu.com, dan sergapntt, dan florespost.co).

Karena masuk kategori KK miskin, si tani menerima sapi Perak pada tahun 2015. Saya menjadi tahu bahwa sapi itu adalah sapi Perak karena pada punggungnya tercetak tulisan P4F, entah apa kepanjangannya.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 10 Agustus 2017, sapi beranak 3 ekor. Tanggal lahir sapi Perak saya ketahui karena istri si tani memiliki kebiasaan mencatat peristiwa penting produksi seperti hari kelahiran ternak, tanam padi dan jagung di dinding keka (pondok bambu).

Dengan demikian, pada 2019, jumlah sapi Perak si tani telah membiak menjadi 4 ekor.

Ema, sapi-sapi dia hiburan za’o,” kata si tani dalam bahasa daerah So’a. Kalimat itu kira-kira berarti, “Anakku, sapi-sapi ini adalah hiburan saya.”

Menurut si tani, ekonomi keluarga tidak akan kuat tanpa memelihara ternak. Mengharapkan dua lahan sawah yang hanya menghasilkan maksimal 40 karung padi sekali panen adalah sia-sia.

Kran ekonomi keluarga yang baru perlu diciptakan. Maka, sungguh merupakan sebuah hiburan mana kala sapi Perak ia terima pada empat tahun lampau.

Sapi Perak yang kini sudah membiak menjadi empat ekor. Tidak seperti nasib sapi si Yusi yang berakhir di tangan kleptomaniak Raden Mandasia.

Baba, Marianu kono penjara gha dia Jakarta,” kata saya.

Si tani diam saja. Entah dengar atau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. Entah.

Ia seorang tuna rungu. Tetapi, bukan kleptomaniak seperti si Raden Mandasia yang gemar mencuri daging sapi atau tuna susila seperti para politisi korup yang gemar menggarong uang rakyat.

TERKINI
BACA JUGA