Semangat Literasi di Balik Ujian KIR SMP Seminari Bunda Segala Bangsa

Menurut Romo Agus, siswa SMP Seminari BSB sebelumnya sudah memiliki semangat berliterasi, walaupun belum semuanya.

Maumere, Ekorantt.com – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Seminari Santa Maria Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere mengadakan ujian karya ilmiah remaja (KIR) bagi siswa kelas IX pada Selasa, 14 Mei 2024.

Ujian ini akan berlangsung hingga Kamis, 16 Mei 2024 dan diikuti oleh 56 siswa yang terbagi ke dalam 14 kelompok.

Kepala Sekolah SMP Seminari BSB Romo Agustinus Yeremias Pitang mengatakan, program KIR menjadi program rintisan karena baru pertama kali diadakan di tingkat SMP Seminari BSB. Program ini dibuat sebagai nilai akhir semester 6, juga sebagai salah satu syarat kelulusan.

“Kita mempersiapkan mereka, sehingga ketika masuk SMA nanti mereka sudah terbiasa dengan karya tulis ilmiah remaja ini,” kata Romo Agus kepada Ekora NTT.

iklan

Hal senada juga disampaikan oleh Kaur Kurikulum SMP Seminari BSB, Agustina Dewi Sao. Dewi mengatakan program KIR bertujuan untuk melatih siswa membaca dan menulis, serentak untuk mengasah kemampuan literasi peserta didik.

Seminari BSB merupakan lembaga pendidikan calon Imam Katolik dengan sistem linear dari SMP ke SMA. Menurut Romo Agus, pertimbangan diadakannya KIR juga berangkat dari pengalaman beberapa siswa kelas XII dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami kesulitan ketika menulis karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan.

Tingkatkan Literasi

Romo Agus menjelaskan, program KIR bertujuan untuk meningkatkan semangat literasi siswa. KIR mendorong siswa untuk senantiasa membaca dan menulis, sehingga terbiasa ketika masuk di bangku SMA.

“Pengalaman kesulitan bagi beberapa siswa SMA dalam menulis karya tulis beberapa tahun terakhir mendorong kita untuk menerapkan KIR. Dengan itu, ketika masuk ke jenjang yang lebih tinggi, mereka sudah terbiasa,” kata Romo Agus.

Menurut Romo Agus, siswa SMP Seminari BSB sebelumnya sudah memiliki semangat berliterasi, walaupun belum semuanya. Para siswa “sangat suka masuk perpustakaan, walaupun kebanyakan untuk membaca buku fiksi.”

Semangat Literasi di Balik Ujian KIR SMP Seminari Bunda Segala Bangsa_1
Pose bersama usai ujian KIR

“KIR akan mendorong mereka untuk mulai membaca buku-buku non fiksi, buku ilmiah.”

Dampak besar program KIR, jelas Romo Agus, akan menyentuh siswa-siswa di kelas 7 dan kelas 8.

“Ketika adik-adik di kelas 8 dan kelas 7 melihat kakak-kakak mereka ujian KIR, mereka sudah punya bayangan bahwa nanti ketika kelas 9 mereka juga akan buat KIR. Sehingga mau tidak mau mereka mulai membaca, memahami apa yang mereka baca, dan mulai melatih menulis.”

Romo Agus menjelaskan, walaupun penerapan program ini dilakukan per kelompok, akan tetapi masing-masing orang dituntut untuk menguasai materi yang mereka tulis.

Salah satu siswa kelas IX yang telah menyelesaikan ujian, Yoseph Nong Polce mengatakan penulisan KIR yang mereka lakukan selama dua bulan belakangan ini memang sangat membantu untuk mengasah kemampuan literasi mereka.

“Walaupun sebelumnya, kami hanya diberitahu untuk membuat makalah, tetapi kemudian kami dilatih untuk membuat KIR sampai kami tahu cara-caranya,” kata Polce.

“Kami memang dibagi per kelompok. Tapi masing-masing kami bertanggung jawab, kami harus menguasai materi, karena akan ditanya satu per satu.”

Jadi Program Unggulan

SMP Seminari BSB sejak tahun 2021 menjadi salah satu sekolah penggerak di Kabupaten Sikka. Sebagai sekolah penggerak, barang tentu menjadi contoh yang baik bagi sekolah-sekolah lainnya.

Romo Agus mengatakan, program KIR ke depannya akan menjadi salah satu program unggulan di SMP Seminari BSB. Alasan menjadikannya program unggulan, katanya, karena memberikan dampak positif yang besar bagi peserta didik.

“Belum banyak SMP lain yang membuat KIR sebagai salah satu assessment dalam menentukan kelulusan siswa,” kata Romo Agus.

Walaupun hendak dijadikan program unggulan, jelas Romo Agus, pihak sekolah masih harus melakukan evaluasi terhadap penerapan KIR.

“Kita perlu evaluasi untuk menimbang positif dan negatifnya. Kalau baik, pasti akan dilanjutkan.”

“Kalau saya lihat dari pelaksanaan hari ini, sangat banyak positifnya.”

Terhadap pelaksanaan KIR sebagai rintisan, Romo Agus menjelaskan, pihaknya menemui beberapa tantangan seperti metodologi yang masih bervariasi dan butuh dipelajari untuk dikembangkan dalam penulisan KIR berikutnya, semangat literasi siswa yang belum semuanya merata, serta masih ada beberapa pendidik yang masih harus ditingkatkan literasinya.

“Selebihnya, semuanya sudah baik. Fasilitas penunjang juga sudah lengkap, seperti lab komputer yang cukup memadai,” ujarnya.
“Saya sebagai kepala sekolah mengharapkan agar program ini bisa tetap berlanjut.”

Irisan dengan Status Seminari

Program KIR beririsan dengan semangat yang dihidupi di Seminari Bunda Segala Bangsa. Program itu memenuhi salah satu tuntutan dalam lembaga pendidikan calon imam yakni scientia (ilmu pengetahuan).

“Di Seminari kan menghidupi 5 S, itu sanctitas, sanitas, scientia, sapientia, dan socialitas.”

Aspek scientia, kata Romo Agus, terpenuhi melalui semangat literasi. Nalar kritis para siswa diasah, sehingga kelak mampu menjadi pewarta yang baik.

“Mereka ini calon imam. Sebagai calon imam mereka harus punya literasi yang baik,” pungkasnya.


Penulis: Risto Jomang

TERKINI
BACA JUGA