Puluhan Ibu Rumah Tangga di Ngada Belajar Pencatatan Keuangan Ternak Babi

"Ini biasa diabaikan. Padahal kalau dilakukan terus menerus tanpa ada pencatatan sederhana pasti rugi," ucap Solvi.

Bajawa, Ekorantt.com – Puluhan perempuan yang mayoritas sebagai ibu rumah tangga di Desa Waesae, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada mendapat pelatihan sistem pencatatan keuangan sederhana untuk usaha ternak babi.

Pelatihan diberikan oleh tim dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di aula kantor desa setempat pada Kamis, 16 Juli 2026.

“Kita melihat ternak babi menjadi usaha sampingan masyarakat di sini dan sebagian besar dikelola oleh perempuan,” ujar Solvi M Makandolu, selaku ketua tim para dosen.

Dalam pelatihan itu, para dosen tidak saja melatih perempuan untuk meracik pakan ternak dari bahan lokal namun mengajarkan kaum perempuan tentang perhitungan pada usaha ternak babi.

Meskipun sebagian besar bahan pembuatan pakan ada di sekitar rumah, beberapa bahan seperti tepung jagung, dedak dan beberapa bahan lain harus dibeli dari toko.

“Ini biasa diabaikan. Padahal kalau dilakukan terus menerus tanpa ada pencatatan sederhana pasti rugi,” ucap Solvi.

Ia mendorong agar ternak babi tidak saja dijadikan usaha sampingan melainkan harus mulai berorientasi pada bisnis sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi rumah tangga.

Morin M. Sol’uf, dosen lain, menambahkan bahwa ternak babi memiliki nilai yang cukup tinggi dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Ngada.

“Apalagi setiap ritual adat babi menjadi persembahan yang wajib,” kata Morin.

Jika dikelola dengan baik, babi akan memberi banyak keuntungan sehingga berdampak pada penguatan ekonomi keluarga, kata dia.

Morin berharap komunitas perempuan di Desa Waesae bisa mengelola keuangan secara baik karena dalam kehidupan sehari-hari perempuan memegang peranan penting dalam pengelolaan uang dalam keluarga.

Salah satu peserta, Maria Goreti Itu (53) mengatakan pelatihan tersebut menjadi pertama kali terjadi di Desa Waesae. Pelatihan perhitungan, kata dia, sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Maria mengaku selama berternak babi jarang sekali menghitung untung rugi. “Selama ini kami tidak ada hitung untung rugi, tapi dari penjelasan ini kami akhirnya tahu bagaimana caranya,” kata Maria.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan dalam agar masyarakat bisa memahami secara baik.

Kepala Desa Waesae, Petrus Calvin Wake, ternak babi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di desanya. “Hampir setiap keluarga pasti memiliki babi dan biasanya dikelola oleh kaum perempuan,” ujar Petrus.

Ia mengaku babi menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ngada khususnya dalam ritual budaya. Namun, beberapa tahun terakhir babi menjadi mahal akibat penyakit ASF.

Persoalan lain yang dihadapi masyarakat yakni harga pakan yang sangat mahal membuat masyarakat sulit menjangkau.  “Bahan juga dibeli di pasar kalau tidak dihitung secara baik pasti rugi,” tandasnya.

TERKINI
BACA JUGA