Kemerdekaan Indonesia dalam Perspektif “Moke”

Maumere, Ekorantt.com – Momen kemerdekaan Indonesia kembali kita rayakan lagi. Ulasan bergizi juga refleksi penuh nutrisi bergema di mana-mana dalam menyoal peristiwa historis nan akbar tersebut. Sementara itu, bujur perayaan kebangsaan beserta tetek-bengeknya, baik dalam tataran formal maupun nonformal, menjadi hal yang tak bisa dimungkiri.

Upacara pengibaran bendera dikemas secara menarik. Tak lagi hanya di lapangan-lapangan umum sebagaimana biasanya, tetapi juga menyasar tempat-tempat khusus.

Dan semuanya itu tentu saja membentang harapan-harapan tentang kebaikan dan keadaban bangsa. Bahkan, itu sepertinya telah jadi lagu lama yang senantiasa berdengung terus-menerus. Tak lekang diutarakan. Tak jemu dikumandangkan.

Namun, marilah kita coba menganalogikan kemerdekaan Indonesia dari perspektif moke, minuman lokal khas masyarakat Flores.

Moke, kita tahu, adalah minuman tradisional hasil penyulingan nira yang diambil dari bunga juga buah pohon lontar atau enau. Dibutuhkan sekira 5-6 jam untuk menghasilkan satu botol moke dalam penyulingan itu.  Pemasakannya pun biasanya dilakukan di kebun-kebun dan menggunakan alat-alat tradisional, seperti periuk tanah dan bambu.

iklan

Lantas, di Flores khususnya, juga di Nusa Tenggara Timur umumnya, ada berbagai macam penyebutan untuk jenis minuman tradisional termaktub, seperti sopi, tuak, arak, dewe, dan moke itu sendiri.

Tapi, apa pun namanya, minuman moke sejatinya menunjukkan simbol pergaulan, kebersamaan, persaudaraan, juga persatuan. Makanya, moke adalah budaya, tradisi dan warisan itu sendiri.

Salah satunya tampak nyata dalam upacara tua kalok dari wilayah timur Maumere, Flores. Tua kalok merupakan upacara minum moke bersama-sama yang menyimbolkan hasil sebuah musyawarah atau kesepakatan bersama. Dan, yang paling umum, moke menjadi minuman khas penyambutan tamu yang baru datang ke suatu wilayah. Ini terjadi hampir di setiap sudut tempat di Flores juga di Nusa Tenggara Timur.

Lalu, apa kaitan antara kemerdekaan Indonesia dan moke? Ada tiga poin yang bisa diwedarkan di sini.

1. Keuletan

Untuk menghasilkan moke yang berkualitas, dibutuhkan persiapan yang matang, keuletan juga kesabaran bagi setiap pemasaknya. Persiapan itu mulai dari bambu untuk penyulingan, periuk tanah dan kayu api.

Di sini, seorang pemasak mesti bersabar menunggu tetes demi tetes moke dari bambu penyulingan. Nyala api dan asap adalah hal biasa. Keringat dan peluh tak jadi soal. Meskipun itu harus dilewatkan selama berjam-jam.

Begitu pula dengan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan republik ini bukanlah perkara instan yang hanya tampak dalam perisitiwa proklamasi semata. Itu adalah hasil perjuangan panjang, kerja keras banyak pihak yang berdarah-darah dan mengorbankan nyawa tentu saja.

Dan, sekarang, kita mencicipi kemerdekaan itu. Kemerdekaan sama seperti moke yang dihasilkan dengan penuh keuletan. Ada risalah perjuangan di dalamnya. Ada makna yang punya juntrung mulia.

2. Persatuan

Moke sebagai sebuah produk kultural itu sifatnya mempersatukan. Ia merangkuli berbagai macam kalangan. Tak kenal warna kulit, suku, agama, status sosial, pilihan politik, atau sekat perbedaan apa pun. Ia bahkan melampaui perbedaan itu sendiri.

Dalam setiap acara-acara adat, moke dinikmati sama rata, sama rasa. Biasanya, orang akan duduk melingkar dan sebuah gelas moke akan diedarkan bergilir. Di hadapan moke, semua orang itu sama dan bersaudara, kira-kira begitulah filosofinya.

Kemerdekaan Indonesia pun dirayakan laiknya orang-orang yang duduk minum moke. Sebab, kemerdekaan adalah milik semua. Ia adalah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang melawan penjajahan kolonial dengan cara mereka masing-masing.

Mereka terdiri dari berbagai macam suku, agama dan golongan. Semua orang kompak dan bersatu untuk mengusir kaum penjajah.

3. Penghidupan

Bagi orang Flores, moke merupakan sumber kehidupan dan penghidupan. Ini terutama bagi bapak/ibu yang tinggal di pedesaan. Mereka tak hanya menggarap sawah dan ladang, tapi juga menderes lontar atau enau yang kemudian disuling di situ juga.

Para petani itu bekerja keras memanfaatkan segala potensi sumber daya alam yang tersedia. Dan, moke yang dijual tentu akan menjadi pemasukan bagi ekonomi keluarga. Bahkan, tak jarang, dengan “hidup” dari moke, seorang petani bisa menyekolahkan anak mereka sampai punya gelar tinggi. Sebuah hal yang telah banyak diketahui.

Kita merupakan anak dari kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan Indonesia juga piranti-piranti penting yang mengitarinya, semisal Pancasila dan UUD 1945 merupakan roh yang senantiasa hidup dan menghidupkan hingga saat ini.

Mereka adalah rahim serentak sumber daya luhur yang mesti dijaga dan dirawat. Sebab, itu berkaitan dengan identitas kebangsaan kita. Sama seperti moke yang menjadi minuman khas masyarakat Flores.

Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dilaksanakan dalam suasana sederhana; tak ada protokol, tak ada korps musik, bahkan tiang bendera hanya terbuat dari bambu, juga diibaratkan seperti suasana pembuatan moke itu sendiri.

Pemasakan moke dilakukan di kebun atau di pojok belakang rumah di kampung-kampung. Tak butuh perkakas-perkakas modern dan canggih. Namun, hasilnya setelah itu bisa dinikmati banyak orang dari berbagai macam latar belakang kehidupan.

Pada akhirnya, barangkali memang tidak cocok menganalogikan kemerdekaan Indonesia dengan moke, sebuah minuman tradisional yang nyatanya kadangkala mendapat razia oleh aparat di berbagai tempat di NTT. Tapi, ingatlah, sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, moke dan tetek-bengek tradisinya justru telah ada duluan.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA