Anak Lidi Bertaruh Nyawa di Sungai

Dua pekan terakhir, hujan terus mengguyur di wilayah Manggarai. Butiran-butirannya memacak tanah, meresap ke dalam perut bumi, namun tak pelak timbulkan sekelumit genangan di permukaan dataran yang jadi ruang lalu-lalang makhluk bernama manusia.

Pada satu sisi, hujan adalah rahmat. Sisi lainnya, jika volume kuncurnya berlebihan, ia bisa jadi petaka. Dan poin kedua inilah yang terjadi di Desa Lidi, Kecamatan Rana Mese, Manggarai Timur. Anda tahu, jembatan darurat di kampung itu ambruk tak terperi.

Bagi orang-orang di kampung Lidi, jembatan yang digunakan sebagai medium penyeberangan di atas kali Pinarangkat tersebut tentu punya peran esensial. Mereka dapat melintas untuk pergi ke kebun atau kampung lainnya, membawa barang dagangan dan melakukan aktivitas perpindahan yang menunjang peri kehidupan mereka. Makna jembatan itu seperti kehadiran jalan-jalan tol di Jawa.

Tapi, ada satu akibat yang mungkin lebih membikin trenyuh dan tampilkan realitas miris. Pasca robohnya jembatan itu, anak-anak sekolah di Desa Lidi terpaksa harus menyeberangi kali Pinarangkat. Dengan satu taruhan; nyawa sendiri.

Theodorus Pamput, tokoh masyarakat Lidi, lantas beberkan deskripsi situasi termaktub.

iklan

“Di sini ada jembatan darurat yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Tetapi, tanggal 13 Juni kemarin ambruk dihantam banjir. Sekarang, anak-anak ke sekolah harus bertaruh nyawa di kali Pinarangkat ini.”

Dia juga jelaskan, setiap hari para orangtua pun berusaha sekuat tenaga sehingga bisa mengantarkan anak-anak mereka sebrangi kali Pinarangkat dan sampai di sekolah.

“Kalau tidak seperti ini, anak-anak kami tidak bisa ke sekolah. Kasihan kalau anak-anak tidak bisa ke sekolah,” Theo kembali berelegi.

Dia juga bercerita bahwa sejak dulu para pelajar di kampung itu telah terbiasa berjuang untuk melintasi kali tersebut. Demi mendapatkan akses pendidikan di sekolah. Tapi, kebiasaaan macam ini bukan patut jadi pemakluman atau sesuatu yang berterima begitu saja.

Toh anak-anak Lidi adalah juga anak bangsa Indonesia yang memiliki kesetaraan hak untuk mengakses pendidikan. Dalam konteks negara bernama Indonesia ini, anak Lidi sama dengan anak sekolah di Matraman Jakarta, sama dengan peserta didik di Giovani Kupang, ataupun Fransiskus Ruteng serta Pancasila Borong.

Makanya, harapan pun mereka lambungkan. Sasarannya jelas; Pemerintah Daerah Manggarai Timur. Mereka meminta Pemda setempat membangun jembatan ataupun cross way penyeberangan kali Pinarangkat.

Theodorus Pamput tak sesumbar sendirian.  Pengakuan lain datang dari Kepala SMP Satu Atap Nangalanang, Silvester Jhon, yang menonjolkan gambaran muram serupa.

“Air laut pasang di kali atau muara tersebut. Siswa dan guru yang akan bergerak pulang sekolah, harus menunggu air pasang surut. Untuk pagi, anak-anak dibantu orang tua menyeberangi sungai. Ada juga yang bisa sebrang sendiri,” ungkap dia. 

Dia juga melanjutkan, terhadap hal itu, pihaknya mengharapkan kepada para pemangku kepentingan agar sudi kiranya memerhatikan infrastruktur jembatan Desa Lidi.

Kali Pinarangkat sendiri terletak di antara Desa Beangencung dan Desa Lidi dan menjadi pembatas dua desa tersebut. Sebagian besar peserta didik SMP dan SD Nangalanang berasal dari Desa Beangencung, sementara lokasi SMP dan SD Nangalanang terletak di wilayah administrasi Desa Lidi.

“Kami tidak minta yang lain. Cukup bangun jembatan saja. Kasihan anak-anak dan para guru setiap musim hujan harus melawan arus sungai menuju sekolah,” ujar Silvester.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA