Tim Peneliti Universitas Melbourne Teliti Makanan Tradisional di Desa Lewokukung-Baolangu Lembata

Lewoleba, Ekorantt.com – Saat ini sejumlah peneliti lintas-disiplin dari The University of Melbourne, Victoria, Australia melakukan penelitian di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Adapun para peneliti tersebut dari disiplin ilmu Antropologi, Geografi, Ekologi dan Pertanian yang mana mereka diketuai Dr. Justin Laba Wejak, salah seorang dosen yang juga mengajar di The University of Melbourne atau Universitas Melbourne.

Justin mengungkapkan bahwa kehadiran mereka akan berfokus pada aktivitas penelitian. Menurutnya, tim peneliti dari universitas tertua kedua di Australia ini sudah berdiri sejak 1853. Sebelumnya, sudah ada Universitas Sydney yang berdiri pada tahun 1850.

Sebagaimana dikutip dari mediasurya.com, Minggu (27/2/22), Dr. Justin Laba Wejak bersama timnya akan meneliti soal pengetahuan lokal mengenai makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan herbal di Desa Lewokukung-Baolangu, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, NTT, Indonesia.

Justin menerangkan bahwa penelitian ini berusaha menggali cerita-cerita setempat mengenai pengetahuan dan praktik-praktik lokal mengenai makanan tradisional maupun tumbuhan-tumbuhan herbal.

iklan

Di sisi lain, Justin menambahkan bahwa mereka memilih lokasi penelitian di Lewokukung-Baolangu dengan alasan, masyarakat di sana punya banyak kisah tentang praktik lokal turun-temurun. Mereka masih menggunakan tanaman dan tumbuhan-tumbuhan herbal sebagai pengganti cara penyembuhan medis modern.

“Komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu juga memiliki kebiasaan unik di mana mereka selalu hidup dan bersahabat kental dengan alam bahkan abai memperlakukan alam sebagai musuh. Selain ada ketergantungan melalui tanaman maupun tumbuhan herbal, kebiasaan Sare Dame, berdamai dengan alam dan sesama selalu dipegang teguh demi menjaga relasi sosial serta harmoni kehidupan,” kata Justin.

Sosok akademisi yang kini jadi Dosen Kajian Indonesia di Universitas Melbourne ini merasa, kali ini adalah waktu yang tepat karena pada tanggal 7 Februari hingga 7 Maret 2022 mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata tengah menggelar kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata.

Dalam kegiatan ini, ada Sare Dame, salah satu bentuk terkecil untuk menggali kekayaan budaya di semua kampung di seluruh wilayah Lambata.

“Di Desa Lewokukung-Baolangu terdapat aneka jenis kacang dengan nama lokal seperti delaj, wetem, uta mekjawa, sura mojek, sura engal, sura koles, dan lain-lain. Begitu juga ada aneka jenis tumbuhan obat seperti kweluk, malu, kleruk, liaru, kebelu, leptaka mera, dan lain-lain. Saat virus korona kian mengglobal, komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu dan desa-desa lainnya di Lembata malah berbalik lalu bersandar pula pada tanaman dan tumbuhan-tumbuhan herbal di wilayahnya masing-masing,” kata Justin Wejak yang pernah menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

Tidak hanya itu, Justin menguraikan soal bagaimana proyek ini akan meneliti pengetahuan lokal yang diproduksi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tak terlepas dari pengetahuan lokal saja, proyek ini juga akan berusaha menggali peran-peran “gender” dan “generasi” dalam memproduksi, mewariskan, dan melestarikan pengetahuan dan praktik-praktik lokal mengenai makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam masyarakat agraris di Lembata.

Tentu saja, Justin memberikan dua pertanyaan umum untuk penelitian tersebut. Pertama, bagaimana masyarakat Desa Lewokukung-Baolangu melestarikan pengetahuan dan kearifan lokal terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam sejarah lingkungan dan proses ekologis?

Kedua, apa peran “gender” dan “generasi” serta hubungan kekerabatan dalam produksi pengetahuan lokal terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat?

Selanjutnya, Justin membeberkan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan “partisipatif” di mana para peneliti harus turun langsung ke lapangan dan tinggal bersama masyarakat.

Dengan begitu, Justin turut menjelaskan bahwa proyek ini sejatinya meningkatkan rasa kepemilikan warga setempat atas cerita-cerita tentang pengetahuan dan praktik-praktik mereka serta mempromosikan pentingnya makanan-makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat untuk kesehatan dan pelestarian pengetahuan dan kearifan lokal.

“Selain itu proyek penelitian ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk penelitian-penelitian kolaboratif di wilayah-wilayah lain di bagian timur Indonesia. Penelitian ini berlangsung selama tahun 2022. Kami melibatkan beberapa warga lokal untuk membantu kami mengumpulkan data mengingat musim Covid-19 yang belum berlalu,” tutup Justin.

Eto Kwuta

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA