Kupang, Ekorantt.com – Elisabet Ose Boro, 43 tahun, berkata, setiap kali berkonsultasi dengan petugas Kopdit Pintu Air, ia selalu mendapat penjelasan dan solusi yang memuaskan, termasuk saat mengalami keterlambatan pembayaran.
Ia juga menilai sistem Sisa Hasil Usaha (SHU) di Kopdit Pintu Air lebih menguntungkan karena anggota memperoleh SHU dari aktivitas menabung maupun meminjam, berbeda dengan sejumlah koperasi lain yang dikenalnya.
Diketahui, Elisabet merupakan ibu satu anak asal Adonara, Flores Timur menjadi penyedia jasa sewa motor di Pelabuhan Pelni Helong Kupang.
Awalnya Elisabet datang di Kupang hanya untuk mengikuti sang suami yang bekerja di Pelindo. Untuk menambah pendapatan keluarganya, Elisabet mulai berjualan air dan makanan ringan di Pelabuhan Helong.
”Sejak saya datang di Kupang tahun 2003, saya mulai berjualan di sini guna mendapat tambahan penghasilan untuk dukung ekonomi rumah tangga kami,” ujar Elisabet saat ditemuai Ekora NTT di tempat usahanya, Rabu, 15 Juli 2026.
Pada awal merintis usahanya, Elisabet berjualan menggunakan gerobak dan meja kecil. Setiap pagi ia mendorong perlengkapan dagangnya ke pelataran pelabuhan.
Sore harinya, seluruh barang dikemas kembali ke dalam dus dan dibawa pulang ke rumah kos yang tidak jauh dari pelabuhan. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari.
Ia kemudian mengenal Kopdit Pintu Air tahun 2013. Berkat motivasi dari menajemen Kopdit Pintu Air Elisabet merubah pola pikirnya. Ia menjadi anggota koperasi bukan hanya untuk menabung, tetapi juga meminjam.
Berkat pengamatannya bila anak buah kapal (ABK) berlabuh dan hendak turun untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan di Kota Kupang sering menanyakan motor untuk disewakan.
Elisabet pun memberanikan diri mengajukan pinjaman pertama untuk membeli sebuah sepeda motor Honda Bit.
Dari sepeda motor itu Elisabet dapat meraup keuntungan yang lumayan. Karena selau saja dipake oleh ABK yang tutun kapal karena mereka telah mengetahui ada orang yang sediakan motor untuk disewakan.
Penyewaan sepeda motor tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar karena selalu diminati anak buah kapal (ABK) yang telah mengetahui layanan itu.
Melihat tingginya permintaan, setelah melunasi pinjaman pertamanya, Elisabet kembali mengajukan pinjaman yang lebih besar untuk membeli dua unit sepeda motor tambahan. Kini, ia memiliki tiga unit sepeda motor yang siap disewakan setiap hari.
Elisabet mengambil satu unit yang disewakan seharga Rp1.300.000 sebulan. Di tempat ini Elisabet menamai Kios Adonara. Di dalamnya ditata tambahan etalase lemari kaca dan tempat untuk menyediakan air panas untuk memasak mie dan telur bila ada yang memesannya. Juga aneka minuman ringan dan pulsa.
Ia mengakui pendapatan yang diperolehnya dari dua jenis usaha itu sudah cukup untuk membayar sewa tempat dan mengembalikan angsuran pinjaman secara teratur selain untuk biaya hidup harian. Bahkan sisa keuntungannya, Elisabet telah membeli sebidang tanah yang di atasnya telah dibangun kos-kosan sebanyak lima unit.
”Puji Tuhan pak dari usaha yang saya tekuni ini selain saya bayar kewajiban di koperasi dan kepada PT Pelni saya bisa beli tanah dan sudah bangun kamar kos sebanyak empat unit. Dari kos itu sebulan saya pungut biaya sewa Rp400.000,” ujar Elisabet
Di balik geliat usahanya, ia mengaku sangat senang dan puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh staf manajemen Kopdit Pintu Air.
