Borong, Ekorantt.com – Komite dan manajemen Kopdit Pintu Cabang Kisol menyerahkan bantuan sembako kepada korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur.
Bantuan diserahkan kepada warga pengungsi yang terpusat di posko dekat rumah jabatan Sekda Manggarai Timur pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Ketua Komite Kopdit Pintu Air Cabang Kisol, Noviani Sero menuturkan, bantuan yang disalurkan berupa beras, gula, mi instan, telur dan minyak goreng.
Selanjutnya, kata Noviani, bantuan sembako akan diantar oleh pengurus komite dan staf manajemen cabang ke masing-masing kelompok titik kumpul di Kabupaten Manggarai Timur.
“Hampir semua warga di Pota, Dampek, Reo, Lengko Ajang merupakan anggota Kopdit Pintu Air,” katanya.
Bantuan pertama kali dari Kopdit Pintu Air menyasar posko pengungsian terpusat, yakni di dekat rumah jabatan Sekda Manggarai Timur.
“Nanti secara bertahap kami akan antar lagi ke titik kumpul. Biar komite titik kumpul yang akan koordinasi guna membaginya kepada warga,” ujar Noviani.
Ketua Pengurus Pusat Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano berkata, penyerahan bantuan merupakan salah satu tindakan nyata dari moto Kopdit Pintu Air ‘kau susah aku bantu, aku susah kau bantu’.
“Moto itu bukan sekadar retorika belaka, tetapi harus diwujudnyatakan dalam tindakan nyata,” tutur Jano.
Bantuan tersebut bersumber dari dana solidaritas yang dikumpulkan secara rutin oleh manajemen dan sumbangan segenap karyawan Kopdit Pintu Air.
Selanjutnya, penggalangan donasi juga ditujukan kepada anggota Kopdit Pintu Air yang berada di luar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui kantor-kantor cabang Kopdit Pintu Air yang tersebar di seluruh Indonesia.
Mengingat seluruh kabupaten di Pulau Flores terdampak guncangan gempa, bantuan yang terkumpul akan disalurkan secara bertahap kepada masyarakat terdampak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di masing-masing wilayah.
Jano berharap agar korban tidak melihat nilai bantuan, tetapi hal itu sebagai bentuk solidaritas lembaga atas penderitaan warga.
“Kita ini lembaga yang merupakan kumpulan orang-orang kecil yang dikenal dengan nelayan, tani, ternak, dan buruh yang ikut merasakan dengan derita sesama,” tutup Jano.

