Kupang, Ekorantt.com – Sebanyak 91 bangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi magnitudo 6,1 yang mengguncang pada Minggu, 5 Oktober 2026.
Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alphawan Rangga Kaka berkata, bangunan yang rusak terdiri atas rumah warga dan fasilitas publik, termasuk rumah ibadah dan sekolah.
“Data terbaru ada 91 bangunan rusak berat, termasuk rumah ibadah dan sekolah,” kata Rangga saat diwawancarai Ekora NTT, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Rangga, jumlah tersebut masih dapat bertambah karena proses pendataan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Barat Daya masih berlangsung.
Pendataan dilakukan bersama pemerintah desa dan koordinator di setiap kecamatan.
Dari data sementara, terdapat tiga rumah warga yang mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat dihuni. Para penghuni rumah tersebut untuk sementara mengungsi di rumah tetangga.
Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan kepada warga terdampak. Namun, Pemkab Sumba Barat Daya belum menetapkan status tanggap darurat.
Rangga mengatakan pemerintah masih melakukan rapat bersama perangkat daerah untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Ia juga mengakui, usai gempa dirinya dan Bupati Sumba Barat Daya telah turun langsung meninjau sejumlah wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga masih menunggu kedatangan tim BNPB dan BPBD Provinsi NTT yang sedang dalam perjalanan dari Labuan Bajo menuju Sumba.
“Data terus diperbarui. Teman-teman di desa masih melakukan pendataan melalui koordinator di setiap kecamatan,” ujarnya.
Gempa ini, kata Rangga, tidak menyebabkan korban meninggal dunia. Satu korban meninggal usia 70 tahun yang dikabarkan bukan karena gempa namun karena shok akibat guncangan.
“Korban langsung karna reruntuhan tidak ada, tapi karna efek gempa. Korban dibopong sama keluarga keluar rumah dan meninggal.”
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena memastikan pemerintah provinsi mendukung penanganan awal bencana di Sumba Barat Daya.
Ia telah meminta BPBD Provinsi NTT segera mengirimkan kebutuhan dasar bagi warga terdampak, terutama sembako dan terpal.
“Terutama untuk kebutuhan dasar makan, minum dan tempat tidur. Banyak warga masih takut tidur di dalam rumah, sehingga terpal menjadi salah satu kebutuhan mendesak,” kata Melki.
Menurut Melki, tingkat kerusakan bangunan dipengaruhi kuatnya guncangan serta lokasi titik gempa yang relatif dekat dengan wilayah terdampak.
Ia menyebut laporan kerusakan masih terus bertambah karena pemerintah daerah masih melakukan pendataan. Guncangan gempa juga dirasakan hingga wilayah Manggarai Barat.
Melki mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat segera dipenuhi.













