Ruteng, Ekorantt.com – Project Kelompok Usaha dan Bisnis Inklusif (Kubik) 2.0 Yayasan Ayo Indonesia mengadakan Pelatihan Social-Emotional Learning (SEL) Seri 2 pada 28–29 Oktober 2026 di Rumah Retret Puspita Efata, Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Kubik 2.0 merupakan proyek inovatif yang diinisiasi oleh Ayo Indonesia untuk memberdayakan orang muda dengan disabilitas, penyintas kusta, dan para caregiver (pendamping/pengasuh) secara menyeluruh melalui pendekatan sosial-emosional.
Program ini fokus pada peningkatan kesejahteraan sosial-emosional serta penguatan peran keluarga dalam mendukung kemandirian ekonomi melalui usaha kecil.
Pelatihan ini diikuti 34 orang muda dengan disabilitas calon penerima manfaat Kubik 2.0 dan 10 caregiver atau anggota keluarga pendamping.
Community Based Rehabilitation (CBR) Worker Kubik, Boy Doreng berkata, proses perkembangan diri seseorang dianalogikan dengan pertumbuhan sebuah pohon.
Karena itu, dalam pelatihan SEL, peserta diajak merefleksikan perjalanan hidupnya melalui gambaran pohon pribadi.
“Pohon terdiri atas beberapa bagian yang menopang satu sama lain,” ungkapnya.
Boy berkata, pada pelatihan sebelumnya peserta mempelajari bagian akar dan batang.
Bagian akar, menurutnya, mencakup rasa aman, pengenalan diri, kekuatan pribadi, keinginan, perasaan, serta kemampuan menenangkan diri dan mengamati pikiran.
Sementara bagian batang membahas hubungan sehat, pengambilan keputusan, memahami perspektif orang lain, kolaborasi, dan kerja tim.
Pada seri 2, kata dia, peserta belajar tentang hutan yang berkaitan dengan perubahan dalam hidup, keterlibatan dengan masyarakat, resolusi konflik, pemecahan masalah di masyarakat.
Kemudian, mereka juga mempelajari tentang bagian cabang, daun dan buah yang berbicara tentang refleksi perjalanan kehidupan, upaya mengatasi tantangan, visi hidup di masa depan.
“Pelatihan berlangsung ketika masyarakat Manggarai masih dalam masa pemulihan pascagempa. Kondisi ini dapat memengaruhi rutinitas, rasa aman, hubungan sosial, akses layanan, serta rencana pengembangan diri dan ekonomi peserta,” jelas Boy.
Karena itu, proses pembelajaran memberi ruang bagi peserta untuk merefleksikan perubahan yang mereka alami, mengenali sumber dukungan, dan menyusun langkah-langkah yang realistis untuk melanjutkan tujuan mereka.
Ia mengemukakan, hari pertama, peserta mempelajari hutanku, merefleksikan perubahan hidup pascagempa melalui peta sederhana “sebelum-sekarang-langkah berikutnya”.
“Kemudian keterlibatan dengan masyarakat. Materi ini memahami partisipasi yang bermakna dan inklusif, termasuk akses informasi dan layanan serta kesempatan menyampaikan kebutuhan,” ungkapnya.
Ia berpendapat, sesi ini menegaskan bahwa hambatan tidak selalu berasal dari individu, melainkan dari lingkungan dan cara layanan diberikan.
Materi lainnya tentang resolusi konflik, katanya. Peserta berlatih komunikasi efektif, mendengarkan aktif, dan pemecahan masalah kolaboratif melalui studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peserta juga melatih pemecahan masalah di masyarakat.
Mereka membedakan masalah yang dapat diatasi sendiri, yang membutuhkan kolaborasi, dan yang memerlukan dukungan pihak lain.
“Pada hari kedua, peserta melanjutkan materi cabang, daun, dan buah, merefleksikan pertumbuhan diri sejak sesi akar dan batang.”
Ia menambahkan, peserta juga mempelajari kecerdasan sosial yang mencakup empati, mendengarkan aktif, komunikasi asertif, dan mengenali batas pribadi, bersama fasilitator eksternal.
Peserta juga diajak menyusun langkah realistis untuk mengatasi tantangan dan melanjutkan pengembangan diri.
“Pembelajaran dilakukan secara partisipatif melalui ice breaking, refleksi individu, diskusi kelompok, bermain peran, studi kasus, permainan interaktif, dan presentasi,” tuturnya.
Koordinator Project Kubik 2.0, Jerry Santoso mengharapkan pelatihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas sosial dan emosional orang muda dengan disabilitas dalam membangun hubungan positif, berpartisipasi dalam lingkungan sosial, menghadapi perubahan, serta melanjutkan pengembangan diri dan kesiapan pemberdayaan ekonomi.
“Peserta juga diharapkan mampu memahami kembali konsep dasar SEL, khususnya kesadaran sosial, hubungan yang sehat, kolaborasi, dan pengelolaan konflik,”
Selain itu, peserta diharapkan mengidentifikasi sumber dukungan, kebutuhan, dan langkah realistis untuk melanjutkan aktivitas pascagempa.
“Mengidentifikasi kekuatan, tujuan, dan dukungan yang dibutuhkan, yang dituangkan dalam Personal Development Plan (PPDP) sebagai acuan pendampingan selama Kubik 2.0,” ungkap Jerry.
Ia berkata, pelatihan ini membantu peserta mengenal diri dan mampu mengatasi tantangan dalam hidupnya.
“Juga membantu peserta merencanakan dan merumuskan visi hidup dengan lebih baik.”
Kepada peserta, diharapkan dapat memahami tujuan, mekanisme, hak, dan tanggung jawab sebagai beneficiary Kubik 2.0.
“Bagi caregiver, pelatihan ini memperkuat pemahaman tentang peran dukungan keluarga dalam membantu orang muda dengan disabilitas mengambil keputusan, membangun kemandirian, dan melanjutkan tujuan pengembangan dirinya,” jelas Jerry.
Marsi, salah satu peserta mengaku lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan itu.
“Pelatihan SEL membuat saya lebih percaya diri dan lebih siap untuk merencanakan hidup dengan lebih baik,” ungkapnya.













