RLC Ngada Angkat Masalah Krisis Ekologi dalam Diskusi Publik

Bajawa, Ekorantt.com – Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada adakan diskusi publik dan sayembara menulis dengan tema “Kaum Milenial di Tengah Krisis Ekologi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, pada Sabtu (21/09/2019).

Pada kegiatan tersebut hadir empat narasumber, yaitu P. Thobias Harman, OFM, Reinard L. Meo, S. Fil, Dr. Nao Remond, dan Paskalis W. Bai, SP. 

Hadir pula para pelajar dari berbagai tingkat pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa STKIP Citra Bakti dan Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ngada.

Emanuel Djomba, dalam laporan panitia menyampaikan, saat ini, kerusakan lingkungan baik secara global maupun lokal terlihat semakin mengkhawatirkan. Hal ini menjadi perhatian dunia karena dari hari ke hari, bumi makin jauh dari nyaman untuk didiami. 

Empat tahun lalu, isu lingkungan menjadi perhatian serius Paus Fransiskus. Melalui ensiklik Laudato Si, Paus mengajak segenap umat Katolik membuka mata terhadap kerusakan bumi,  mencari sebab-sebabnya serta mengusahakan adanya solusi sebelum semua terlambat.

iklan

“Di sekitar kita, air dan tanah pertanian tercemar akibat penggunaan pupuk dan pestisida. Sampah berserakan hingga lahan pertanian, pembakaran liar, kebakaran hutan yang mengakibatkan rusaknya ekosistem, dan punahnya spesies hewan serta keringnya banyak sumber mata air” papar Emanuel.

Kebakaran hutan dan pembalakan liar yang sudah berlangsung puluhan tahun disebabkan oleh manusia-manusia yang rakus dan mengambil dari alam lebih dari yang diperlukannya. Hasil hutan dieksploitasi habis demi melayani nafsu serakah.

“Menyikapi hal itu dan sebagai upaya untuk mengembalikan alam ciptaan sebagai sahabat dan ibu, kita mesti terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam mengartikulasikan isu-isu aktual, selanjutnya mewujudkannya dalam aksi nyata”  tuturnya.

Lebih jauh Emanuel menjelaskan, upaya itu sudah sering dilakukan melalui literasi ekologi yang dipelopori oleh Rumah Literasi Cermat (RLC). Literasi ekologi bertujuan memberi edukasi kepada publik, khususnya generasi muda agar semakin melek ekologi, yang diharapkan dapat membawa manfaat bagi kehidupan nyata.

Di sekolah-sekolah, guru memberi pemahaman secara berkelanjutan kepada masyarakat. Perlu upaya terus-menerus dalam memberi informasi dan edukasi termasuk melalui kegiatan nyata, sebagai kiat untuk mengobati bumi (alam) yang sedang sakit. 

Hari Ozon yang jatuh pada tanggal 16 September setiap tahun oleh banyak pihak dinilai sebagai salah satu momen yang mengingatkan manusia bahwa bumi sedang berada dalam keadaan bahaya sehingga manusia perlu terus berupaya melestarikannya sebagai rumah bersama.

“Kegiatan diskusi publik memang jarang dilakukan di desa, seperti hari ini. Namun, pemilihan tempat kegiatan seperti ini sebenarnya bermaksud praktis, mengarahkan kita untuk fokus melihat dari dekat berbagai situasi kerusakan lingkungan yang kian parah dari tahun ke tahun, seperti bencana kebakaran hutan, atau pembakaran liar yang menyebabkan rusaknya ekosistem dan mengeringnya sejumlah mata air” jelasnya.

Emanuel menjelaskan, kasus kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan nyaris tak pernah absen di Kecamatan Wolomeze dan beberapa tempat lain di kabupaten Ngada. Terkait hal tersebut, lembaga RLC bekerja sama dengan Komunitas OFM Paroki Kurubhoko, Yayasan Puge Figo dan Pemerintah Desa Nginamanu menggelar diskusi publik. Kegiatan ini juga merupakan upaya menggemakan tema bulan kitab suci nasional tahun 2019, yaitu “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup”. Kegiatan semacam ini adalah kiat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan.

Kepala Desa Nginamanu, Yohanes Don Bosko Lemba, dalam sambutannya menyampaikan, sebagai Kepala Desa Nginamanu, dirinya memberikan apresiasi kepada Yayasan Puge Figo atas inisiatifnya melakukan diskusi krisis ekologi.

“Sebagai kalangan muda, kita pasti merasa prihatin dengan aksi-aksi tidak terpuji, misalnya pembakaran hutan” kata Yohanes.

Ia berharap, diskusi tersebut dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat agar tidak mengulangi perbuatan membakar hutan dan memutus mata rantai masalah tersebut.

Adeputra Moses

TERKINI
BACA JUGA