Balai Penjamin Mutu Pendidikan NTT Dukung ‘Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan’

Bunda PAUD Provinsi NTT Sofiana Milawati Kalake mengharapkan dukungan dan kolaborasi semua pihak untuk 'Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan'  di NTT.

Kupang, Ekorantt.com – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT mendukung ‘Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan’.

Hal itu ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama dan perjanjian kerja sama (PKS) dengan empat kabupaten di Kupang pada Senin, 3 Juni 2024.

Keempat kabupaten tersebut yakni; Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Sumba Timur. Perjanjian kerja sama melibatkan Southeast Asian Ministers Of Education Organization Regional Center For Early Childhood Care Education and Parenting (Seameo Ceccep).

BPMP NTT juga melakukan penandatanganan kemitraan bersama tiga mitra pembangunan bidang pendidikan di NTT, yakni Yayasan Rumah Literasi Cakrawala, Yayasan Pustaka Pensi Indonesia, dan Yayasan Tunas Aksara untuk bidang literasi dasar, pemulihan pembelajaran, dan penerapan pembelajaran enam fondasi dasar.

iklan

Kerja sama diarahkan juga untuk program PAUD holistik integratif dan parenting demi pencegahan stunting. Penandatanganan kerja sama ini berlaku tiga tahun ke depan.

Kepala BPMP Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Herdiana mengatakan, salah satu target dalam penerimaan peserta bidik baru (PPDB) tahun ajaran 2024/2025 adalah 100 persen SD tanpa tes baca, tulis, dan berhitung (Calistung).

Ada target lainnya yakni, PAUD dan SD wajib melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) selama dua minggu dan penerapan pembelajaran enam fondasi dasar di PAUD dan SD dalam kurikulum dan pembelajaran.

Ia mengatakan, jumlah SD di Provinsi NTT yang terlapor pada 2023, sebanyak 5.221 dari total 47,381 SD yang terpantau melakukan PPDB.

Hanya sekitar 717 atau 13,73 persen yang tidak melakukan tes Calistung dan sebanyak 222 sekolah atau 4,25 persen melakukan tes Calistung.

Sementara yang tidak terkonfirmasi atau tidak ada laporan sebanyak 4.282 sekolah atau 82,01 persen.

Begitu juga dengan MPLS, hanya 35 persen sekolah yang mengunggah aksi nyata di platform Merdeka Mengajar (PMM), dan sekitar 60 persen sekolah yang melaporkan menerapkan pembelajaran enam fondasi dasar.

“PR (pekerjaan rumah) kita di NTT masih sangat berat. Dari data yang ada, capaian kita di tahun 2023 masih sangat kecil,” kata Herdiana.

Hingga kini, menurut dia, tentu saja harus berusaha lebih keras membangun optimisme agar bisa mengejar target yakni mencapai angka 100 persen sekolah tanpa tes Calistung, terutama di sekolah-sekolah negeri pada tahun 2024.

Sedangkan untuk sekolah swasta, tetap diimbau kepada pengelola yayasan atau kelompok masyarakat untuk bersama-sama mencapai tiga program prioritas gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan ini.

“Karena dampak dari PPDB ini akan berpengaruh pada proses belajar dan hasil belajar anak-anak kita. Dan akhirnya juga berpengaruh kepada rapor pendidikan  dan SPM (standar pelayanan minimal) kita di NTT. Kita harus memastikan pendidikan di NTT harus berkualitas dan berkelanjutan,” jelas Herdiana.

Hal senada disampaikan Direktur PAUD Dikdasmen, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Komalasari, saat memaparkan materi “Peran Pokja Bunda PAUD dalam Melakukan Advokasi Mendukung Gerakan Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan” di Kupang, pada Selasa, 4 Juni 2024.

Ia mengatakan, Direktorat PAUD Dikdasmen, Kemendikbudristek memiliki tiga target prioritas untuk mendukung gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan.

Pertama, kata Komalasari, harus memastikan 100 persen tidak melakukan tes Calistung saat menerima pendaftaran anak masuk ke SD.

Kedua, untuk mengenal lingkungan sekolah secara utuh, PAUD dan SD wajib melakukan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) selama dua minggu. Hal ini untuk mengobservasi dan memberi gambaran kepada anak, guru, dan orangtua tentang lingkungan sekolah dan dukungan ekosistem yang diperlukan

Ketiga, satuan pendidikan, baik di PAUD dan SD harus menerapkan pembelajaran yang berfokus kepada enam kemampuan dasar agar tumbuh kesenangan belajar bagi anak dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Kita menyebut transisi ini menjadi gerakan bersama, karena kita perlu melakukan secara bergotong-royong, termasuk bersama Bunda-Bunda PAUD di semua tingkatan,” papar Komalasari.

Bunda PAUD Provinsi NTT Sofiana Milawati Kalake mengharapkan dukungan dan kolaborasi semua pihak untuk ‘Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan’  di NTT.

“Dengan segala kesanggupan kita masing-masing, kita bisa mendukung dan menyelesaikan masalah-masalah pendidikan dan kesehatan anak-anak kita di NTT,” pungkas Milawati.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA