Kupang, Ekorantt.com – Pekerja migran Indonesia yang menghadapi persoalan di perantauan akan mendapat akses rumah aman, pendampingan, dan pelatihan melalui pembangunan Graha GMIT Eklesia Batam yang diinisiasi Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam.
Pembangunan fasilitas pelayanan ini ditandai dengan peletakan batu pertama pada 1 November 2026 di Batam. Graha ini disiapkan untuk membantu pekerja migran yang membutuhkan perlindungan, pemulihan, serta bekal keterampilan untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri.
Serena Francis mengatakan, pembangunan graha merupakan upaya menghadirkan ruang pelayanan yang dapat menjawab kebutuhan pekerja migran, khususnya mereka yang mengalami kesulitan selama bekerja di luar negeri maupun saat kembali ke Indonesia.
Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, Serena berkomitmen mendukung pembangunan graha dengan melibatkan Pemerintah Kota Kupang dan jejaring mitranya.
“Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi saudara-saudara yang menghadapi kesulitan di perantauan. Melalui pendampingan dan pelatihan, kita berharap mereka dapat pulang dengan harapan serta kesiapan untuk hidup mandiri,” kata Serena.
Graha tersebut diharapkan menjadi rumah persaudaraan bagi pekerja migran Indonesia, termasuk mereka yang kembali melalui Batam setelah bekerja di Malaysia dan Singapura.
Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Sanep Blegur, mengatakan pembangunan graha merupakan bentuk pelayanan kasih gereja untuk memberikan perlindungan dan pendampingan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kami mengapresiasi inisiatif Ibu Serena Francis bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam. Kita berharap rumah ini menjadi tempat saudara-saudara kita diterima, dipulihkan, dan dikuatkan untuk kembali membangun kehidupan,” ujarnya.
Kebutuhan terhadap pelayanan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah penanganan kasus pekerja migran. Data Lembaga Jaringan Safe Migran mencatat, jumlah penanganan meningkat dari 164 kasus pada 2024 menjadi 448 kasus pada 2025, atau naik sekitar 173 persen.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Graha GMIT Eklesia Batam dirancang memiliki fasilitas rumah aman, pusat konseling, ruang pembinaan, dan sarana pelatihan.
Pembangunan dan kelengkapan fasilitas diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp5,27 miliar dengan luas bangunan 1.033 meter persegi.
Fasilitas yang disiapkan meliputi dormitori perempuan dan laki-laki dengan kapasitas total 56 orang, ruang konseling dan administrasi, ruang pembinaan dan belajar, ruang makan, pantry, serta area rekreasi sederhana.
Selain itu, tersedia 12 kamar guest house berkapasitas 24 orang, lobi, area komunal, taman tengah, serta hall multifungsi yang dapat digunakan untuk ibadah, seminar, dan pelatihan.
Pelayanan graha akan dikembangkan melalui empat pilar, yakni rumah aman, pusat pemberdayaan, pusat pembinaan jemaat, dan pusat budaya Indonesia Timur.
Pdt. Sanep berharap dukungan berbagai pihak dapat memastikan pembangunan graha berjalan baik dan pelayanan bagi pekerja migran dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Gagasan ini turut mendapat dukungan Deputi BP Batam, Fary Francis, anggota DPR RI Saraswati Djojohadikusumo, Pemerintah Kota Batam, serta Pengurus PGI Wilayah Kepulauan Riau.
Dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya juga diajak bergotong royong mendukung pembangunan graha agar fasilitas tersebut dapat segera dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia. (Adv)













