Suasana salah satu lapak jual tenun ikat di Kota Ende

Ende, Ekorantt.com – Sejumlah pedagang tenun ikat di Kota Ende mengeluh karena ketiadaan tempat untuk memasarkan produk tenun ikat.

Selama ini, pedagang menjual hasil tenun ikat di lorong-lorong, emperan toko bahkan di atas saluran drainase di sepanjang jalan pasar dan jalan Pelabuhan Ende.

Ironi memang. Warisan seperti tenun ikat harus dijual di tempat yang tidak layak. Karena itu para penjual kain tenun ikat meminta Pemkab Ende untuk menyiapkan pasar khusus tenun ikat.

“Kami jual di sini sudah puluhan tahun. Belum ada penataan sama sekali oleh pemerintah. Kalau musim hujan tiba, kami akan kehilangan penghasilan karena sudah tentu tidak bisa jual,” ungkap salah satu penjual tenun ikat yang tidak mau namanya dikorankan.

Ekora NTT sempat bertandang ke area sepanjang jalan ke Pelabuhan Ende. Di sana sekitar 200-an pedagang menjual tenun ikat khas Ende-Lio setiap harinya.

Keluhan mereka sejauh ini sama yakni belum ada tempat yang representatif untuk menampung jumlah pedagang ini. Memang Pemkab Ende telah menyediakan satu bangunan di depan Toko Anggrek tapi sudah pada pedagang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ende, Subhan Wanda membenarkan hal ini. Selama ini pihaknya telah melakukan monitoring dan sedang memikirkan solusi demi memperbaiki nasib para pedagang tenun ikat.

“Kami sudah pantau. Kita akan bahas bersama dan saya akan sampaikan ke Pak Plt Bupati, apakah mereka nanti digabung ke pasar Mbongawani yang sedang dibangun atau kita pikirkan untuk tempat sendiri agar terfokus,” ungkap Kadis Wanda.

Perhatian Serius

Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Ende Dapil 1 dari Partai Gerindra, Orba Kamu Ima meminta Pemkab Ende untuk melakukan analisis yang baik agar Pasar Mbongawani yang sedang dikerjakan bisa mengakomodir para pedagang tenun ikat di wilayah Pasar Ende.

“Produk tenun ikat itu warisan budaya yang mesti diperhatikan serius, mulai dari hulu sampai pada pemasarannya sehingga para pedagang ini mesti di relokasi pada satu tempat yang nyaman,” kata Orba.

Senada dengan itu, Anggota DPRD Ende dari Partai PSI, Emanuel Minggu menegaskan, akses publik seperti pasar itu harus memberi rasa nyaman bagi para pembeli dan penjual.

“Kalau dibiarkan mereka berjualan di emperan itu sangat tidak nyaman dan sangat berisiko. Selain itu berdampak pada tata ruang yang tidak kondusif,” jelas Eman.

Sementara itu Anggota DPRD Ende dari Partai Amanat Nasional, Fadlin Delly meminta pemerintah untuk segera mendata pedagang tenun ikat. Setelahnya, pemerintah harus mulai berpikir tentang lokasi baru agar semua pedagang terpusat.

“Kita akan dukung karena ini yang dijual kan hasil tenun ikat produk khas dan budaya kita. Jadi kita DPRD pasti dukung langkah pemerintah,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here