Asam Timor Primadona Ekonomi Orang Desa Noemuti

Ekorantt.com – Bagi petani di daratan Timor, bulan Agustus sampai Oktober adalah musim di mana mereka sibuk memetik asam, mengupas dan menimbangnya untuk memperoleh rupiah demi menambah pundi- pundi untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan juga biaya pendidikan anak. Bagi warga, asam dapat menjadi penopang hidup.

Di Timor Tengah Utara (TTU), asam punya prospek cerah untuk hidup ekonomi keluarga. Warga tak sungkan-sungkan memburu asam di hutan karena tidak punya pemilik dan bebas memetik atau memungut buah yang jatuh. Asam sungguh-sungguh jadi primadona.

Pantauan Ekora NTT, akhir Agustus 2019 lalu, mama Anas warga desa Noemuti begitu semangat menyungkil asam atau dalam bahasa Dawan, boe kiu. Menurut mama Anas  bukan soal uang tetapi lebih dari itu untuk mengisi masa tua dengan hal kreatif-rekreatif.

“Saya bersama anak di malam hari kupas asam untuk kembali mengenang kebiasaan kami di masa kecil yang selalu rajin membantu orang tua untuk mengumpulkan asam. Kami jual dan membeli sendiri buku tulis dan perlengkapan sekolah lainnya. Termasuk juga membeli baju dan seragam sekolah. Kami sangat mandiri dalam kerja dan mengakrabi dunia pasar pada tahun 1973-1983,” cerita mama Anas.

Soal  harga asam,Wempi Fernandez  warga dusun Sikbeul- Noemuti mengatakan asam yang hanya dikupas dagingnya dijual tanpa dicungkil seharga Rp. 5000/kg sedangkan yang dicungkil seharga Rp 7000 hingga Rp 8000/kg.

iklan

“Saya biasa cungkil asam dan kumpul dalam jumlah banyak sambil menunggu harga pasar bagus baru ditimbang. Kalau harga tidak pas saya belum bisa jual ke pengepul,” ungkap Wempi.

 Prospek dan potensi asam yang lumayan menurut Wempi seharusnya pemerintah bisa memikirkan untuk melipatgandakan fungsi asam sehingga lebih berdaya guna karena bukan hanya daging buahnya yang bermanfaat tetapi biji asam juga dicari untuk diolah menjadi zat pewarna untuk industri tekstil.

Sejumlah warga desa Noemuti lainnya yang ditemui Ekora NTT mengatakan sebenarnya asam ini satu potensi ekonomi rakyat yang perlu dikembangkan karena asam bertahan tumbuh di daerah kering dan manfaatnya banyak.

“Yang jadi persoalan harga asam ini dipermainkan oleh pedagang lokal. Perlu ada kebijakan dari pemerintah supaya harganya naik dan perlu budidaya pohon asam karena pohon asam yang sekarang sudah berusia di atas 30-an tahun,” ujar warga.

Mereka lebih lanjut mengatakan harga asam masih mengikuti logika pasar bebas yang sangat kuat dikendalikan oleh pedagang. Petani asam sebagai penjual atau pemasok sulit untuk bersatu karena kepentingan sesaat.

“Semoga tercipta ekosistem bisnis yang sehat sehingga semua unsur dalam mata rantai memberikan kesejahtraan bagi seluruh pelaku. Gubernur NTT bisa juga menggalakkan kelor sebagai emas hijau dan garam sebagai emas putih juga asam sebagai emas coklat. Demikian harapan dari Upeng Nandes, salah satu tokoh warga.

John Tafaib, Kepala Sekolah SMKN Pertanian Polen Timor Tengah Selatan ( TTS) yang berada pada perbatasan TTU dan TTS mengatakan pihak sekolah giat membudidayakan asam dan mendampingi masyarakat dalam pengolahan hasil pertanian tanaman umur pendek dan panjang termasuk asam.

“Kami sudah punya data hasil survei tentang hubungan pengolahan asam oleh masyarakat pedesaan secara tradisional dengan peningkatan ekonomi masyarakat Polen,” ujar John.

Menurut John asam sangat menjanjikan karena warga TTU setelah panen padi di sawah salah satu alternatif kegiatan yang dapat menghasilkan uang adalah menjual asam.

Putra Noemuti ini juga mengatakan perlu budidaya asam karena asam yang ada ini sudah berusia tua sehingga produksinya berkurang. Untuk itu Pemda TTU tambah John tidak hanya fokus pada daun kelor dan garam tetapi juga harus memberi perhatian pula pada asam.

Yuven Fernandez

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA