Rubrik KONSULTASI: Dokter Asep Menjawab Soal Rabies

Pembaca yang budiman, Surat Kabar Harian (SKH) EKORA NTT membuka Rubrik “KONSULTASI: Dokter Asep Menjawab.” Dalam rubrik ini, pembaca dapat mengirimkan pertanyaan kepada dr. Asep Purnama seputar isu-isu kesehatan. Dalam edisi perdana ini, redaksi memulainya dengan isu tentang teror rabies di Flores-Lembata. Silahkan kirim pertanyaan Anda ke email ekorantt@gmail.com atau WhatsApp 081 237 982 771.

Dokter Asep Menjawab Soal Rabies

Pertanyaan:

Anjing kita tahu telah menjadi konsumsi keseharian masyarakat Sikka, atau Flores umumnya. Ada ketakutan di dalam diri kami masyarakat, kalau anjing kami diperiksa dan ada gejala rabies  sehingga harus dilenyapkan (dibunuh). Bagaimana tanggapan Dokter atas fenomena ini? (Epank, warga Lepo Lima, Alok Timur, 082 359 576 XXX).

Jawaban:

iklan

Jika anjing Bapak diperiksa oleh petugas dan ditemukan gejala rabies yang nyata, maka akan dilakukan eliminasi selektif.

Seharusnya penemuan kasus rabies pada anjing Bapak secara dini, harus disyukuri. Karena kalau sampai tidak diketahui secara dini, maka anjing rabies tersebut akan menggigit Bapak atau anggota keluarga Bapak. Dan jika tidak mendapatkan penanganan yg tepat, bisa saja akan menyebabkan kematian pada korban gigitan anjing tersebut.

Sebenarnya yang terpenting adalah menjaga agar anjing peliharaan Bapak senantiasa sehat dengan merawat dengan baik, memberikan obat cacing dan memberikan vaksinasi rabies.

Dengan menjaga anjing peliharaan kita senantiasa sehat, maka keluarga kita juga akan selamat dan terhindar dari ancaman virus rabies

Terima kasih untuk pertanyaannya, Pak Epank. Salam sehat! Semoga bermanfaat.

Pertanyaan:

Pak dokter, saya punya dua pertanyaan.

Pertama, pemerintah sekarang sedang giat-giatnya mengembangkan pariwisata di Flores-Lembata. Presiden Jokowi bahkan berencana menjadikan Labuan Bajo menjadi destinasi wisata premium. Akan tetapi, kita tahu, selama bertahun-tahun, Flores-Lembata senantiasa dikepung bahaya virus rabies. Bagaimana tanggapan Pak dokter terkait hubungan antara penyebaran virus rabies dan usaha pengembangan pariwisata di Flores-Lembata?

Kedua, Pemerintah Kabupaten Sikka sudah menetapkan rabies sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Bagaimana data mutakhir tentang rabies di Kabupaten Sikka? (Silvano, Warga Kota Uneng, Kecamatan Alok, 081 239 131 XXX).

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaannya, Pak Silvano.

Untuk pertanyaan pertama, pada awal Juli 2019, Jokowi mendukung dan mendorong Labuan Bajo-Flores menjadi Destinasi Wisata Premium.

Belum sebulan Jokowi menyampaikan statement-nya, hari Sabtu, 20 Juli 2019, saya mendapat konsul dari sejawat dokter dengan kasus gigitan anjing pada seorang wisatawan mancanegara.

Wisatawan berkewarganegaraan Australia ini sedang menginap di salah satu hotel di Maumere dan digigit anjing.

Ini bukan kasus gigitan HPR (Hewan Penular Rabies) yg pertama kali, karena saya juga pernah dihubungi sejawat dokter karena kasus korban gigitan HPR beberapa tahun lalu. Korbannya seorang wisatawan mancanegara yang sedang berlibur menikmati keindahan telaga 3 warna, Kelimutu. Dan saya yakin kemungkinan masih ada korban gigitan HPR lainnya yg ditangani oleh sejawat dokter lainnya.

Keamanan dan kenyamanan menjadi pendukung utama atau prasyarat mutlak berkembangnya daerah wisata. Jika Flores-Lembata ingin menjadi tujuan wisata premium yang banyak dikunjungi wisatawan, eliminasi virus rabies menjadi sesuatu yang wajib diupayakan.

Bicara pariwisata Flores-Lembata tanpa mempedulikan keberadaan virus rabies sama dengan membiarkan bom yang akan meledak sewaktu-waktu di Flores. Begitu ada wisatawan yang digigit HPR (Hewan Penular Rabies) dan menyebabkan kematian maka laksana sebuah bom yang meledak dan tidak ada wisatawan yang berani datang.

Ayo, kita semua menjaga dan melindungi Flores-Lembata dari virus rabies. Bersama kita dukung upaya memajukan pariwisata Flores-Lembata menjadi tujuan destinasi wisata premium yang baru.

Dengan membebaskan Flores-Lembata dari virus rabies, kita akan merubah NTT (Nyawa Terancam Terus) menjadi NTT (New Tourism Theritory).

Untuk pertanyaan kedua, kasus anjing rabies di Kabupaten Sikka terus Bertambah. Hari ini, 18 Juli 2019, saya mendapat informasi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Bali bahwa ada tambahan 4 anjing yang tertular rabies di Kabupaten Sikka. Sebelumnya, dari bulan Januari 2019, sudah ada 23 anjing yang terbukti positif tertular rabies.

Yang menarik sekaligus mencemaskan, pada laporan BBVet kali ini adalah satu kasus rabies pada anjing yang berada di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, yang merupakan kasus rabies baru di Kecamatan Alok Barat. Sebelumnya, anjing dari Kecamatan Alok Timur juga tertular virus rabies. Nampaknya, virus rabies sudah mulai mengepung Kota Maumere.

Sampai hari ini, total sudah 27 anjing yang tertular virus rabies dan tersebar di 11 Kecamatan di Kabupaten Sikka yaitu Waigete, Kewapante, Bola, Doreng, Nita, Koting, Kangae, Lela, Hewokloang, Alok Timur, dan Alok Barat.

TERKINI
BACA JUGA