Sikka Jadi Tuan Rumah Peningkatan Kompetensi Tenaga Konstruksi

Menurutnya, kegiatan ini menggunakan skema urunan pendanaan atau cost sharing untuk menyertifikasi 31 peserta. Mereka akan mengikuti uji kompetensi terlebih dahulu.

Maumere, Ekorantt.com – Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menjadi tuan rumah pembekalan dan uji sertifikasi tenaga terampil konstruksi metode on-site proyek APBD jabatan kerja pelaksana lapangan pekerjaan gedung (level 6).

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis, 5-6 Agustus 2026 di Aula St. Camilus Social Center Maumere. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa atau yang akrab disapa Femy Bapa.

Femy Bapa menyampaikan terima kasih karena Sikka dipilih sebagai lokus kegiatan.

Menurutnya, hal ini merupakan penantian panjang sejak awal Januari yang akhirnya bisa terlaksana sekarang.

“Peserta kegiatan ini bervariasi. Ada yang baru selesai wisuda, ada yang sudah punya pengalaman kerja, hingga yang memiliki perusahaan sendiri,” ujar Femy Bapa.

Ia menilai kegiatan ini sebagai kesempatan yang sangat baik. Secara regulasi nasional, tuntutan terhadap kompetensi tenaga kerja, khususnya di bidang konstruksi, selalu harus dipenuhi secara optimal.

Pengembangan kompetensi tidak hanya dibutuhkan untuk kegiatan pemerintah, tetapi juga sektor lain hingga swasta.

“Antusiasme pendaftar sangat tinggi. Kami berharap tetap mendapat alokasi pada tahun berikutnya karena banyak tenaga kerja konstruksi yang membutuhkan peningkatan kompetensi,” imbuh Femy Bapa.

Ketua Pelaksana Uji Sertifikasi Balai Jasa Kontruksi Wilayah (BJKW) IV Surabaya, Jeffy Alfanny mengatakan, tugas balai tidak hanya melakukan pembinaan terhadap tenaga kerja konstruksi, melainkan juga kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Wilayah kerja balai ini meliputi enam provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT, serta 119 kabupaten. Salah satunya daerah yang mengajukan kerja sama uji sertifikasi adalah Kabupaten Sikka.

Menurutnya, kegiatan ini menggunakan skema urunan pendanaan atau cost sharing untuk menyertifikasi 31 peserta. Mereka akan mengikuti uji kompetensi terlebih dahulu.

“Jika lolos, peserta akan memperoleh sertifikat yang berfungsi sebagai lisensi resmi untuk bekerja di industri konstruksi,” ujar Jeffy.

Di tengah efisiensi, pihaknya berharap kerja sama ini dapat terus terjalin dengan baik ke depan.

“Tugas pembinaan kepada OPD harus tetap berjalan agar OPD yang terbina mampu menghasilkan sumber daya manusia atau tenaga kerja konstruksi yang berkompeten,” pungkas Jeffy.

TERKINI
BACA JUGA