Kafe Coklat: Antara Kopi, Kata dan Kita

Kupang, Ekorantt.com – Jauh dari kampung halaman dan merantau sendirian ke tanah orang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para perantau, khususnya mahasiswa. 

Rindu  adalah rasa yang selalu menghantui kehidupan para perantau. Ia menjadi frasa yang tak henti dan tanpa lelah selalu menggerayangi tidur lelap setiap perantau.

Toh menjadi orang asing di tempat baru yang belum sepenuhnya dikenali tentunya merupakan sebuah hal yang kurang mengenakkan, entah laki-laki maupun perempuan.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh para anak muda, seperti mahasiswa demi mengobati rasa rindu pada keluarga dan kampung halaman.

Salah satunya dengan berkumpul dan berbagi rasa bersama para sahabat di tempat-tempat yang dirasa menyenangkan.

iklan

Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi tentunya memiliki beragam tempat kumpul atau nongkrong yang menarik bagi anak muda.

Banyak pengusaha muda pun berlomba-lomba memanfaatkan peluang yang ada untuk mendirikan tempat nongkrong, seperti kafe, warkop alias warung kopi ataupun rumah makan yang diharapkan bisa menjangkau sebanyak mungkin anak muda.

Salah satunya kafe Coklat. Kafe ini merupakan salah satu kafe unik yang terletak di Jalan Fatutuan, RT 03/RW 06, Kelurahan Liliba.

Kafe ini didirikan oleh Hipol Mawar. Pria asal Adonara yang menjadi pegiat di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kota Kupang ini bersama dengan sejumlah rekannya mendirikan pada bulan Juli 2017 lalu.

Kafe Coklat dibuat dengan konsep unik yang dipadukan dengan alam dan nuansa kampung halaman. Seperti namanya, dandanan kafe ini dengan segala perabotnya pun dibuat berwarna coklat.

Warna coklat ini merujuk pada bambu tua yang sering dijumpai hampir di seluruh daerah di NTT, terutama di wilayah pedesaan. Bambu sendiri melambangkan kerinduan pada kampung halaman.

Adapun kehadiran kafe coklat diharapkan bisa menjadi sebuah tempat di mana para mahasiswa perantau atau orang-orang yang sudah jenuh dengan hiruk-pikuk kota bisa melepas rindu pada kampung halaman dengan mencicipi menu-menu khas berupa pangan lokal yang tersedia di sini.

Adapun menu-menu khas berupa pangan lokal yang paling disenangi oleh para pengunjung, seperti kopi coklat dan kue putu, stik talas, pisang goreng, kacang mete, roti bakar kacang mete, dan mie lumpur.

Berdasarkan pengakuan dari pengelola kafe ini, kopi coklat dan kopi coklat rempah merupakan menu yang paling laris terjual sejauh ini.

Hal lain yang menjadi alasan mengapa kafe ini diberi nama kafe coklat adalah karena menu-menu di kafe ini sebagian besarnya menggunakan coklat asli sebagai bahan dasar.

Harga makanan dan minuman di tempat ini juga terbilang murah dan terjangkau untuk semua kalangan.

Kafe Coklat terdiri dari 4 lopo berukuran kecil dan 1 lopo berukuran besar, sehingga para pengunjung dapat dengan bebas memilih lopo mana saja yang akan digunakan untuk makan, minum, kencan, berdiskusi ataupun menyelesaikan tugas.

Yoseph Igo Peka (29) atau yang biasa disapa Yogi adalah anak muda yang dipercayakan oleh pemilik kafe (Hipol Mawar) untuk menjadi pengelola kafe ini.

Berangkat dari pengalamannya sebagai seorang aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia/PMKRI Cabang Kupang saat masih berada di bangku perkuliahan dulu, dia menyulap kafe Coklat menjadi lebih dari sekadar tempat untuk urusan bisnis.

Kafe Coklat dijadikan sebagai tempat untuk diskusi ilmiah seperti bedah buku atau bincang-bincang komunitas anak muda dalam menyikapi isu-isu faktual yang tengah berkembang dan jadi perbincangan hangat di NTT ataupun di Indonesia.

Suasana kafe yang tenang dan teduh ini bisa membuat setiap pengunjung merasa nyaman dan betah di sini.

Jauh dari jalan umum yang begitu berisik dengan hiruk-pikuk kendaraan, diiringi oleh alunan lagu-lagu keren dengan berbagai genre (mulai dari indie, pop, rock, RnB, hip-hop, reage dan sejenisnya) menjadikan kafe ini memiliki nuansa yang benar-benar berbeda dengan kafe lain yang pernah saya kunjungi di kota Kupang.

Selain itu, kafe  unik ini bisa menjadi tempat kencan minimalis bagi mereka yang memiliki pasangan dan menyelesaikan tugas kuliah, khususnya bagi para mahasiswa, karena kafe ini dilengkapi juga dengan fasilitas Wi-Fi yang kecepatannya terbilang stabil.

Kafe Coklat dengan suasananya yang alami, juga bisa menjadi spot foto yang menarik dan instagramable. Hampir setiap sudut bisa menjadi tempat yang cocok untuk berfoto ria.

Uniknya lagi, pelayan kafe selalu memotret dan mempublikasikan aktivitas para pengunjung kafe di sosial media mereka. Untuk keperluan dokumentasi dan publikasipun tentunya atas seizin para pengunjung terlebih dahulu.

Untuk kamu yang mencintai keheningan dan belum pernah berkunjung ke sini, kafe coklat menjadi rekomendasi dan referensi wajib dari saya.

Kafe ini bisa diakses melalui dua jalur, baik melalui jalur Penfui (tepatnya di belakang kantor Search and Rescue/SAR) maupun melalui jalan Bumi yang terletak tepat di dekat kapela gereja Katolik Liliba.

Anda bisa ke sini dengan berjalan kaki (jika niat) maupun dengan menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda, motor maupun mobil.

Jika Anda menggunakan angkutan umum seperti bemo jalur Penfui-Baumata, maka Anda bisa berhenti tepat di depan kantor SAR Penfui sembari menunggu ojek (online maupun pangkalan) yang bisa menghantar Anda ke kafe ini dengan biaya sebesar Rp. 5.000. (Maria Goreti Ana Kaka)

TERKINI
BACA JUGA