Daniel Daseng

Maumere, Ekorantt.com – Daniel Daseng, 55 tahun, nampak lelah ketika mampir menawarkan buah nangka di sepanjang lapak kios dan toko depan jalan Anggrek-Maumere.

“Hari ini saya sudah jual empat buah, syukurlah sudah bisa untuk biayai kebutuhan seminggu kedepan dan uang makan anak sulung saya yang tinggal di rumah keluarga”.

Ia memang giat bekerja demi si sulungnya yang saat ini berada di kelas 12 SMKN 1 Maumere dan juga kebutuhan buat istri dan dua anaknya di kampung.

Pria pedagang buah ini berasal dari kampung Bei-Nara, desa Blatatin, Kecamatan Kangae.

Ia mengaku sudah menjadi penjual buah nangka keliling Kota Maumere dari usia belasan. Selain nangka ada juga aneka jenis buah lainnya.

Biasanya ia menghabiskan waktu pada lapak sederhananya di Pasar Bertingkat Maumere tetapi ketika dikejar kebutuhan uang untuk berbagai keperluan, Dirinya memang harus terpaksa meninggalkan lapak jualan dan keliling kota Maumere.

Kadang rute tempuh perjalanannya sampai ke kampung nelayan Wuring dan bahkan sampai ke Nangahure, Kecamatan Alok Barat.

“Untuk hidup dan anak sekolah inikah pak, jadi harus berkorban. Kalau tidak nanti mau bagaimana”, celetuk Daniel sambil membelah buah nangka.

Menurutnya rezeki dari berjualan buah nangka dan aneka jenis buah lainnya sudah cukup membantu. Dari dua dekade berjualan keliling ia bisa membeli satu hektare tanah untuk ditanami kakao dan kelapa.

Dirinya bersyukur karena hasil kebun berupa kakao dan kelapa walaupun belum banyak tapi sudah dipanen. Di kebunnya juga ada tiga pohon nangka yang setiap tahun berbuah limpah. Jenis nangkanya adalah nangka salak.

“Kalau dulu nangkanya pakai beli baru jual lagi sekarang tidak lagi. Paling ya saya beli buah yang lain saja untuk jual tapi kalau nangka sudah ada pohon sendiri jadi saat musim panen tinggal petik dan jual,” demikian Daniel mengenang masa-masa awal sebagai penjual nangka keliling.

Menurut Daniel, nangka dari Kabupaten Sikka khususnya yang tumbuh di kampung Bei-Nara adalah jenis nangka salak dengan rasa manis yang legit.

“Beda sekali kalau makan nangka ini pak, bisa jadi karena pohonnya tumbuh tanpa pupuk atau perangsang sehingga rasanya beda sekali”, ujar Daniel mempromosikan nangka jualannya.

Alhasil nangka jualan kelilingnya selalu ludes terjual. Ia membagi tips, nangka itu jenis makanan juga jadi kalau saat menjualnya mesti diletakkan dalam wadah yang menarik hati pembeli.

Kalau buah yag masih utuh harus diletakkan dalam anyaman daun kelapa. Dan jika sudah dibelah jadi lempengan maka harus dibungkus apik dengan plastik.

Pengalaman selama dua puluh tahun berjualan nangka memang telah mengajarkan banyak hal sederhana namun berarti bagi Daniel. Kini bersama istri dan anak-anaknya Daniel tengah merenda impian bisa membangun sebuah rumah sederhana yang layak dan anak-anaknya terus sekolah.

“Kami dapat penghasilan tidak tetap jadi pintar-pintar tabung sedikit”, ujarnya bangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here