Lawan Fenomena Goyangan Bento, SDN Contoh Maumere Tampilkan Rokatenda, Gawi, dan Ja’i

Maumere, Ekorantt.com – SDN Contoh Maumere menampilkan tarian Rokatenda, Gawi, dan Ja’i sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat di tengah mendominasinya goyangan Bento.

Kepala SDN Contoh Maumere, Maria Elisabeth Alce mengatakan, goyangan lagu Bento identik dengan goyangan erotis yang saat ini semakin digemari anak-anak dan dipertontonkan berbagai kalangan; tak terkecuali anak usia Sekolah Dasar.

Atas kesan demikian, Maria bilang, fenomena tersebut sangat memprihatinkan semua pihak dan juga pastinya menjadi keprihatinan warga sekolah.

“Untuk menekan lajunya goyang Bento dan DJ SDN Contoh Maumere  melaksanakan salah satu program menarikan Tarian Daerah seperti Rokatenda dari Sikka, Gawi dari Kabupaten Ende dan Ja’i dari Kabupaten Ngada,” ujarnya kepada Ekora NTT Selasa (9/8/2022).

Menurut Alce, ketiga tarian daerah yang ditarikan bersama setiap Sabtu pertama dalam bulan merupakan budaya SDN Contoh Maumere dan sebagai salah satu program literasi budaya.

iklan

“Tujuan dari program ini agar siswa dapat melestarikan budaya nenek moyang yang merupakan bagian budaya bangsa. Juga untuk menahan derasnya goyangan Bento dan DJ di kalangan generasi muda saat ini,” ungkapnya.

Pembiasan PPK dan Literasi

Kepsek Maria juga membeberkan, untuk Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam bidang Religius, siswa juga berdoa spontan sesuai dengan agamanya masing-masing dan dilaksanakan secara bergilir dari Kelas I sampai dengan Kelas VI.

Anak-anak saat berliterasi di depan teman-teman sekolah dan para guru/Ekora NTT

Di lain sisi, untuk menanamkan rasa nasionalis yang tinggi, tambah Maria, siswa ditugaskan menjadi dirigen lagu Indonesia Raya dan Lagu Nasional lainnya dari Hari Senin sampai Jumat. Sementara hari Sabtu siswa membawakan lagu “Terima kasih Guru”.

Tidak hanya itu, untuk mendukung Literasi, Maria bilang siswa ditugaskan untuk bisa membawakan cerita yang pernah dibaca atau didengar (narator), mendeklamasikan puisi, presenter cilik, lektor/lektris, dan bintang iklan.

Setiap Sabtu, katanya lagi, siswa terlibat dalam kegiatan Baca Kitab Suci sesuai agama masing-masing dan menceritakan kembali isi pesan kitab suci.

Ada juga motivator cilik yang memotivasi warga SDN Contoh Maumere dengan yel-yel dan berbagai macam tepukan.

“Muara dari semua kegiatan ini untuk membentuk karakter, dan kepribadian sehingga menjadi siswa yang bermoral dan berakhlak,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komite SDN Contoh Maumere Johanes Berchmans menyampaikan apresiasi terhadap program Sabtu pertama dalam bulan dan merupakan sebuah pendidikan yang baik untuk anak cucu ke depannya.

“Rokatenda, Gawi dan Ja’i merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan jangan sampai punah,” tegasnya.

Sedangkan goyang Bento, menurut penilaian Sekretaris Dinas Perindustrian Perdagangan dan UMKM Sikka, merupakan tarian atau gerakan yang sama sekali tidak memiliki nilai budaya dan terkesan tidak pas dengan nilai-nilai budaya.

“Mungkin orang menilai saya tidak modern tapi yang saya saksikan goyang Bento sama sekali tidak sopan dan dapat merusak mental anak cucu kita,” pungkasnya.

TERKINI
BACA JUGA