Maumere, Ekorantt.com – Bernadus Bola, 60 tahun, pria penyandang disabilitas fisik pada kedua kakinya asal Dusun Hurabegor, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sukses membiayai kuliah cucunya hingga meraih gelar sarjana.
Perjuangan ini terwujud berkat kerja kerasnya sebagai kuli pemecah dan pencungkil kelapa, yang ditopang oleh bantuan pinjaman Kopdit Pintu Air.
Bernadus hidup seorang diri dan tinggal bersama saudarinya.
Ia mengaku terpaksa bekerja sebagai kuli pemecah dan pencungkil kelapa setelah kedua kakinya cedera akibat jatuh dari pohon lontar saat mengambil daun untuk menganyam. Sebelum cedera, ia bekerja sebagai petani.
Bernardus bekerja sebagai kuli belah dan cungkil kelapa milik keponakannya. Dalam sekali bekerja, ia bisa mengantongi upah Rp50 hingga Rp100 ribu.
“Dalam satu bulan bisa belah kelapa hingga lima kali dan mendapatkan upah sampai Rp400 ribu. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari beli beras, sabun dan lainnya. Sisanya saya simpan untuk angsur di Pintu Air,” ujar Bernadus Kepada Ekora NTT, Sabtu, 26 September 2026, melalui telepon seluler Ketua Komite Cabang KSP Kopdit Pintu Air Talibura, Agustinus Rudianto.
“Saya takut makan orang punya uang (Pintu Air), pemali. Pintu Air sudah bantu kita, baru kita tidak angsur nanti petugas datang tagih lagi di rumah,” sambung Bernadus.
Ia menuturkan, setiap kali kerja ia harus berangkat pukul 06.00 Wita. Sambil berjalan kaki sejauh 20 meter menuju rumah keponakannya dengan kedua tangannya yang gemetar bertumpu pada sepasang tongkat penopang.
Ia mulai membelah ratusan kelapa sejak pukul 07.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita. Dari penghasilannya yang tidak seberapa itu, Bernadus dengan tulus membagikan uang tersebut untuk biaya pendidikan cucunya.
“Uang saya bantu untuk biaya sekolah cucu dan saya juga bantu orang lain juga. Puji Tuhan, cucu saya yang kuliah di Kupang sudah jadi sarjana. Masih ada satu lagi yang kuliah di Ende,” ungkap Bernadus.
Ketua Komite Cabang KSP Kopdit Pintu Air Talibura, Agustinus Rudianto mengatakan, Bernadus Bola bergabung menjadi anggota Kopdit Pintu Air sejak tahun 2024.
Hingga saat ini, ia tercatat telah empat kali mengakses pinjaman. Pinjaman pertama sebesar Rp3 juta, kemudian meningkat menjadi Rp4 juta dan kembali meningkat menjadi Rp5 juta. Pada pinjaman keempat, jumlahnya kembali menjadi Rp4 juta.
“Setiap bulannya, Bapak Bernadus rutin membayar angsuran sebesar Rp300.000, yang sudah termasuk pengembalian pokok, bunga, serta simpanan wajib,” ujar Agustinus.
Menurutnya, Bernadus dikenal sebagai anggota yang aktif dan disiplin. Rekam jejak angsurannya dinilai sangat bagus dan tertib setiap bulan.
“Meskipun mengalami keterbatasan fisik, Bapak Bernadus rela berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter dari rumahnya menuju titik kumpul kelompok Hurabegor untuk hadir mengikuti pertemuan bersama ketua kelompok dan anggota kelompok lainnya,” kata Agustinus.
Saat ini jumlah anggota Kopdit Pintu Air di Kelompok Hurabegor tercatat sebanyak 36 orang.
Agustinus mengatakan, pertemuan di titik kumpul kelompok rutin diadakan untuk membahas kinerja pengurus, keaktifan anggota dalam menyetor simpanan maupun pinjaman, partisipasi anggota serta sosialisasi aturan-aturan terbaru dari lembaga Kopdit Pintu Air.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menambah jumlah keanggotaan di titik kumpul Hurabegor ke depannya.
Ia berharap titik kumpul tersebut bisa naik status menjadi unit kelompok mandiri.
