Lewoleba, Ekorantt.com – Desa Lamagute, Desa Aulesa, dan Desa Waimatan yang masuk dalam wilayah adat Watun Lewo Pito di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT, mencatat sejarah dan peradaban untuk dibukukan sebagai pelestarian otentik agar menghindari kepunahan kolektif.
Ketiga desa yang menjadi kesatuan masyarakat adat di Ile Ape Timur itu berikhtiar merawat serta menghidupi harta sejarah hasil warisan nenek moyang mereka sejak ratusan tahun silam.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Ile Ape Timur, Kristoforus Boro Making, membuka rangkaian kegiatan Pembahasan Draft Buku pada Jumat, 4 September 2026. Ia mendukung inisiatif warga adat yang berangkat dari kesadaran sejarah.
“Sejarah dan peradaban kita pada umumnya diwariskan secara lisan. Suatu saat nanti bisa saja tidak lagi diketahui oleh anak cucu kita. Oleh karena itu, penulisan sejarah seperti ini menjadi sangat penting,” ujar Kristoforus.
Proses penulisan itu didukung oleh Komunitas Moting Maung, beranggotakan anak tanah asli dari tiga desa yang punya kemauan dan kemampuan menaskahkan sejarah.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembentukan tim penulis, penggalian sejarah dari sejumlah tokoh adat sebagai narasumber yang berlangsung sejak tahun 2025, kemudian kegiatan pembahasan draft buku pada Jumat pagi.
Draft buku diberi judul “Menggali Mutiara Terkubur dalam Sejarah dan Peradaban Masyarakat Adat Watun Lewo Pito” berlangsung di Kampung Atawatung, Desa Lamagute.
Kepala Desa Lamagute, Romanus Jariaman Berwulo, dalam pengantar mewakili dua rekannya menguraikan proses panjang penulisan mulai dari pembentukan tim penulis, penggalian data dan informasi, serta analisis perumusannya.
Romanus menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dan tim penulis yang telah bekerja ekstra dalam upaya menulis sejarah dan peradaban tersebut.
“Kita bersyukur masih punya banyak tokoh adat yang mampu bercerita tentang sejarah dan peradaban kita secara baik dan benar. Kita juya bersyukur karena ada anak-anak yang lahir dari kampung kita ini yang mampu menulis dengan baik dan benar. Terimakasih banyak orangtua semua, juga anak-anak muda dalam komunitas literasi Moting Maung,” ucapnya.
Kepala Desa Waimatan, Onesimus Sili berharap agar buku yang akan diterbitkan dapat menjadi bahan acuan untuk pelaksanaan adat istiadat ke depannya.
“Sudah ada satu dua tradisi yang kita lupakan atau buat tidak sesuai yang aslinya. Begitu juga dengan banyak situs sejarah kita yang terabaikan. Saya yakin, buku ini nanti bisa membantu kita”, ujarnya.
Pembahasan draft buku Menggali Mutiara Terkubur dalam Sejarah dan Peradaban Masyarakat Adat Watun Lewo Pito berlangsung alot. Antusiasme para peserta yang umumnya tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh pemuda dalam Masyarakat Adat Watun Lewo Pito tersebut sangat tinggi.
Mereka saling memberikan kritik dan saran-saran perbaikan untuk penyempurnaan draft buku yang telah dihasilkan.
Ketua Komunitas Moting Maung, Darius Baki Akamaking, berterima kasih atas partisipasi elemen masyarakat demi mewujudkan tujuan besar bersama.
“Ada kerja sama yang luar biasa di sana, Ama. Tanpa itu, tidak mungkin. Dan jangan lupa campur tangan Tuhan dan Leluhur Lewotana. Itu yang nomor satu. Kami bangga bisa melakukan dengan baik,” ujar Darius.
Penulis: Paul Kebelen













