Ortodoksi Pemikiran Emil dan Ketidaklengkapan Berita di Ekora NTT: Catatan untuk Emilianus Yakob Sese Tolo (1/2)

Oleh Elton Wada*

Sebagian kritik terhadap ulasan Emil telah disampaikan oleh Toni Mbukut dalam tulisannya berjudul “Yesus Kristus, Sang Sabda yang Menjelma di Ekorantt.com pada 10 Oktober 2019.

Saya pun, seperti Toni, ingin kembali mengkritik Emil, terutama tentang beberapa hal yang dilupakan oleh Toni.

Seperti kata Emil dalam tulisannya “Logos, Ledalogos, dan Ledalodima” bahwa tidak ada kebenaran tunggal, maka sebagai pencinta kebenaran, pencarian terhadapnya harus terus dilakukan hingga akhirnya kita bertelut sujud dan mengabdi padanya.

Sebagai seorang intelektual yang telah mendapatkan gelar sarjana dan menjadi staf pengajar pada STFK Ledalero, tentunya klarifikasi dan tanggapan Emil sangat diperlukan.

iklan

Ada banyak informasi yang yang dapat dipakai sebagai sumber dan bahan refleksi kritis atas masalah-masalah sosial oleh siapa pun, termasuk saya, yang sedang berupaya untuk – seperti kata van Peursen – “menarik akar” pengalaman hidup dan menemukan pandangan dunia (world view) baru melalui elaborasi kognitif-rasional dengan kenyataan riil (Heriyanto, 2003:15) dan berupaya menemukan solusi.

Dalam ulasannya yang panjang lebar ini, menurut saya, Emil menyadari bahwa argumentasi yang ia bangun dalam tulisannya “Upaya Menggapai Kebijaksanaan” itu penuh dengan “kekurangan” yang patut ia jelaskan lagi secara “terang benderang” agar dapat dipahami secara baik.

Namun, bagi saya – mengamini Goenawan Mohamad dalam tulisannya tentang Aletheia – pemaparan Emil ini membuat “kita bisa silau dan tak melihat apa yang sebenarnya tak terang-benderang” (Tempo, 12/9/2018).

Akibatnya, yang tetap terkenang adalah kesan gelap yang ditinggalkan, berikut mengaburkan, dan pada akhirnya membutakan.

Oleh karena itu, penjelasan yang begitu panjang lebar disampaikan oleh Emil ini tidak mengubah sedikit pun pandangan saya yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa Emil adalah “seorang pencinta marxisme ortodoks yang kurang perhatian” atau “pencinta marxisme ortodoks yang sedang membutuhkan perhatian.”

Bahkan, upayanya untuk membangun “filsafat kemapanan” (kendati ia tolak) dan tetap setia padanya semakin dikuatkan oleh inkonsistensi-inkonsistensi pemikiran yang ia bangun sendiri (akan saya jelaskan nanti pada dua bagian pembahasan di bawah ini).

Jadi, posisi intelektual saya adalah hendak membebaskan watak ideologis dan dogmatis dari upaya Emil membangun “filsafat kemapanan.”

Lebih dari itu, saya ingin memperjelas gagal paham media Ekorantt.com perihal problem mendasar yang berujung pada perdebatan antara saya, Emil, dan Toni agar tidak menggiring opini pada penilaian yang “bukan-bukan” serta menyoal pentingnya Marxisme. Hal ini akan saya jelaskan secara singkat.

Ilmu, Pengetahuan, dan Logos

Menurut saya, pemikiran Emil yang bermasalah dan menimbulkan banyak inkonsistensi secara logis-formal, hingga meruntuhkan substansi pemikiran Emil sendiri berangkat dari beberapa “kekeliruan elementer” yang dibuatnya teristimewa dalam penggunaan kata-kata kunci yang saya pakai untuk mengkritiknya teristimewa, “ilmu” (lengkapnya ilmu pengetahuan) dan “pengetahuan.”

Kekeliruan elementer ini dapat dijelaskan dalam analogi ini: mengatakan bahwa nol itu kosong, padahal nol itu penting untuk Matematika dan Matematika penting untuk Fisika.

Seperti Emil mengatakan bahwa ilmu (lengkapnya ilmu pengetahuan) dan pengetahuan itu tidak penting bagi perdebatan ini, lalu mengganggapnya sama begitu saja hingga tidak menjelaskan keduanya lagi, padahal keduanya ini sedemikian penting yang turut mendukung pemikiran Emil.

Barangkali karena terlalu mementingkan logika dialektis materialis, Emil melupakan pentingnya logika formal untuk membuat pemikirannya bergerak sistematis dan metodis.

Jadi, inkonsistensi pemikiran Emil dapat ditemukan pertama, dalam kaitannya dengan pemahaman Emil tentang ilmu dan pengetahuan ini.

Menurut KBBI, ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.

Sementara itu, pengetahuan berarti segala sesuatu yang dapat diketahui.

Sesuai pengertian itu, ilmu jelas lebih sempit karena berbicara tentang satu hal.

Pengetahuan sendiri berbicara mengenai segala sesuatu termasuk ketidaksadaran dan mimpi yang lalu diangkat oleh Freud dalam studi ilmiahnya.

Kita dapat mendekati ilmu, teori, atau dogma karena kita mengetahui tentangnya, walaupun tidak penuh.

Pun jika ilmu itu kita golongkan lagi dalam kategori tertentu, objek kajiannya akan menjadi lebih spesifik lagi.

Misalnya, ilmu alam yang mengkaji fakta empiris yang beraneka ragam seperti fisika, biologi, dan kimia juga memiliki objek kajian yang berbeda.

Kedua, “logos.”

Pada ulasan sebelumnya, kata ini tidak dipakai.

Namun, dalam kritikannya terhadap Toni dan saya kemudian, logos itu dihadirkan.

Ia mengatakan bahwa saya memiliki pemahaman yang berbeda dengan logos yang dipahami oleh Toni.

Benar, walaupun harus diakui bahwa logos itu berasal dari Yunani.

Bila Emil mampu membedakan ilmu dan pengetahuan seperti sudah saya jelaskan di muka, maka Emil dapat memahami bahwa logos adalah bagian dari pengetahuan dan menjadi bagian penting dalam studi ilmu-ilmu.

Sebagai bagian dari pengetahuan, pemahaman tentang logos itu terus berkembang dan berubah-ubah.

Menurut James P. Werner,  “logos is defined in a number off different ways (2006: 79).

Ia bisa berarti kata, ucapan, pikiran, akal budi, kebenaran, pengetahuan, kebijaksanaan, dan sebagainya.

Yunani pra-Sokrates mengartikannya sebagai “the principle governing human reasoning about the cosmos.

Setelah abad ke-6 dan pengaruh tradisi Barat, logos dibedakan dari mythos.

Logos lalu diartikan dengan akal, pikiran.

Ketika ilmu berkembang dan semakin otonom, logos  ini disebut sebagai diskursus (Ermanno Bencivenga, 2017: 1).

Masing-masing ilmu lalu menyebut logos dengan aneka rupa terutama dalam diskursus rasional mencari kebenaran.

Teologi Kristen menyebut divine wisdom of God untuk logos, Yesus.

Retorika menyebutnya sebagai ucapan yang benar.

Kini, Emil menyebut logos (dapat dipahami melalui) logika dialektika materialis Marx.  

Jadi, tidak benar menurut saya, bila ketika membahas ilmu marxisme yang memiliki watak dogmatis lebih kurang versi Emil, dengan serta merta kita menerima begitu saja – seperti yang dirumuskan Emil – “dalam konteks logos ilmu dan pengetahuan tidak berbeda. Keduanya satu dan sama.”

Dalam konteks logos sekalipun, ilmu dan pengetahuan tidak bisa disamakan begitu saja mengingat perkembangan penggunaan kata itu dan konteks penggunaannya.

Lebih dari itu, karena tanpa melihat secara detail pemahaman seperti ini, Emil dengan serta merta mengatakan bahwa saya memandang logos bersifat materialis (logos huruf kecil).

Bila Emil cukup cermat membaca, Emil akan menemukan bahwa logos itu saya gunakan untuk menentang kecenderungan Toni untuk membangun “teologi kemapanan” sehingga takut pada kekuasaan, terutama kekuasaan dalam pembredelan buku-buku Marxis.

Seperti saya, Emil berupaya untuk menentang kekuasaan, tetapi upaya Emil untuk melawan kekuasaan itu akhirnya tidak mampu diraih karena kecenderungan untuk tetap setia pada “filsafat kemapanan,” kecenderungan kuat pada logos material.

Selanjutnya, kritik saya terhadap Emil tepatnya bukan karena ketidakpahaman saya tentang ilmu dan dogma, melainkan karena karakter dogmatis ilmu Marxisme yang saya temukan dalam penjelasan Emil.

Jadi, logos yang saya pahami adalah logos yang menyatukan filsafat dan teologi, ilmu-ilmu lain, dan juga Marxisme.

Oleh karena itu, walaupun Emil membuat pembedaan antara Logos (dalam huruf besar) dan logos (logos dalam huruf kecil) dan menganjurkan agar STFK mengajarkan Marxisme sebagai ilmu dan bukan sebagai ideologi, bagi saya, hal ini tetap merupakan kesimpulan yang bermasalah karena cacat inheren dalam logika formal yang barangkali tidak dipedulikan Emil. (Bersambung…)

TERKINI
BACA JUGA