Perjuangan Brigpol Egi ‘Cs Tembus Medan “Neraka” Demi Kawal Logistik Pemilu 2019

Maumere, Ekorantt.com – Pemilu serentak tahun 2019 melahirkan banyak kisah heroik dari sebagian anggota Polri khususnya yang mengawal logistik hingga ke TPS.

Salah satu kisah datang dari perjuangan anggota Polres Sikka, Brigpol Egidius Funan.

Bhabinkamtibmas Desa Bhera, Kecamatan Mego ini berjuang sekuat tenaga mengawal logistik pemilu bagi warga Kampung Woloone.

Woloone adalah sebuah kampung kecil nan terpencil yang merupakan bagian dari Desa Gera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.

Letaknya persis di puncak barisan bukit Kisa Woloone. Topografi daerah ini berbukit-bukit menjulang dari selatan ke utara pulau Flores bahkan terjal dan curam.

iklan

Selain itu, akses jalan yang menuju kampung ini hanya satu. Itupun hanya bisa dilalui sepeda motor.

Jika hujan, masyarakat hanya bisa berjalan kaki karena kondisi jalan yang licin, sempit, dan berlumpur.

Tidak berlebihan jika kondisi medan menuju Kampung Woloone disebut medan “neraka”.

Meski demikian, hal itu sama sekali tidak menyurutkan Brigpol Egi ‘Cs (cum suis berarti dkk-red) mengawal dan mengantar logistik pemilu ke TPS 6 Kampung Woloone.

Apapun caranya Brigpol Egi ‘Cs harus menembus medan “neraka” tersebut demi membantu 174 orang menjalankan hak konstitusionalnya sebagai waga negara Indonesia.

Dalam rekaman video amatir yang diperoleh Ekora NTT, Jumat (19/4), terlihat Brigpol Egi yang berseragam lengkap bersama beberapa orang yang diketahui terdiri dari 6 orang anggota KPPS, seorang anggota PPS, 2 orang pengawas dan 4 orang warga lainnya bersusah payah mendaki dan menuruni bukit dengan membawa serta logistik pemilu.

Tampak ada yang memikul kotak suara yang dibungkus plastik berwarna bening menggunakan sebatang kayu.

Brigpol Egi terlihat memikul kotak suara sambil menenteng sebuah jerigen 5 liter berisi bensin.

“Bensin itu kami pakai untuk hidupkan genset di TPS. Itu waktu kami baru mau ke Kampung Woloone, sehari sebelum pemilu,” jelas Brigpol Egi ketika dikonfirmasi Ekora NTT, Jumat (19/4) sore.

Brigpol Egi menuturkan, perjalanan menuju Kampung Woloone memakan waktu 3 jam perjalanan dengan jarak tempuh 7 Km. Jika bersepeda motor waktu tempuh hanya 1 jam.

Menurutnya, mereka harus naik turun bukit sambil menyusuri jalan sempit dan licin akibat hujan. Yang tersisa dari perjalanan mereka hanya tapak-tapak kaki dan sepatu.

Diakuinya pula, selama perjalanan itu mereka harus beristirahat sebanyak 3 kali.

Salah satu medan yang dilalui Brigpol Egi ‘Cs

“Menjelang malam kami beristirahat di puncak Bukit Lenanggo. Ternyata dari situ kita bisa lihat pantai utara dan pantai selatan Kabupaten Sikka. Itu pemandangan yang indah, lumayan rasa letih kami terbayar dengan panorama itu. Setelah itu kami lanjut ke Wolo One,” tutur Bintara Polisi asal Kabupaten TTU ini.

Sepanjang perjalanan tak ada satu pun pemukiman yang ditemui. Hanya kebun-kebun warga yang padat dipenuhi pohon kemiri, aneka buah-buahan dan lombok.

Brigpol Egi mengungkapkan, belum ada sentuhan pemerintah atas masyarakat di Kampung Wolo One. Alhasil masyarakat kesulitan memasarkan hasil pertanian karena akses jalan yang minim.

Usai melakukan pencoblosan dan perhitungan di TPS 6 Wolo One, Kamis (18/4) Brigpol Egi ‘Cs bergerak pulang menuju PPK Kecamatan Mego. Mereka harus kembali tertatih-tatih menuruni lereng-lereng terjal itu.

Hingga hari kepulangan Brigpol Egi ‘Cs, tapak-tapak kaki mereka yang tergambar di tanah merah sejak kedatangan itu masih jelas terbaca.

Baginya, semua yang dilakukan semata-mata untuk pelayanan bagi bangsa dan masyarakat. NKRI, Harga Mati.

“Waktu berangkat mobil angkut kami dari PPK Kecamatan Mego sampai di pertigaan Wolokoli lalu mulai GL Max (goyang lutut maximum-red). Pulang pun begitu,” cerita Brigpol Egi dengan nada kelakarnya.

Ikuti Cuplikan Videonya di bawah ini:

 

 

TERKINI
BACA JUGA