Bisnis Sempat Gulung Tikar, Dion Dulang Cuan dari Usaha Ikan Bakar

Dion tidak putus asa dan tidak ingin larut dalam kegagalan. Ia bangkit lalu melirik peluang bisnis lain yakni usaha ikan bakar. Berkat konsistensinya, kini dia sudah mulai memetik hasil.

Bajawa, Ekorantt.com – Dion punya pengalaman pahit dalam dunia bisnis. Usaha perabot rumah tangga yang ia tekuni selama belasan tahun gulung tikar alias bangkrut akibat pandemi Covid-19.

“Usaha saya (lancar) dan hampir jadi toko. Tapi Covid-19 datang hancur semua. Padahal belasan tahun saya rintis usaha itu,” ujarnya.

Dion tidak putus asa dan tidak ingin larut dalam kegagalan. Ia bangkit lalu melirik peluang bisnis lain yakni usaha ikan bakar. Berkat konsistensinya, kini dia sudah mulai memetik hasil.

Pria bernama lengkap Dionisius R. Keo ini adalah warga Desa Ngadha Mana, Kecamatan Bajawa. Ia bersama istri dikarunia tiga anak. Kini mereka tinggal di Kota Bajawa.

Suatu pagi pada awal Juli lalu, di pinggir Jalan Soedirman, Tanalodu, Kota Bajawa, asap putih mengepul disusuli aroma sedap menyengat.

Dion mengipas-ngipas asap sambil membolak-balik ikan bakar pesanan pelanggan di atas alat panggang. Beberapa orang tampak mengantre memesan ikan bakar.

Ia menjalani usaha ikan bakar sejak tahun 2022 dengan modal awal Rp500 ribu dari sisa tabungannya. Didukung dengan peralatan panggang seadanya, ia konsisten merawat kepercayaan pelanggan hingga sekarang.

Setiap hari, ia mulai bekerja sejak pukul 07.00 pagi. Sekitar pukul 09.00 beberapa pembeli sudah mulai berdatangan.

“Saat pembeli belum datang, saya biasanya panggang dan simpan di wadah. Biasanya 20 ekor, habis baru saya panggang lagi,” katanya.

Dia membeli satu box ikan segar berisi paling sedikit 250 ekor seharga Rp500 ribu.

“Kalau memasak memang hobi saja dari kecil,” tutur Dion.

Ia memastikan ikan yang dipilihnya adalah ikan segar dan layak dikonsumsi. Ia berprinsip bahwa mutu dan pelayanan menjadi garansi untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

Demi menggaet banyak pelanggan, ia menyediakan bonus sambal khusus yang diraciknya sendiri.

“Untuk bumbu pastinya biasa, seperti perasan jeruk, kunyit, bawang merah, putih dan lain-lain,” ucap dia.

Dalam sehari, Dion bisa menghabiskan hingga 100 ekor lebih ikan segar dengan harga yang variatif.

“Kalau ikan kecil begini, biasanya satu ekor Rp10 ribu, jadi saya bisa dapat satu juta lebih per hari. Kalau yang besar harga agak beda,” jelasnya.

Dion menuturkan, hasil yang diperolehnya merupakan pendapatan kotor, belum dipotong dengan harga beli ikan dari nelayan atau penjual ikan segar.

Adapun kendala yang ia hadapi selama menjalankan usaha yakni cuaca yang tidak menentu pada bulan-bulan tertentu, terutama pada Juni hingga Agustus. Hal itu berdampak pada kenaikan harga ikan yang signifikan.

Meskipun cuaca buruk, ia tetap bertahan sembari menanti cuaca kembali normal.

“Seperti sekarang ini, ikan susah sekali. Satu box biasa Rp500 ribu bisa naik sampai Rp1 juta sampai Rp1,5 juta,” katanya.

Keuntungan yang ia dapat dipakai untuk keperluan rumah tangga, pendidikan anak, dan mengangsur pinjaman.

Chandra, salah satu pembeli mengaku ikan bakar milik Dion memiliki rasa yang berbeda, apalagi cita rasa sambalnya.

“Biasanya kalau lagi senang makan ikan bakar, pasti belinya di sini,” katanya.

Candra mengaku harga ikan bakar murah dan dapat dijangkau semua kalangan, termasuk dia yang tinggal di kos-kosan.

TERKINI
BACA JUGA
spot_img
spot_img