Stanislaus Sunday (Dok. Pribadi)

Surabaya, Ekorantt.com – Tato masih menyisahkan pro dan kontra di masyarakat hingga saat ini. Sebagian melihatnya sebagai seni, sisanya lagi masih berkutat soal moral dan etika. Stanislaus Sunday atau yang akrab dipanggil Sandy adalah salah satu yang melihat tato sebagai ekspresi diri dalam bentuk seni.

Seni rajah ini ia tekuni sejak duduk di bangku SMA kelas dua. Sejak saat itu ia mulai menerima klien yang tertarik dengan jasa tato yang ia tawarkan. “Dulu berawal dari hobi menggambar, biasanya kan media gambar itu di kanvas, di kertas, di tembok, dan macam-macam lagi, tapi saya rasa kalau bisa gambar di kulit orang dan biasa orang itu nikmati dan bawa-bawa kemana-mana kenapa tidak,” kata pria kelahiran Maret 1997 ini.

Anak kedua dari pasangan Yosep (Alm) dan Anselina Anjeli ini mengawali hobi tato dengan merakit sendiri mesin tato dari bahan dinamo mobil mainan bermerek tamia. Barulah pada tahun 2016 kemarin saat duduk dibangku kuliah semester dua, ia membeli mesin tato dan tinta yang terstandar dengan tabungan yang dikumpul dari hasil tato sebelumnya. Semua ia lakukan karena cintanya pada hobi yang mungkin tak biasa ini.

Hal lain yang membuatnya merasa aktivitas tato ini menyenangkan adalah karena dengan menato dia dapat berinteraksi langsung dengan kliennya. “Kalau gambar di tembok entah gambarnya bagus atau tidak tembok tidak marah, tapi kalau manusia pasti ada interaksi negosiasi untuk dapatkan hasil yang klien mau,” tambah alumnus SMAK Frater Maumere.

Hal yang mungkin membedakan antara usaha tato yang ia jalankan dengan kompetitor terletak pada lokasi tato yang disesuaikan dengan tempat klien. “Biasanya orang kalau mau tato pasti datang ke studio tato, tapi saya bisa datang langsung ke tempat si klien,” ungkapnya.

Setelah hampir enam tahun menjadi tukang tato, Sandy mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya ini sudah mengerjakan lebih dari 100 klien tato. Biasanya dalam sebulan pasti ada saja klien yang memakai jasanya.

Dalam proses tato, hal yang menjadi penting untuk dilakukan adalah memastikan keamanan dan kenyamanan selama proses hingga tahap pemulihan. Keamanan ini ia jaga dengan melakukan sesuai prosedur.

Sandy yang adalah mahasiswa jurusan IT mengaku mencintai pendidikan yang sedang ia tempuh. Sebagai mahasiswa IT, jurusan yang dipilih ia anggap seperti sedang bermain games memecahkan teka-teki, butuh konsentrasi sendiri. Sementara dalam tato, ia menikmati sisi lain yang disebut interaksi sosial, berkomunikasi dan bertukar pikiran tentang banyak hal dengan klien.

Alhasil, dengan kemampuan membagi waktu yang baik, Sandy dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu dengan hasil maksimal. Kepada Ekora NTT, Sandy merasa selama empat tahun berkuliah di Surabaya ia mandiri dengan tidak meminta uang dari orang tuanya. Kebetulan ia juga mendapat beasiswa kuliah sehingga terlepas dari biaya kuliah baik SPP maupun SKS. Dari hasil tato cukup baginya untuk uang makan, kebutuhan sehari-hari, tugas kuliah dan modal untuk memutar roda usaha tatonya. “Dulu mama sampai sering tanya Nong bagaimana uang, mama kirim kah?” ceritanya sambil tertawa. Ya, saking tidak pernah meminta uang kepada orang tua, sang mama dibuatnya bingung.

Sandy adalah salah satu mahasiswa yang beruntung dapat memberdayakan bakat yang ia miliki. Hal ini mungkin tidak banyak mahasiswa lakukan. Baginya bakat yang menghasilkan uang perlu ada ketekunan dan fokus. Satu quotes yang pernah ia baca berbunyi If You Good As Something, Don’t Do It For Free,” hal ini yang membuatnya terus mengasah bakat tatonya.

Ati Kartikawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here