Kemendikdasmen Alokasikan Rp13 Miliar Revitasliasi 11 Sekolah Terdampak Gempa di Sikka

Selain 11 sekolah, pemerintah juga menguncurkan dana Rp60 miliar untuk program revitalisasi reguler bagi 90 sekolah.

Maumere, Ekorantt.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengucurkan anggaran Rp13 miliar untuk revitalisasi 11 sekolah terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko mengatakan, selain 11 sekolah, pemerintah juga menguncurkan dana Rp60 miliar untuk program revitalisasi reguler bagi 90 sekolah.

“Total 101 sekolah dapat bantuan revitalisasi sarana dan prasarana dari Kementerian Pendidikan tahun 2026. Total anggaran yang dikucurkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tersebut mencapai Rp73 miliar,” kata Patrisius saat ditemui Ekora NTT di ruang kerjanya, Rabu, 23 September 2026.

Program revitalisasi reguler mencakup 90 sekolah yang terdiri atas jenjang pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara itu, program revitalisasi pascabencana dikhususkan untuk 11 bangunan SMP yang mengalami kerusakan akibat terdampak bencana alam.

Patrisius menjelaskan, proses pengerjaan dan pembangunan fisik dilakukan bertahap. Pelaksanaan tahap pertama fokus pada pengerjaan reguler yang mencakup 16 sekolah, terdiri dari delapan TK/PAUD, dua SD, dan enam SMP.

“Pengerjaan tahap pertama telah berlangsung sejak Juli lalu dan saat ini sudah memasuki tahap finishing,” ujar Patrisius.

Sementara itu, pengerjaan untuk 46 SD lainnya sempat terlambat akibat dampak bencana gempa bumi. Namun rekomendasi pelaksanaan kegiatan telah dikeluarkan Minggu ini, dan sejumlah sekolah sudah mulai membongkar gedung.

“Di sisi lain, untuk 11 SMP yang masuk dalam program pascabencana, prosesnya saat ini sedang berada dalam tahapan penyelesaian administrasi dan pencairan anggaran melalui Bank BNI. Beberapa sekolah juga telah mengajukan rekomendasi pembongkaran gedung,” ujar Patrisius.

“Untuk 11 sekolah penanganan bencana ini, kami sudah tekankan bahwa seluruh prosesnya harus rampung pada Desember 2026. Pengerjaan tidak boleh lewat ke tahun 2027,” tambahnya.

Patrisius mengingatkan para kepala sekolah mengenai pentingnya akurasi data pokok pendidikan (Dapodik). Kriteria utama menentukan sekolah penerima bantuan revitalisasi adalah tingkat kerusakan dan keterbatasan sarana dan prasarana yang tercatat di tingkat pusat.

“Saya meminta para kepala sekolah untuk memastikan data Dapodik mereka selalu valid dan diperbarui secara berkala,” ujar Patrisius.

Dinas PKO menjamin proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan aman dan lancar selama pelaksanaan proyek revitalisasi sekolah. Pengerjaan fisik yang menyasar ruang-ruang kelas tidak akan menghentikan aktivitas belajar siswa. Pihaknya bersama sekolah telah menyiapkan skema pembelajaran agar proses belajar tidak terhenti.

“Rata-rata sekolah membutuhkan penyesuaian tempat belajar sementara agar aktivitas pembelajaran tetap berjalan aman, ” tegasnya.

Patrisius menambahkan, jumlah sekolah di Kabupaten Sikka mencakup 223 PAUD yang seluruhnya berstatus swasta.  Sementara itu, dari 93 TK yang ada, hanya 10 sekolah berstatus negeri dan 83 lainnya swasta.

Untuk jenjang SD, terdapat 338 sekolah dengan rincian 214 negeri dan 124 swasta. Sementara untuk jenjang SMP, dari total 91 sekolah, 51 berstatus negeri dan 40 swasta.

Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Contoh Maumere, Yustina Ina Deran mengaku bersyukur sekolahnya akhirnya mendapatkan program revitalisasi pada anggaran tahun 2026.

Ia bilang, kondisi delapan ruang kelas dan satu perpustakaan di sekolahnya sangat memprihatikan. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1990-an tersebut dinilai sudah tidak layak untuk dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar

“Fasilitas yang paling mendesak untuk diperbaiki hampir semua, mulai dari atap, plafon, lantai hingga cat dinding yang sudah pudar,” tambahnya.

Saat ini, SDN Contoh memiliki total 15 rombongan belajar (rombel). Sebanyak delapan rombel kini sedang direhabilitasi, sementara tujuh rombel lainnya masih dalam keadaan baik dan bisa digunakan.

Untuk menyiasati kegiatan belajar mengajar selama pembangunan, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergilir atau shift. Sistem ini melanjutkan sistem darurat yang sempat diterapkan pascagempa bumi.

“Kami melanjutkan pembelajaran menggunakan sistem shift dan semuanya berjalan dengan baik. Shift pagi diisi oleh kelas 1, 2, dan 3. Sementara untuk shift siang digunakan shift siang oleh kelas 4, 5, dan 6,” jelas Yustina.

TERKINI
BACA JUGA