Bangun Kafe untuk Edukasi Petani Kopi

Borong, Ekorantt.com – Sejak kuliah, Helinimus Men, punya impian untuk membangun kafe. Ia mau membangun kafe karena ingin mengangkat harkat dan martabat petani kopi, termasuk orangtuanya.

Menurut pria asal Lamba, Kecamatan Lamba Leda Selatan itu, selama ini, orangtuanya punya hasil kopi yang melimpah. Namun, itu tidak membuat mereka berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengongkos sekolah anak-anaknya, mereka masih kesulitan. Hal itu disebabkan karena harga kopi yang tidak stabil yang ditentukan oleh pemilik modal. Pemodal untung, petani buntung. Meski kopi Manggarai Timur sudah mendunia, kehidupan petani kopi tak berubah.

Berangkat dari realitas itu, Men nekad membangun kafe di tengah pandemi Covid-19. Di kafe yang terletak di jalan Borong-Lehong, Peot, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong itu, Men menyediakan menu kopi khas Manggarai Timur, yakni Kopi Poco Kepe – kopi milik orangtuanya.

“Saya mau bisnis kopi dari hulu sampai ke hilir. Hulunya orangtua saya. Hilirnya saya. Orangtua saya sebagai petani kopi. Saya di hilir langsung dengan konsumen,” tuturnya kepada EKORA NTT baru-baru ini.

Selain menyediakan Kopi Poco Kepe, kafe dengan nama ‘Caffe & Resto 33’ itu juga menyediakan berbagai jenis snack dari pangan lokal dan juga berbagai makanan.

iklan

Kafe ini telah mulai beroperasi hampir sebulan. “Pemasukannya lumayan untuk usaha yang baru mulai dibuka. Apalagi di tengah pandemi,” ungkap Men.

Usaha Kafe Mulai Menjamur

Usaha kafe di Kabupaten Manggarai Timur kini mulai menjamur. Sesuai data EKORA NTT, sejak 2019, sekitar delapan kafe dibuka di Borong, ibu kota Manggarai Timur. Di sejumlah kafe itu, minuman khas yang ditawarkan adalah kopi asli Manggarai Timur, seperti Kopi Colol dan lainnya.

Men mengatakan, ia membuka kafe bukan untuk bersaing dengan sejumlah usaha sejenis di Borong. “Target saya itu untuk edukasi petani kopi di Manggarai Timur bahwa kalau kopi diolah dengan baik itu rasanya enak dan pasti harganya juga menjanjikan,” katanya. 

“Saya ingin membangun Manggarai Timur dengan cara saya,”imbuhnya.

Menurut Men, di Caffe & Resto 33, harga satu gelas kopi terjangkau untuk semua kalangan. “Saya jual murah karena kopinya itu saya ambil dari orangtua saya. Meski saya jual murah per gelas, tetapi bila dihitung, satu kilogram kopi biji itu, jika sudah diolah dan dijual dalam bentuk minuman, maka menghasilkan ratusan ribu rupiah. Ini artinya bahwa harga kopi kita itu mahal,” paparnya.

Men mengatakan, target konsumen dari usahanya itu adalah anak muda, PNS, THL dan kontraktor di Manggarai Timur. 

“Kita belum bisa menargetkan konsumen dari wisatawan. Pariwisata kita belum bisa diandalkan sebagai salah satu penopang usaha kafe,” ujarnya.

Tempat Hiburan Keluarga

Men mengungkapkan, tempat usahanya itu telah dirancang, selain untuk menyesap kopi sambil makan snack pangan lokal, juga sebagai tempat hiburan keluarga. Pada setiap malam Rabu dan Sabtu, ada live music dan family karaoke.

Bagi Anda yang lagi penat dan ingin mencari hiburan di luar rumah, Cafe & Resto 33 bisa menjadi salah satu tempat alternatif.

Live music dan karaoke keluarga itu gratis,” tutur Men.

“Kapasitas ruangan kafe 30 orang. Ini sudah mengikuti aturan jarak duduk sesuai protokol kesehatan,” tambahnya.

Belajar di LSM

Men mengaku berterima kasih kepada LSM Ayo Indonesia yang telah memberinya kesempatan untuk belajar tentang kopi: mulai dari pengolahan pasca-panen hingga cara meracik agar menghasilkan cita rasa kopi yang khas.

Selain diberi kesempatan belajar kopi, LSM tersebut juga membantu pengadaan sejumlah alat bantu dalam meracik kopi, seperti mesin espresso, grinder, dan teko air. Berkat alat-alat itu, akhirnya Men bisa mewujudkan mimpinya untuk membuka kafe.

“Kami sekitar 20-an orang yang diberi pelatihan tentang kopi oleh LSM Ayo Indonesia. Dari 20-an orang itu, saya menjadi salah satu dari lima orang yang dinyatakan lulusan terbaik dalam pelatihan itu. Saya berterima kasih kepada LSM Ayo Indonesia,” ucapnya.

Men mengaku berniat untuk bekerja sama dengan pelaku UMKM dengan memasarkan produk mereka. Kepada para pengrajin seperti pengrajin rotan, bambu dan lainnya, bisa memajang produknya di Cafe & Resto 33.

“Nanti sistemnya, saya ambil lima persen dari hasil penjualan per produk UMKM itu,” pungkasnya.

Rosis Adir

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA