Atambua, Ekorantt.com – Sirih (Piper Betle) adalah tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini biasa hidup di tempat yang lembab.
Daun sirih ditanam dengan menggunakan teknik stek. Panjang setiap stek sekitar 20-30 cm dari permukaan tanah.
Kedalaman tanah yang digali sekitar 20 cm dengan luas lubang tanam mencapai 20 meter. Dengan ukuran seperti itu, lebih dari 4-10 stek sirih dapat ditampung. Terhitung sejak awal tanam, butuh waktu sekitar 6 bulan untuk mendapatkan panenan pertama.
Di Pulau Timor, daun sirih sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat setempat. Daun dan buah sirih biasa dikunyah bersama gambir, pinang, tembakau, dan kapur.
Daun sirih dikonsumsi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Namun, pada umumnya, daun sirih dikonsumsi oleh orang dewasa. Terutama pada saat upacara adat. Pada momen upacara adat, daun sirih adalah wajib.
Dari aspek kesehatan, daun sirih dikaitkan dengan isu penyakit kanker mulut di satu sisi, tetapi juga isu pembentukan squamous cell carcinoma yang dapat memberikan kesehatan pada gigi di lain sisi.
Namun, dari aspek ekonomi, daun sirih punya cerita sendiri. Riwayat selembar daun sirih.
Dunia sedang dilanda pandemi. Pandemi pun melanda daun sirih dan anak manusia yang menggantungkan nasib pada setiap lembarnya. Dalam empat (4) bulan terakhir, harga selembar daun sirih merosot tajam.
Pasar Rakyat Sekutren, Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu sepi pengunjung. Pasar ini adalah tempat transaksi jual beli tempat rakyat mendapatkan sejumput penghasilan.
Namanya Fransisco Soares. Fransisco adalah petani sirih.
Saat ditemui Ekora NTT di Pasar Rakyat Sekutren pada Rabu (27/5/2020), Fransisco sedang berjualan sirih. Fransisco sudah berjualan sirih selama 20 tahun.
Dia bertani sirih di Desa Tohe bersama beberapa koleganya di atas lahn seluas 10 are. Hasil pertanian sirih itu kemudian dijualnya di Pasar Rakyat Sekutren.
Harga setiap ikat Rp20.000,00. Setiap ikat terdiri atas 40-50 lembar daun siri. 15 lembar daun siri dijual dengan harga Rp5.000,00 apabila dijual di luar pasar mingguan.
Fransisco mengatakan, biasanya, daun siri dipanen paling cepat sebulan sekali. Dirinya memiliki lebih dari 15 pohon. Setiap pohon mampu menghasilkan 10 ikat.
Apabila dirawat dengan benar, pohon sirih tersebut dapat menjalar di atas pohon hingga 20 meter. Daun-daun sirih dipetik menggunakan bambu yang dipotong menyerupai tangga.
“Kita di Desa Tohe bersama sekitar 10 orang memilih bertani sirih karena memang cocok untuk bertani. Sebab, tanah lembab dengan air yang bercukupan dan untuk memelihara sirih tidak membutuhkan biaya, tetapi cukup menjaga agar tanah tetap lembab,” ujarnya.
Selama ini, Fransisco membiayai kebutuhan hidup dan pendidikan anak dengan menjual daun sirih. Setiap bulan, dia mampu menghasilkan Rp1.000.000,00.
Namun, dalam empat bulan terakhir, dirinya mengaku harga daun sirih menurun drastis karena berbagai sebab. Di antaranya bertambahnya petani sirih dan wabah Covid-19.
“Memang banyak persoalan yang kita hadapi itu membuat kita merugi. Apalagi di tengah pandemi ini, orang takut mengkonsumsi daun sirih. Yah, mau bagaimana lagi daun sirih yang awalnya kita jual dengan Rp20.000,00, tetapi semenjak adanya Covid-19, harga jual daun sirih jatuh sampai Rp4.000,00. Kita tidak jual, kita mau makan apa? Mau tidak mau kita harus jual walaupun harga di bawah yang seharusnya,” keluh Fransisco.
Selain bertani sirih, Fransisco juga bertani jagung. Hasil produksi jagung yang berlebih dijual untuk membeli beras.
“Untuk mengatasi persoalan harga jual di bawah, kami membatasi jumlah penjualan. Setiap Minggu, kami hanya bisa jual 10-15 ikat. Apabila dikalkulasi, kita hanya dapat Rp40.000,00-Rp60.000,00 setiap minggu. Tentu saja saya berharap Covid-19 cepat berlalu,” pungkas Fransisco.
Kontributor: Kristo Dos Santos