Ilustrasi: Eldy Diaz

Maumere, Ekorantt.comOnline shop atau toko Daring (Dalam Jaringan) kian digemari, terutama oleh generasi milenial. Tak heran, situs-situs belanja online bermuculan dan tumbuh subur. Berbeda dengan toko konvensional yang menggunakan gedung megah untuk berjualan, toko Daring memanfaatkan internet sebagai lapak jualannya.

Di satu sisi, kehadirannya mengancam bisnis konvesional yang sudah terlanjur mapan. Kita bisa saksikan fenomena penutupan sejumlah gerai-gerai belanja berskala besar di kota-kota besar. Di sisi lain, bisnis ini menjadi ladang baru bagi orang muda untuk mendapatkan penghasilan.

Bermodalkan ponsel pintar dengan modal seadanya, banyak milenial menekuni bisnis ini. Fitur-fitur media sosial seperti whatsapp, facebook, instagram digunakan untuk mempromosikan produk terbaru.

Asti (23), seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Maumere. Seperti anak muda kebanyakan, ia selalu mengikuti mode berpakaian terbaru. Sebagai anak muda “Kita harus update,” katanya singkat ketika mengunjungi kantor Ekora NTT beberapa waktu lalu.

Ia tidak mau dibilang ketinggalan oleh teman-temannya. Apalagi model berpakaian senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Hari ini trendnya lain, esok gayanya pasti sudah baru. Tinggal kita pintar-pintar menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada.

Awalnya Asti doyan untuk berbelanja di lapak rombengan di Pasar Alok, Maumere. Menurutnya, pakaian-pakaian bekas di sana berkualitas dan mudah dijangkau oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa seperti dirinya. Walau dibanderol dengan harga murah, pakaian-pakaian rombengan bagus dan juga nyambung dengan selera mode anak muda masa kini.

Tapi beberapa waktu belakangan, calon apoteker ini punya ketertarikan untuk berbelanja pakaian lewat online. Ia suka menguatak-atik ponsel pintarnya untuk mencari busana-busana perempuan terbaru. Kalau ada yang kena di hati, ia langsung mengontak temannya yang kebetulan menjalani usaha bisnis online, untuk memesan pakaian yang telah dipilihnya. Setelah dipesan, tinggal menunggu beberapa hari saja, barang yang dipesan diantar ke kosnya.

Selain menghemat waktu dan tenaga, kata Asti, memesan barang lewat online lebih banyak pilihan. Di toko konvensial, pilihan barangnya sedikit, sedangkan pilihan barang di koto daring bervariatif. Pembeli bisa memiliki lebih banyak referensi barang untuk dibeli. Selain itu, menjamurnya toko daring memudahkan pembeli untuk memilih barang dengan harga yang lebih murah.

Hingga saat ini, Asti belum mengalami masalah dalam pembelian online. Berbeda dengan Asti, Irwan (27) sempat mengalami masalah saat memesan barang lewat online. Ia bercerita bahwa dirinya pernah memesan sepatu sneakers kepada temannya. Nomor sepatunya sesuai dengan ukuran kakinya. Beberapa hari kemudian, temannya itu datang dan membawa pesanannya. Sialnya ukuran sepatu lebih kecil dari ukuran kakinya.

Irwan tak mempersoalkannya. Hal itu juga tidak membuatnya kapok untuk berbelanja online. Malahan, onderdil mobil dan motornya, selalu ia pesan via online. Baginya, cara demikian lebih praktis dan kalau ada masalah, jalar keluarnya pasti ada. “Saya juga siap kalau ada resikonya,” ujarnya singkat.

Selain memudahkan pembeli, bisnis online juga menggiurkan bagi beberapa orang yang menggelutinya. Erli Ernesta (27), seorang guru di salah satu SMA di Manggarai, misalnya, menekuni onlineshop dua tahun belakangan. Erli tergabung dalam jaringan salah satu situs toko online dan menawarkan produk-produk pakaian dan perabotan rumah tangga kepada masyarakat.

Semula, ia diajak oleh teman sekomunitasnya di Ruteng. Ia menyetujuinya.  Lalu, ia mulai menekuninya sekadar sebagai usaha sampingan untuk mengisi waktu luang. Ia tetap fokus mengajar di sekolah. Saat ada waktu kosong di rumah barulah Erli berselancar di dunia maya untuk mempromosikan barang dagangannya.

“Daripada kita pakai media sosial untuk hal-hal yang tidak penting, lebih baik kita promo pakaian-pakaian. Untungnya kan ada. Kalau kita naik status yang tidak penting, untungnya apa,” tutur Erli kepada Ekora NTT beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, ia getol memperkenalkan produk jualannya lewat media pertemanan facebook dan whatsapp. Status di dinding facebooknya selalu penuh dengan barang-barang jualan terbaru. Informasi produk yang sama juga bertebaran di status whatsappnya.

Diakuinya, usaha untuk meyakinkan orang tidaklah instan. Kadangkala ia hanya mendapatkan like dari teman facebooknya atau juga sekadar komentar. Tapi beberapa orang yang tertarik, langsung mengontaknya secara pribadi untuk memesan produk yang ia jual. Erli mengatakan, “Jangan berhenti untuk promosi lewat Medsos. Mau ada yang like dan komentar atau tidak, kita harus konsisten. Pasti ada saja yang mau beli”.

Dari usaha sampingannya ini, ia mendapatkan pundi-pundi rupiah. Ia masih malu-malu mengungkapkan banyaknya rupiah yang ia dapat. Tapi ia bersyukur bahwa dari bisnisnya ini, ia mendapatkan penghasilan tambahan dan bisa memenuhi beberapa keperluan harian keluarganya. “Ya, bisa tutup uang arisan bulanan. Untuk sementara sudah luar biasa,” kata Erli singkat.

Hal yang sama dialami Yoefina Tuto Kebingin. Tekun dalam bisnis penjualan online Oirflame membawa rezeki baginya. Terlibat sejak tahun 2014, Yosefina mengemukakan bahwa awalnya hanya melalui status saudara sepupunya pada dinding akun facebook. Saudaranya lalu mengajak bergabung dalam bisnis Oirflame.

Oirflame bergelut dalam pemasaran produk kecantikan dan aksesoris berbahan dasar alami dari negara Swedia. Produknya mulai dari kosmetik, parfum, aksesoris dan produk kecantikan lainnya. Sebagai guru PNS, Yosefina amat bersyukur karena bisnis sampingannya ini ternyata membawa hasil yang tidak kalah dengan pendapatannya setiap bulan.

Dalam bisnis Oirflame anggota yang tergabung menjalankan katalog bulan berjalan kemudian mengorderkannya lewat website. Keuntungan dari penjualan produk adalah 30% namun dipotong pajak 7%. Keuntungan tiap produk adalah 23%. Ini namanya keuntungan langsung.

Bila keuntungan mau lebih besar lagi maka wajib merekrut anggota baru sehingga terbentuk jaringan bisnis. Dengan demikian akumulasi poin bertambah dan level bisnis bisa naik. Dengan begitu pendapatan setiap bulan yang masuk ke rekening setiap tanggal 5-6 setiap bulannya lumayan untuk kebutuhan mendasar dan kebutuhan lainnya.

Yosefina mengakui berkat ketekunannya menjalankan usaha bersama oirflame pendapatannya bertambah. Yang membanggakannya adalah usaha yang dijalankan ini membuatnya meraih sebuah sepeda motor honda beat pop.

“Prinsip saya dalam usaha ini adalah saya sungguh-sungguh dan tidak malu. Saya kira bersama Oirfalme sangat menjanjikan karena pendapatannya bisa lebih dari orang kantoran. Terus usaha yang digeluti ini bisa diwariskann,” demikian tutur Yosefina.

Bisnis online di NTT tak hanya berkutat seputar dunia kosmetik ataupun barang-barang kebutuhan rumah tangga. Bisnis lain yang juga sedang dikembangkan saat ini ialah penjualan buku. Di kota Kupang, Ekora NTT menemui sosok bernama Felix Nesi yang mengurus usaha Toko Buku Fanu. Toko Buku Fanu bukanlah badan usaha fisik melainkan menjalankan rutinitasnya lewat platform sosial media, seperti facebook dan instagram.

Usaha tersebut telah ditekuninya sejak tahun 2017, tepatnya pada bulan Agustus, dan senantiasa berkembang hingga sekarang. Awalnya, Felix hanya menjual atau mempromosikan belasan buku. Namun, hingga saat ini, koleksi jualannya per Februari 2019 mencapai 124 buku. Dalam perjalanan itu, Felix mengakui bahwa setiap bulannya selalu ada yang memesan buku. “Kalau hitung kotornya ya, 400 sampai 500 ribu pasti selalu masuk ke khas,” terangnya.

Dia juga berkisah bahwa para pemesan kebanyakan mengirim pesan langsung (direct message) ke akun sosial media Toko Buku Fanu. “Kalau saya lihat polanya itu, orang jarang memberikan komentar atau emoticon pada setiap kali postingan. Tapi langsung kirim pesan dan ada juga yang tanya-tanya tentang koleksi buku tertentu,” tambah Felix.

Dan bila para pemesan datang dari wilayah Kupang, Felix sendiri yang akan menghantar langsung buku tersebut. Meskipun begitu, buku-buku jualannya telah dipesan hampir ke seluruh daerah di Nusa Tenggara Timur, termasuk ke Flores dan Sumba. Bahkan, orang-orang dari wilayah Makassar juga dari Jawa pun turut memesannya. Untuk ini, dia menggunakan jasa pengiriman Pos Indonesia dan JNE.

Namun, Felix juga mengeluh perihal naiknya ongkos kirim belakangan ini. Tarif kargo pesawat yang naik memang menyebabkan perusahan jasa pengiriman turut menaikkan biaya kirim.

Peralihan dari belanja konvensional ke transaksi online memberi dampak positif bagi perusahaan yang bergiat pada jasa pengiriman paket dan barang. PT Pos Indonesia merasakan hal ini. Sempat terseok-seok dan mati suri, Pos Indonesia mulai bangkit kembali sejak tahun 2010. Berkembangnya jual beli online di Indonesia mendorong Pos Indonesia untuk bergairah lagi dan terus menyesuaikan diri.

Laba perusahaan kian meningkat dari waktu ke waktu. Menurut Manajer Dukungan Umum Pos Indonesia Kantor Pemeriksa Maumere, Kornelius Siprianus Lako, laba usaha Kantor Pos Maumere meningkat drastis. Khusus untuk tahun 2018, Pos Maumere berhasil meraup laba sebesar 5,6 miliar rupiah. Angka ini memang di bawah target yang dipatok yakni 8 miliar rupiah. Tapi ada tren yang naik dari ke tahun ke tahun dan menempatkan Kantor Pos Maumere pada urutan yang ketiga dalam wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Untuk diketahui, PT Pos Indonesia Kantor Pemeriksa Maumere Membawahi 10 kantor cabang di tiga kabupaten yakni Sikka, Flores Timur dan Lembata. Dalam pelayanannya, 10 kantor cabang yang ada akan berkoordinasi dengan Kantor Pemeriksa Maumere.  

Laba 5,6 miliar rupiah didapatkan dari bidang usaha PT Pos Indonesia yakni pembayaran, jasa keuangan, pengiriman surat paket dan penyaluran dana. Khusus untuk pengiriman surat dan paket, kata Kornelius, sumbangsihnya cukup besar mengingat daya beli masyarakat tinggi melalui online.

“Meningkat sekali. Secara kasat mata kita bisa lihat hampir setiap sore selalu ada yang datang ambil paketan kiriman di sini. Rata-rata yang datang anak-anak SMA. Mereka biasanya mengambil paketan yang mereka pesan di toko online seperti Lazada, Bukalapak, Tokopedia dan situs belanja lainnya,” jelas Kornelis kepada Ekora NTT beberapa waktu lalu.

“Kita juga membantu pemesan yang membeli barang di ditus Amazon. Di situs ini transaksinya menggunakan dolar. Bagi yang sudah pesan barang, bisa datang ke Kantor Pos. Kantor Pos bisa membantu untuk melakukan transaksi dengan situs ini,” tambah Kornelius.

Secara umum, harus diakui bahwa saat ini model jual beli masyarakat telah berubah, dari yang konvesional ke yang online. Masyarakat sudah mulai melek dengan sistem belanja online. Seperti yang dilansir cermati.com, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengakui bahwa fenomena belanja online sedang terjadi di Indonesia, dan salah satu faktornya adalah pertumbuhan e-commerce yang juga semakin pesat.  

Pada tahun 2018, Bank Indonesia menaksir nilai transaksi e-commerce mencapai Rp 144 triliun rupiah dan ada 24,7 juta orang yang berbelanja online. Kemajuan teknologi turut mempengaruhi minat masyarakat untuk berbelanja via internet. Selain banyak orang yang menggadrungi dan berbelanja lewat online ini, gemerincing fulus juga menjanjikan bagi pelaku bisnis ini.

Irenius J A Sagur, Hengky Ola Sura, Elvan De Porres

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here