Bajawa, Ekorantt.com – Yayasan Puge Figo mengadakan pertemuan dengan sejumlah komunitas pencinta alam yang ada di Kabupaten Ngada pada Jumat, 19 Juli 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam ‘temu komunitas’ itu bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Ketua Yayasan Puge Figo, Patrisius Jena berkata, upaya pelestarian lingkungan tentu tidak bisa berjalan sendiri, namun harus menggandeng sejumlah pihak termasuk komunitas pencinta lingkungan.
“Kami berharap teman-teman bisa menjadi mitra eksternal yang sifatnya independen dan tidak terikat,” kata Patrisius.
Menurut dia, kemitraan diperkuat dengan sejumlah kolaborasi dan dukungan dari yayasan sebagai inisiator, meski memang tidak terikat dalam program tetap Yayasan Puge Figo.
Patrisius menyoroti minimnya kebijakan pemerintah kabupaten hingga desa di Ngada yang secara spesifik menyasar pada pelestarian lingkungan atau menaman pohon.
“Sehingga saya berharap teman-teman bisa mengawal setiap perencanaan di desa sehingga bisa mengarah secara spesifik ke lingkungan,” katanya.
Yayasan Puge Figo berkomitmen untuk memberi dukungan sesuai kebutuhan komunitas alam termasuk anakan pohon.
Dalam kesempatan itu, Patrisius berharap ada keputusan menghadirkan sekretariat bersama (Sekber) bagi komunitas pencinta alam.
“Melalui Sekber ini kita juga bisa menghasilkan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah,” katanya.
Koordinator Program, Nao Cosme Remon menambahkan, kehadiran komunitas pencinta alam menjadi sebuah gerakan baru.
“Dalam kerja sama ini semua ada perencanaan lebih matang untuk apa yang bisa kita lakukan nanti,” katanya.
Melalui kerja sama, Remon meyakini bisa terbentuk jaringan baru untuk bersama-sama menjaga lingkungan.
Ia mengaku sejak hadir pada 2024 di Kabupaten Ngada, pihaknya telah menanam 409.863 anakan pohon. Anakan pohon tersebut ditanam di Kabupaten Ngada dan Nagekeo.
Tidak sampai di situ, Yayasan Puge Figo juga mendampingi 230 petani binaan yang ada di Kabupaten Ngada dan Nagekeo.
“Visi kami membangun kesadaran masyarakat tentang pelestarian lingkungan,” katanya.
Ovan Lado dari Komunitas Jagat Nata berkata, mata air menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan budaya. Namun, kata dia, saat ini beberapa mata air sudah kering akibat kerusakan lingkungan.
“Dalam budaya orang Bajawa ketika pria belis wanita dan dalam satu ritual mandi di mata air tapi hari ini tidak bisa lagi, karena banyak mata air yang sudah kering,” ujarnya.
Ovan berharap kerja sama tersebut mampu mendorong pelestarian lingkungan secara lebih masif, terutama di kawasan mata air.













