Rm. Amanche Ninu: Sekolah Harus Jadi Taman Kreativitas Siswa

Maumere, Ekorantt.com – Pada pertengahan Februari lalu, Ekora NTT berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah swasta di Kota Kupang.

Namanya SMPK St. Yoseph Naikoten dan dikepalai oleh seorang imam Katolik bernama Romo Amanche Oe Ninu, Pr.

Ekora NTT datang saat aktivitas pembelajaran sedang berlangsung.

Kami mencoba memerhatikan laku suasana yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut.

Dalam pantauan kami, kegiatan belajar mengajar tak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di halaman sekolah.

iklan

Di dalam kelas sendiri pun, para siswa diberi keleluasaan oleh guru mereka untuk mengajukan pertanyaan sekaligus mencari jawaban.

Kami sempat mengintip mata pelajaran agama yang ditangani Pak Ardus Gae dan melihat dinamika yang terjadi.

Pak Ardus meminta anak murid memberikan contoh praktis dari ajaran cinta kasih Tuhan yang terkandung dalam kitab suci.

Anak-anak pun memberikan jawaban beragam. Meskipun begitu, guru tersebut kembali meminta anak didiknya untuk menemukan relevansinya dalam kehidupan di sekolah mereka.

Tidak membolos, meminjamkan pulpen kepada kawan yang tidak punya, mendengarkan penjelasan guru, tidak datang terlambat, demikianlah sejumput jawaban yang diberikan mereka.

Suasana yang berlangsung cair itu juga terjadi di kelas-kelas lainnya. Para peserta didik diberi kebebasan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat mereka.

Namun, itu bukan berarti semuanya berlangsung rileks begitu saja. Tetap ada ketegasan dan sikap disiplin yang ditanamkan para pendidik.

Menariknya, usai kegiatan belajar mengajar di sekolah, kami perhatikan para siswa/i masih duduk-duduk dan beraktivitas di sekolah.

Ada yang membaca buku, berolahraga, ikut bimbingan ataupun melakukan ekstrakurikuler lainnya.

Mereka merasa nyaman dengan aktivitas-aktivitas tersebut dan sepertinya merasa bahwa sekolah tidak hanya bangunan untuk belajar semata.

Ekora NTT kemudian menemui langsung sang kepala sekolah, Romo Amanche.

Romo Amanche membenarkan bahwa sekolah tersebut memang terbuka sepanjang waktu dengan tujuan supaya anak-anak bisa menemukan rasa aman dan nyaman.

Sehingga anak-anak pun tidak merasa harus segera pulang ke rumah, tapi masih bisa mengembangkan minat dan bakat mereka.

“Yang kita maksudkan adalah sekolah harus jadi rumah atau taman kreativitas mereka. Bukan hanya gedung fisik untuk menuntut ilmu dan setelahnya anak-anak pulang ke tempat tinggal mereka,” beber Romo Amanche.

Dengan begitu, anak-anak sekolah bisa menunggu jemputan orang tua mereka sambil tetap bermain/belajar di sekolah mereka.

Mereka tidak harus menunggu di jalanan ataupun luntang-lantung ke tempat lain. Ini juga bisa memudahkan para orang tua yang datang menjemput anak mereka.

Mereka segera tahu bahwa anaknya pasti menunggu di sekolah karena sekolah masih buka.

Tak jarang, anak-anak itu juga meminjam ponsel milik kepala sekolah mereka agar bisa menghubungi orang tua yang terlambat menjemput.

Kepada kami, Romo Amanche juga menceritakan, SMPK St. Yoseph Naikoten menetapkan jam istirahat yang cukup panjang.

Sekitar 25 menit lamanya.

“Memang kami sengaja begitu agar anak-anak yang tidak sempat sarapan di rumah bisa punya waktu untuk makan di area sekolah. Mereka bisa beli jajan ataupun konsumsi bekal dari rumah,” beber sang pastor asal Niki-Niki itu.

Baginya juga, sekolah tidak boleh terlalu memaksa para peserta didik untuk senantiasa belajar terus-menerus.

Harus ada momen di mana mereka merilekskan diri sehingga tak ada beban psikologis yang ditimbun.

Boleh jadi karena itulah, sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang ini mendulang sejumlah prestasi sejauh ini, antara lain lewat Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tahun 2017, Lomba Matematika Tingkat Nasional di Makassar tahun 2017, dan juga iven minat bakat seperti juara II Lomba Drum Band Tingkat Propinsi NTT dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tahun 2018.

TERKINI
BACA JUGA