Tembus Rp60.000,00 Per/Kg, Harga Bawang di TTU Melambung Naik

Kefamenanu, Ekorantt.com – Harga bawang merah dan bawang putih di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) melonjak drastis.

Berdasarkan data yang dihimpun Ekora NTT di Pasar Rakyat Kefamenanu Lama dan Pasar Rakyat Kefamenanu Baru, harga bawang putih melonjak naik dari Rp50.000,00 hingga Rp60.000,00 sedangkan bawang merah melonjak naik dari harga Rp40.000,00 hingga Rp50.000,00.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten TTU, Maksimus Akoit saat ditemui di ruanganya, Kamis (27/2/2020) mengatakan, Dinas Perindag akan melakukan pendataan harga di Pasar Rakyat Kefamenanu yang baru dan Pasar Rakyat Kefamenanu yang lama. Apabila terbukti harga bawang melonjak hingga Rp60.000,00 per/kilogram, pihaknya akan melakukan standarisasi harga minimal bawang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurut Maksimus, berdasarkan standar Harga Eceran Tertinggi (HET), harga bawang berkisar dari Rp35.000,00 hingga Rp40.000,00. Apabila harga bawang naik di atas 20 – 100 persen dari HET, maka pihaknya akan mengambil kebijakan standardiasi harga, tentu sambil memperhatikan mekanisme pasar.

“Tentu pemerintah menjaga konsumen dan produsen atau penjual. Namun, kita tetap menjaga agar harga tidak melonjak naik. Terakhir yang saya dengar, harga mencapai Rp60.000,00. Harga normal bila lonjakan di antara Rp35.000,00 sampai dengan Rp40.000,00 dan itu masih wajar,” ujarnya.

Maksimus menjelaskan harga bawang merah dan bawang putih pada awal Januari hingga awal Februari 2020 masih normal. Pihaknya tidak menyangka akan terjadi lonjakan harga yang drastis hingga menyentuh angka Rp60.000,00. Lonjakan harga tersebut terjadi di luar prakiraan dinas. Pihaknya akan mendata dan mencari tahu penyebab lonjakan harga bawang.

“Karena dari januari itu harga masih stabil dan kita sempat berpikir tidak akan ada lonjakan harga, walaupun sedikit naik tetapi tidak terlalu melampui HET yang sudah ditentukan. Saya akan perintahkan Kabid Perdagangan untuk mendata dan mencari penyebab persoalan harga bawang melonjak,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTU Gregorius Ratrigis saat ditemui di ruangannya mengungkapkan, sejauh ini, walaupun curah hujan rendah di Kabupaten TTU, tetapi produksi bawang putih di dataran tinggi seperti di Kecamatan Miomaffo Barat tetap stabil. Sebab, tanah di kecamatan lembab. Sementara itu, bawang merah biasanya lebih banyak dibudidayakan di daerah dataran rendah seperti di Kecamatan Insana Utara.

“Jumlahnya tidak seberapa. Harga bawang merah melonjak sebenarnya bukan karena produksi kita rendah tetapi jumlah petani yang tanam bawang tidak terlalu banyak, tetapi konsumsinya tinggi. Jadi, kita merasa di TTU ini kekurangan bawang merah dan bawang putih. Ketika kekurangan, pedagang mau cari untung, maka harga bawang akan naik,” papar Gregorius.

Kristoforus Dos Santos

TERKINI
BACA JUGA