Kupang, Ekorantt.com – Abjon Seran Roman, 40 tahun, sukses mengembangkan bisnis sembako online hingga beternak ayam di Desa Nitneo, Kecamatan Alak, Kabupaten Kupang.
Cerita suksesnya berawal saat Abjon bergabung menjadi anggota dan mengakses modal di Kopdit Pintu Air. Ia kemudian mengembangkan usaha jual beli handphone dan berjualan sembako online.
“Kopdit Pintu Air memang luar biasa, hanya bermodal kepercayaan saya diberi pinjaman,” tutur Abjon kepada Ekora NTT di Kupang pada pertengahan Juli 2026 lalu.
Khusus usaha penjualan sembako, ia menyasar pelanggan perantau yang bekerja di Malaysia, Kalimantan, Jakarta, Bali, dan Papua. Ia menawarkan sembako kepada mereka yang hendak memberikan oleh-oleh untuk kerabat di Pulau Timor.
“Rata-rata mereka itu saya punya teman yang merantau. Kalau mau kirim sembako, mereka beli di saya saja to.”
Niat untuk membuka usaha sembako secara online, kata Abjon, lahir karena kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan oleh para perantau. Mereka biasanya kesulitan mengakses sembako, apalagi dengan harga yang tinggi.
Abjon yang pernah merantau ke Kalimantan, punya pengalaman bagaimana keluarganya kesulitan secara ekonomi. “Contoh saja para perantau yang memilih kerja di perkebunan sawit di Kalimantan, tapi bagaimana dengan keluarga mereka di kampung.”
Abjon menerapkan cara kerja yakni by name by address. Ia mencatat data lengkap perantau. Mulai dari nomor kontak, tempat kerja, dan alamat detail keluarga di kampung. Hal ini membantu proses distribusi barang agar tepat sasar. Sejauh ini, sudah ada 100 pelanggan perantau dari Kabupaten Belu dan sekitarnya yang memanfaatkan jasanya.
Ia tak bekerja sendirian. Istrinya Mefi Peloedo (37), ikut membantu agar usaha ini berjalan lancar. Lambat laun, jumlah pelanggan bertambah. Abjon memperkerjakan karyawan dan menyiapkan komputer untuk mencatat transaksi secara baik.
Kerja Abjon bukan tanpa tantangan. Setiap usaha pasti ada risiko. Apalagi kalau skala usahanya semakin besar, pasti semakin tinggi pula tingkat risikonya.
“Saya pernah mengalami penundaan membayar 3-5 bulan, bahkan ada yang lebih fatal orangnya kabur tanpa meninggalkan nomor kontak dan alamat tempat kerjanya yang baru. Tapi saya tidak putus asa. Saya kerja terus, karena ada hikmah yang saya dapat menolong orang yang sedang susah,” tutur Abjon.
Ketekunan dan keuletan Abjon berbuah manis. Usaha yang ia kembangkan mampu mengubah nasib keluarganya. Kini dia telah memiliki rumah pribadi, mobil pikap, mobil tangki air, dan lahan peternakan ayam petelur.
Ia berterima kasih kepada Kopdit Pintu Air yang telah mengantarnya sampai pada titik ini. Dan berharap Kopdit Pintu Air tetap memperhatikan orang-orang kecil terutama yang kekurangan modal dalam mengembangkan usaha produktif.
Ketua Komite Kopdit Pintu Air Cabang Alak, Bibiana Tasi mengatakan Abjon bergabung di titik kumpul Alok pada 2015. Hanya berbekal kepercayaan, ia mendapatkan kemudahan dalam mengakses pembiayaan dari koperasi.
“Kami percaya bahwa dia seorang yang bertanggungjawab. Dan itu terbukti ia memenuhi kewajibannya setiap bulan dengan mengangsur pinjaman,” ujarnya.

