Gotong Royong Warga Akhiri Krisis Air Bersih Puluhan Tahun di Dusun Rotat

Hingga Kamis, 16 Juli 2026, proses instalasi pipa telah berjalan setengah jalan dari total jarak sepanjang kurang lebih tiga kilometer yang membelah medan berbukit.

Maumere, Ekorantt.com – Warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, berhasil mengakhiri krisis air bersih menahun melalui gotong royong perbaikan jaringan pipa.

Pada Rabu, 15 Juli 2026, warga bersama para tokoh masyarakat telah memulai aksi nyata menarik jaringan pipa dari sumber mata air di kawasan Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka menuju permukiman mereka yang berjarak kurang lebih tiga kilometer.

Setidaknya ada sekitar 90 Kepala Keluarga (KK) atau ratusan jiwa di Dusun Rotat yang kini bersiap menyambut kemerdekaan mereka dari krisis air bersih yang telah membelenggu selama puluhan tahun.

Salah seorang warga Dusun Rotat, Edita Dua Lodan mengaku senang dan terharu karena belum pernah menikmati air bersih yang merata sejak Indonesia merdeka.

Selama puluhan tahun mereka terpaksa membeli air tangki dengan harga berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per tangki.

“Untuk keluarga kecil dengan empat anggota, minimal butuh dua tangki sebulan. Biayanya sangat mahal. Kebajikan Bapak Amandus yang memberikan air ini secara gratis seumur hidup adalah berkat yang tidak bisa kami balas,” ungkap Edita.

Ia juga mengkritik keberadaan proyek air bersih Ibu Kota Kecamatan (IKK) Nita yang telantar di wilayah mereka.

Proyek yang menelan anggaran fantastis tersebut kini hanya menjadi monumen kegagalan pemerintah di mata warga.

“Di Dusun Rotat itu ada proyek raksasa yang gagal, yaitu IKK Nita. Ini menunjukkan bahwa kami tidak butuh proyek besar (pemerintah), tapi kami butuh aksi nyata yang bisa dinikmati. Hari ini kami mendapatkannya dari Bapak Amandus, Ibu Irvin, dan Bapak Jano,” sebut Edita.

Inisiatif ini lahir dari kedermawanan Suitbertus Amandus, tokoh masyarakat Sikka yang merelakan 11 titik mata air yang muncul di kebun pribadinya di Nilo untuk dialirkan secara cuma-cuma kepada warga Rotat.

Hingga Kamis, 16 Juli 2026, proses instalasi pipa telah berjalan setengah jalan dari total jarak sepanjang kurang lebih tiga kilometer yang membelah medan berbukit.

Suitbertus mengatakan, mereka sudah mulai menarik pipa sejak kemarin, Rabu 15 Juli 2026. Pekerjaan dimulai dari mata air menuju Rotat melewati dua bukit.

“Puji Tuhan, hari ini sudah sampai di pertengahan jalan, sekitar 1,5 kilometer. Kami targetkan hari Selasa depan air sudah bisa tiba di Dusun Rotat,” ujarnya pada, Kamis, 16 Juli 2026.

Proyek ini menjadi potret kerja sama yang solid antarwarga. Warga Dusun Rotat bahu-membahu memikul dan mendistribusikan pipa melewati jalur berbukit dari Nilo. Sementara warga Nilo membantu penuh dalam proses instalasi teknis di area sumber air.

Gerakan ini murni berbasis swadaya tanpa dana pemerintah. Pembiayaan pembelian pipa ditanggung bersama secara gotong royong oleh warga, dibantu oleh tokoh masyarakat Yakobus Jano, serta anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Perindo (Dapil 4), Yuslin Nursivin Dua Botha.

Sebelum proses penarikan pipa dimulai, warga dan para tokoh lebih dulu menggelar ibadat sabda yang dipimpin oleh pastor paroki setempat langsung di lokasi mata air di Nilo.

Tak hanya itu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lokal, ritual pemberian makan kepada para leluhur juga dilaksanakan.

“Kami memulai dengan ibadat sabda bersama pastor paroki di mata air,” jelas Suitbertus.

“Kami juga lanjutkan dengan memberi makan para leluhur, memohon agar Allah dan alam membantu kelancaran proses pengaliran air ini ke Rotat.”

Dengan progres pengerjaan yang cepat, warga Dusun Rotat kini menghitung hari untuk menyambut aliran air bersih pertama yang langsung mengalir ke rumah-rumah mereka pada awal pekan depan.

TERKINI
BACA JUGA