‘Panen’ Perdana Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius

Maumere, Ekorantt.com – Langit sedikit mendung di tengah Kota Maumere, Rabu (20/3/2019).

Nun di sudut timur kota terlihat sedikit di keramaian, tepatnya di kompleks Gedung Sikka Convention Center (SCC), bersebelahan dengan Kantor Bupati Sikka.

Kendaraan-kendaraan diparkir dan orang-orang berpakaian rapih tampak lalu-lalang.

Persis di depan Gedung SCC sendiri, sebuah tenda dibangun dan di bawahnya bernaung 50 orang putra/putri terbaik Nusa Tenggara Timur.

Mereka adalah para civitas akademika dari Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius Maumere.

iklan

Hari itu, mereka hendak dikukuhkan sebagai lulusan Diploma 3, atau dengan kata lain diwisudakan.

Tak berapa lama kemudian, mereka berarak masuk ke dalam gedung SCC. Tarian gong waning pun menyambut para cendekiawan muda.

Mereka dihantar ke dalam ruangan bertajuk “Sidang Terbuka Senat Akademik, Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius Dalam Rangka Wisuda I”.

Tentu saja hadir juga dalam kesempatan itu adalah para akademisi dan pimpinan lembaga tersebut.

Dan sebelum puncak wisuda terjadi, terdapat beberapa rangkaian seremoni guna memberikan makna yang patut dicerna.

Dalam laporan akademik dan sambutannya, Direktur Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius, dr. Fransiskus Xaverius Lameng, MM mengatakan, akademi ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Flores.

Adapun latar belakang yang menjadi alasan lembaga pendidikan tinggi ini didirikan ialah sebagai jawaban atas kondisi masih kurangnya tenaga farmasi di daerah.

“Banyak sarana kesehatan, termasuk Puskesmas se-daratan Flores ini yang pekerjaan farmasinya atau apoteknya diisi atau dilakukan oleh tenaga nonfarmasi atau tenaga farmasi lulusan Sekolah Menengah Farmasi yang mana jenjang pendidikannya setingkat SMA,” demikian Lameng menyampaikan.

Makanya, Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius yang mulai beroperasi sejak tahun 2015 ini memiliki andil besar dalam membangun sumber daya manusia bagi daerah-daerah di NTT, terutama di Flores.

Ungkapan ini ada benarnya. Sebab, yang berkuliah di lembaga tersebut bukan hanya anak-anak Kabupaten Sikka, melainkan juga mereka yang datang dari kabupaten-kabupaten lain di NTT, seperti Ngada, Manggarai, Lembata, bahkan Sabu Raijua juga Sumba.

“Kami selalu berupaya maksimal untuk menjaga mutu pendidikan di Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius ini,” tutur Lameng pada bagian-bagian akhir sambutannya.

Ujaran ini tentu menjadi sebuah tanggung jawab besar, mengingat wisuda kali ini merupakan angkatan pertama dan perjalanan akademi farmasi masih sangat panjang.

Sehingga dukungan dari seluruh elemen masyarakat menjadi poin penting bagi pengembangan ke depannya.

Profesor Dr Nengah Dasi Astawa, Msi selaku ketua LLDIKTI (Kopertis) Wilayah 8 dalam sambutannya memberikan apresiasi setinggi tingginya kepada para orang tua mahasiswa yang telah memberikan kepercayaannya kepada Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius.

Di mana dalam wisuda ini ada wisudawati terbaik dengan IPK 3,79 yakni Emiliana Dopo Djena, A.Md Farm yang kesehariannya adalah seorang suster /biarawati Katolik dari Kongregasi Fransiskanes Sambas.

Para wisudawan/wati angkatan I Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius Maumere berpose bersama senat akademik usai acara wisuda Diploma 3 di Gedung Sikka Convention Center, Rabu, (20/3/2019)

Mereka juga patut berbangga sebab mendapat apresiasi dari Bupati Sikka, Robby Idong.

Dalam sambutannya yang diwakili oleh Asisten II, Bupati Robby berterima kasih kepada Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius Maumere sebab 90 persen lulusan itu sudah siap diterima di sejumlah tempat kerja sesuai dengan profesi mereka.

Artinya bahwa kampus sudah berjasa untuk mencetak lulusan-lulusan yang cakap dan kompeten dan siap bekerja.

Di tengah menyeruaknya realitas minor soal tingginya angka pengangguran di NTT (data BPS per Agustus 2018 menyebut angka 74,7 ribu orang), apa yang dilakukan oleh akademi farmasi pertama dan satu-satunya di Flores ini merupakan suatu kontribusi yang membikin bangga.

Namun, bagi para wisudawan/wati, tantangan tetap saja ada.

Era revolusi industri 4.0 menyiratkan bahwa punya kemampuan semata belumlah cukup. Orang harus memiliki juga karakter dan integritas diri yang memadai sehingga bisa bersaing dan menjadi figur andalan di tengah tuntutan realitas kerja juga laju dunia yang kian kompleks.

TERKINI
BACA JUGA