Lusia Lue (74)

Maumere, Ekorantt.com – Sendu, mengharukan, memprihatinkan adalah ungkapan yang pas ketika memotret kehidupan nenek Lusia Lue (74) di Kampung Woja, Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.

Menyaksikan dari dekat rumahnya bikin hati sedih. Pasalnya, atap rumah bocor, dinding rumah dari halar (cincangan bambu) sudah berlubang-lubang dan sudah dimakan rayap. Tidak ada WC (toilet) dan kamar mandi.

Nenek Lusia hidup menjanda dan bertahun-tahun bertahan hidup di sebuah rumah reyot bersama enam cucunya yang ditinggal pergi ayah ibu mereka.

Ke enam cucunya adalah Maria Sofia (20), peserta didik kelas XII SMA Negri 2 Maumere, Maria Elma Nona ( 18), peserta didik SMK Sint. Gabriel Maumere, Yohan (17) putus sekolah SMP kelas VIII SMP Negeri 3 Nangahure, Raja, putus sekolah di kelas III Sekolah Dasar, Nius Kelas II SDK Ona dan Nia yang belum sekolah.

Saat ditemui Ekora NTT awal November 2019 lalu, janda asal Desa Lidi-Palue ini tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya menggunakan bahasa Palue yang diterjemahkan kedua cucunya Sofi dan Elma.

Ia mengungkapkan, kehidupan bersama 6 cucunya memprihatikan yang serba kekurangan. Bertahan hidup dengan dana PKH yang diterima sebesar 1 juta rupiah perbulan, ia harus mengurus makan minum dan biaya sekolah keenam cucunya.

Nenek Lusia Lue hidup bersama keenam cucunya di Woja, Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka

Sofi dan Elma kepada Ekora NTT secara polos mengungkapkan, kedunya sering tidak masuk sekolah.

“Kalau uang oto tidak ada kami tidak ke sekolah. Kalau sudah beberapa hari tidak sekolah nenek sering pinjam uang di tetangga untuk sewa oto,” ungkap Elma peserta didik kelas XII SMK Sint Gabriel ini dengan mata berkaca-kaca.

Sementara Sofi peserta didik Kelas XII SMA Negeri 2 Maumere mengakui tidak pernah minder dengan kehidupan yang memprihatinkan ini.

“Kami menjalani hidup ini dengan tidak berputus asa walau harus tinggal dengan Oma berusia senja ini. Kami tetap senang walaupun tidak ada uang untuk beli lauk pauk, makan dengan garam pun saya dan adik-adik tidak pernah mengeluh. Itulah kenyataan hidup,” ungkap Sofi, si sulung.

Sofi mengatakan, mereka selalu menggunakan WC tetangga. Untuk konsumsi air bersih, mereka mengambil di bak umum yang tidak jauh dari rumah.

“Kami punya satu kamar tidur hanya untuk anak wanita. Sedangkan adik yang laki- laki setiap malam tidur di rumah teman,” ujar Sofi.

Sofi dan Elma mengatakan “Kalau memang Tuhan menghendaki kami berdua lulus SMA maka kami akan mencari kerja di Maumere. Tidak mungkin kami pergi jauh dari Oma. Siapa yang akan memperhatikan dia?” kata mereka.

Nenek Lusia mengharapkan bantuan dari Pemda Sikka untuk memperbaiki rumahnya. Rumahnya dibangun tahun 1992 dan belum pernah diperbaiki karena ketiadaan dana.

Menurut tetangga, Wisrance Toji, yang setiap hari hidup berdampingan dengan Nenek Lusia mengungkapkan, kehidupan nenek Lusia dan enam cucunya sungguh memprihatinkan dibandingkan keluarga-keluarga lain di wilayah tersebut.

Namun satu hal yang patut beri jempol, kata Toji, walapun Nenek Lusia dan keenam cucunya hidup dalam kesusahan tetapi mereka aktif dalam kegiatan rohani baik di KBG maupun paroki.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here