Yuliana Heni

Maumere, Ekorantt.com – Kesuksesan pelaksaan Program Keluarga Harapan (PKH) tidak terlepas dari peran para pendamping. Kerja keras para pendamping menjadi salah satu faktor kunci terverifikasinya kelompok-kelompok penerima bantuan secara tepat sasar.

Belum lama ini Ekora NTT mewawancarai Yuliana Heni, salah seorang pendamping PKH dari Kecamatan Alok Barat.

Menurut Yuliana salah satu masalah yang paling mendasar adalah kemiskinan. Untuk pengentasan masalah ini ada tiga hal utama yang digagas pemerintah era Jokowi yakni  pembangunan infrastruktur, dana desa, dan pengentasan kemiskinan melalui program PKH.

Pengalamam selama dua tahun sebagai pendamping PKH bagi Yuliana membawa tantangan tersendiri.

Menurutnya menjadi pendamping PKH adalah  panggilan kemanusiaan. Panggilan kemanusiaan untuk bekerja bagi fakir miskin. Selain itu mengasah kepekaan sosial untuk betul-betul melihat orang miskin dengan hati.

“Saya ingin menjadi lilin kecil yang terang bagi sesama yang miskin,” tutur Heni.

Menjadi pendamping PKH juga punya tantangan tersendiri.  Khususnya saat melakukan pemutakhiran data, verifikasi dan penyaluran bantuan. Pada bagian ini memang semua pendamping PKH butuh waktu ekstra. Terkadang kurang istirahat, harus begadang karena berburu jaringan dengan waktu yang sudah ditentukan.

Yuliana Heni memberikan pendampingan kepada pemanfaat Program Keluarga Harapan (PKH)

Dana Bantuan PKH

Yuliana  menjelaskan, untuk tahun 2018 besaran bantuan untuk semua KPM PKH reguler Rp1.890.000, untuk 1 tahun dengan perincian dibagi menjadi 4 tahap yakni bulan Januari Rp500.000, April Rp500.000, Juli Rp500.000, dan Oktober Rp390.000.

Sedangkan di tahun 2019, tambah Heni, bantuan disesuaikan pada setiap jenjang pendidikan. Khususnya pendidikan SD sebesar Rp900.000, SMP Rp1.500.000, dan SMA Rp2.000.000.

Untuk kesehatan balita Rp2.400.000, kesejahteraan sosial bagi lansia dan disabilitas Rp2.400.000. Itupun dibagi jadi 4 tahap dan penyaluran sama di bulan Januari, April, Juli dan Oktober.

Setiap kali ada bersama keluarga penerima bantuan PKH, Yuliana selalu menyadarkan sekaligus memotivasi warga penerima bantuan agar bisa membuka usaha sendiri seperti tenun ikat, kelompok tani, jual makanan lokal dan kios.

“Jika usaha mereka berkembang, itu bisa membawa mereka untuk keluar dari masyarakat penerima manfaat PKH,” ujarnya.  

“Saya termasuk yang paling setia memotivasi warga penerima manfaat PKH untuk selalu berjuang agar bisa berusaha karena mereka tidak terus-menerus menerima bantuan ini,” tutup Yuliana.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here