Punya Ijazah tetapi Tidak Terampil, Itu Gagal!

Ruteng, Ekorantt.com – Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia, Adrianus Garu, mendorong para mahasiswa untuk melakukan wirausaha secara kontinu, bukan hanya sekali dilakukan.

Dalam menghadapi bonus demografi, kata dia, tidak baik jika hanya sekadar mengandalkan ijazah, tapi tidak punya keterampilan.

“Walaupun punya ijazah tapi tidak ada keterampilan, ini kita gagal,” kata Adrianus sebagai narasumber saat seminar dan kuliah umum di Aula GUT Lantai 5 Unika Santu Paulus Ruteng, baru-baru ini.

Kegiatan ilmiah bertajuk ‘Kesiapan Pendidikan Manggarai dalam Menghadapi Bonus Demografi’ itu dihadirkan juga Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai, Fransiskus Gero, sebagai narasumber.

Adrianus mengapresiasi mahasiswa Unika yang turut terlibat praktik wirausaha lewat kegiatan bazar yang berlangsung di lapangan Basket Unika Ruteng.

iklan

“Kreatif ini harus didorong dari lokal,” ucap dia.

Akan tetapi, untuk mendukung hal tersebut sangat penting adanya dorongan dari pemerintah, salah satunya harus tetapkan kawasan industri.

Dalam kesempatan itu juga Adrianus mengajak para mahasiswa untuk berani memulai, bukan berpikir pesimis sebelum mulai, apalagi gengsi.

“Kecenderungan orang kita mau kerja bersih. Tapi, meskipun kerja kotor yang penting kita bisa nikmati hidup,” ujarnya.

Sementara Fransiskus berpendapat, generasi ke depan mesti disiapkan menjadi generasi digital, melek sains, tetap membumi, dan tetap berbudaya.

Selain itu, harus menjadi manusia yang jujur, bermental baik, menghargai perbedaan, berbudaya, dan punya lingkungan yang mendorong proses-proses kreatit. Sehingga anak-anak nanti tidak hanya punya ijazah, tapi juga tangguh, kompetitif dan visioner.

“Generasi emas 2045 merupakan masa depan harapan bangsa terutama di bidang pendidikan,” ujar alumnus GMNI Kupang itu.

Hematnya, pendidikan tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga nilai-nilai, terutama karakter atau akhlak.

“Karakter diri seorang generasi emas yang ditanamkan haruslah berlandaskan nilai kejujuran, nilai kebenaran, dan nilai keadilan. Bukan penipu,” kata Fransiskus.

Bonus Demografi

Warek III Unika Santu Paulus Ruteng, RD Inosensius Sutam, mengemukakan bonus demografi merupakan suatu keadaan di mana terjadi peningkatan penduduk sebuah negara pada usia produktif, yaitu berkisar antara 16 hingga 65 tahun.

Ia menuturkan peningkatan tersebut diikuti pula dengan menurunnya angka kelahiran serta kematian.

Pada tahun 2045, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70 persen dalam usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan sisanya 30 persen merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Inosensius berkata, pembangunan manusia menurut standar United Nations Development Program (UNDP) terdiri dari 4 kriteria, yakni IPM >80 kategori sangat tinggi, IPM 70-79 kategori tinggi. Serta IPM 60-79 kategori sedang.

Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2022, lanjutnya, mencapai 72,91 meningkat 0,62 poin (0,86 persen) dibandingkan tahun sebelumnya (72,29).

Lalu IPM NTT 65,90, Manggarai 65,83, Mabar, 64,92, dan Matim, 62,30, kata RD Inosensius.

“Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) terdapat 3 indikator utama, yaitu indikator kesehatan, tingkat pendidikan dan indikator ekonomi. Pengukuran ini menggunakan tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, standar hidup layak,” kata dia.

TERKINI
BACA JUGA