Kisah Petani Muda dari Sikka, Pencet Ponsel untuk Mengalirkan Air ke Lahan Pertanian

Maumere, Ekorantt.com – Kondisi alam Nusa Tenggara Timur yang umumnya kering dan penuh lahan tidur memang membutuhkan kreativitas tinggi untuk mengolahnya. Salah satu sosok anak muda milenial asal kabupaten Sikka, Yance Maring (27) membuktikan bahwa kondisi alam bukan jadi halangan untuk mencoba.

Pemuda lulusan D3 Politeknik Negeri Kupang ini pun usai kuliah memilih kembali ke Maumere dan mulai melakukan berbagai eksperimen untuk mengembangkan irigasi tetes di atas lahan seluas satu hektare yang dikontraknya.

Yance menerangkan, dalam menerapkan irigasi tetes ia rela membuka banyak literatur pertanian dan belajar dari Youtube khususnya lewat kanal youtube perusahaan drip irigasi. Ia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa selain komitmen perlu juga ada alat atau sarana untuk mulai bertani secara profesional.

“Saya keluarkan uang sekitar Rp50 juta untuk datangkan alat irigasi tetes. Saya pesan secara online langsung dari pabriknya di Cina dan yang paling mahal itu alat yang namanya selang drip,” ujar Yance.

Ketika alat tiba di Maumere, Yance mulai melakukan pemasangan dengan terlebih dahulu mengukur total panjang bedengan yang dipasang selang drip.

iklan

Kini di atas lahan seluas satu hektare yang dikontraknya Yance fokus pada tanaman hortikultura. Ada tomat, semangka, dan cabai yang yang berjejer apik. Dengan sistem irigasi tetes berbasis otomatis memudahkan untuk dikontrol via ponsel.

“Sistem irigasi tetes atau drip irigasi system merupakan teknologi hemat air yang sangat cocok jika dikembangkan di NTT karena merupakan daerah lahan kering. Dengan metode ini petani dapat memproduksi hasil pertanian dengan luas lahan yang lebih besar karna dengan cara ini dapat menghemat air dan tenaga kerja 40-60 persen,” kata Yance.

“Sistem irigasi tetes yang saya terapkan sekarang adalah sistem irigasi tetes yang berbasis otomatis yang dapat dikontrol via ponsel mengunakan SMS  dan wifi,” tambah Yance.

Saat ini Yance bersama kawan-kawan mudanya di Yayasan Pemberdayaan Kaum Muda Flores (Permadani Flores) mulai menyasar ke desa-desa dan juga sekolah kejuruan pertanian untuk mulai mengembangkan sistem ini.

“Prospek usaha sektor pertanian di NTT itu sangat menjanjikan. Mayoritas petani-petani di provinsi ini umurnya di atas 40 tahun sehingga pemerintah perlu berpikir untuk mengembangkan sektor pertanian irigasi tetes ini agar semakin menarik banyak pemuda di Flores dan NTT pada umumnya untuk bertani. Kita punya banyak lahan kok masih banyak sekali orang kita yang terus merantau,” jelas Yance.

Yance mengharapkan agar Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten di provinsi kepulauan ini untuk serius mengembangkan potensi pertanian.

“Jika Pemerintah Daerah (Pemda) ingin fokus pada sektor pertanian terlebih sub sektor hortikultura maka perlu ada keseriusan karena banyak lahan tidur di daerah dataran rendah yang belum digarap,” sebut Yance.

Hal ini, lanjut Yance, berkaitan infrastruktur vital seperti air yang masih belum memadai untuk mendorong pengembangan sektor pertanian.

“Perlu diakomodir orang muda yang punya semangat bergerak di sektor pertanian dan difasilitasi dengan serius karena sudah saatnya perlu ada regenerasi. Jika perlu Pemda harus mengatur regulasi yang berkaitan harga dan pembatasan produk luar NTT khususnya buah dan sayuran untuk masuk. Saya kira Pemda juga perlu punya pilot project sebagai media pembelajaran petani,” demikian katanya berharap.

Dari lahan yang kini digarapnya Yance menargetkan keuntungan saat panen mencapai Rp100 juta.

TERKINI
BACA JUGA